Matahari, Nggak Pake Awan

Indramayu 2008
Indramayu 2008

Tahun ini adalah tahun kunjungan ke sawah. Dari beberapa kegiatan di kantor, ada dua yang utama, dan keduanya adalah bermain di sawah. Salah satu dari kedua kegiatan ini mengambil lokasi di daerah persawahan Indramayu dan Subang, Jawa Barat.

Main di sawah saat kecil pada jaman dahulu kala adalah kesenangan. Dan setelah sekian (puluh) tahun gak pernah main di sawah, akhirnya “terpaksa” juga mengarungi sawah di bentang sawah nan luas dan… panas…!!!

Kali ini yang dilakukan adalah mencari padi yang mempunyai umur berbeda-beda. Perbedaan umur tentunya terjadi karena perbedaan waktu tanam. Dan untuk daerah lumbung padi seperti Indramayu dan Subang, pada beberapa daerah terdapat bentang sawah yang mempunyai keberagaman usia padi. Hal ini terjadi karena di daerah tersebut terdapat irigasi teknis yang airnya tersedia sepanjang tahun. Sehingga saat musim kemarau pun tetap dapat dialiri dengan baik. Padi masih dapat tumbuh sesuai harapan.

Apa yang dilakukan setelah rombongan padi yang dicari ditemukan? Yang kemudian dilakukan adalah merekam nilai spektralnya. Untuk keperluan ini, sebelum berangkat ke bentang sawah maka sudah disiapkan berbagai alat bantu rekam.

Alat pendukung
Alat pendukung

Peralatan yang digunakan adalah Fiber Optic Spectrometer dari OceanOptics jenis USB4000. Spectrometer ini mempunyai julat rekam panjang gelombang dari 200 – 1.100 nm, dan berukuran 89.1 mm x 63.3 mm x 34.4 mm dan mempunyai berat 190 gram. Cukup ringan dan mudah digenggam tangan. Spectrometer ini juga dilengkapi dengan Collimating lens, dan White Reflectance Standard dengan Spectralon.

Selain itu peralatan yang digunakan adalah Mini-laptop (bawa 2 buah: tablet PC Samsung Q1 dan eeePC Asus; batere masing-masing tahan sekitar 2 jam) sebagai pengendali perekaman (dengan peranti lunak tertentu) dan tempat penyimpan hasil (plus eksternal HD sebagai pemyimpanan backup hasil), GPS sebagai perekam koordinat lokasi, dan kamera dijital untuk merekam obyek yang direkam spektralnya.

Perburuan sektral padi ini dimulai pada bulan Mei lalu dengan mengambil sasaran lokasi pertama adalah di Kabupaten Indramayu. Ini kali pertama penggunaan alat spectrometer USB4000 langsung di lapang. Pengalaman sebelumnya adalah menggunakan spectrometer USB2000. Dan seperti “biasa”, pengalaman pertama selalu berkesan, begitu juga dengan pemakaian USB4000 ini, dimana terjadi kesalahan prosedur pemakaian, sehingga dua hari pertama (di tengah terik matahari, gak perlu dibayangkan “adem”nya…) yang dihasilkan adalah gatot alias gagal total. Ini karena tidak digunakannya collimating lens pada spectrometer. Jadi ibaratnya, menggunakan kamera dijital cuanggih tapi pada saat memoto gak pake lensa…

Perekaman spektral
Perekaman spektral

Penentuan lokasi perekaman dilakukan dengan syarat utama adalah bentang sawah memiliki keragaman usia tanam padi, dan yang ditanam adalah varitas sejenis. Saat di Kabupaten Indramayu, dengan petunjuk dari “tuan rumah” yang diwakili oleh pak Nandang Nurdin dari Dinas Pertanian, maka lokasi yang dipilih adalah Kecamatan Anjatan dan Haurgeulis. Di kecamatan ini varitas padi yang dominan adalah Super Toy Ciherang.

Dan saat waktunya tiba, di tengah bentang sawah yang luas dan (agak) menghijau, prosedur perekaman yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Memastikan spektrometer telah terkoneksi baik, via kabel USB, dengan komputer (mini-laptop), dan telah dikenali oleh peranti lunak (dalam hal ini adalah SpectraSuite, bawaan dari USB4000).
  • Melakukan pengukuran referensi putih dan hitam, perhatikan kondisi cuaca.
  • Melakukan pengukuran pada obyek yang dimaksud, dengan memerhatikan:
    • Sudut sensor terhadap bidang datar berkisar 45 – 90 derajat.
    • Obyek tidak tertutup bayangan (alat ataupun benda lain).
    • Jarak sensor ke obyek sekitar 10 – 20 cm.
    • Sensor diarahkan pada obyek sepenuhnya.

Saat di Anjatan dan Haurgeulis ini sempat direkam beberapa tahapan umur padi. Umur padi varitas Ciherang adalah sekitar 115 hari, dibagi menjadi empat tahapan utama, yaitu Vegetatif-1 (disebut Stage-1), Vegetatif-2 (S-2), Generatif (S-3), dan Ripening (S-4). Masing-masing tahapan mempunyai kekhasan tersendiri.

Saat merekam spektral Vegetatif-2, Generatif dan Ripening, semua dapat dilakukan dengan lancar. Tidak demikian halnya saat merekam Vegetatif-1. Karena pada saat Vegetatif-1, kondisi sawah adalah baru terbentuk alias pematang sawah baru dibangun dan air masih banyak menggenang dimana-mana. Kondisi ini menyulitkan tim saat mendekati sasaran. Alas kaki menjadi masalah, dimana kalo pake sepatu ya terbenam lumpur, kalo pake sandal ya bisa hilang dalam rekatan lumpur yang membenam kaki cukup dalam. Jadi yang paling aman adalah kaki tanpa alas. Bahkan untuk beberapa jalur harus dilalui dengan tanpa melewati pematang, alias nyebur ke sawah. Kenapa mesti repot begini..? Ini karena untuk “menyelamatkan” peralatan yang dibawa. Spesifik dan “mahal”nya alat menjadi pertimbangan: mending nyebur sawah dengan aman dari pada kejebur sawah dan peralatan “hancur”… hehe…

Ohya, tim survey saat itu adalah saya, mbak Lisa, dan mas Gatot. Dan, seperti sudah disebutkan diatas, dibantu dan dipandu dengan baik sekali oleh pak Nurdin.

Setelah Indramayu, sasaran berikutnya adalah daerah Subang. Di Kabupaten Subang, kecamatan yang mempunyai bentang sawah dengan berbagai tahapan usia adalah di daerah Binong dan Tanjungsari. Kali ini tim dibantu oleh pak Sukma Permana dari Dinas Pertanian Kabupaten Subang, yang dengan baik sekali menjadi pemadu kami dalam mencari lokasi yang diinginkan.

Beberapa foto di lapang bisa dilihat di Facebook.

Obyek yang direkam
Obyek yang direkam

Pada bulan Agustus lalu, tim kembali ke sawah. Kali ini dengan kepercayaan diri lebih bagus, terkait dengan penguasaan alat dan pengetahuan prosedur perekaman. Beberapa kesalahan saat di lapang bulan Mei lalu sudah diantisipasi lebih baik.

Daerah sasaran adalah Kecamatan Anjatan dan Haurgeulis di Kabupaten Indramayu, lokasi yang sama saat dilakukan perekaman spektral padi pada bulan Mei lalu. Dan kali ini tim hanya bertiga, yaitu saya, mbak Lisa (yang didatangkan khusus dari Yogya, atas ijin mas Projo, ehm) dan pak Nandang Nurdin (terimakasih untuk bu Popi yang telah mengijinkan pak Nurdin memandu kami lagi).

Di perbatasan Anjatan dan Haurgeulis akhirnya kami terdampar beberapa hari untuk mengukur spektral beberapa tahapan pertumbuhan padi dan juga spektral dari beberapa obyek yang ada dilingkungan yang sama.

Obyek lain, selain padi, yang kami rekam adalah: rumput, jerami, air (di sekitar padi, bukan di tersier atau saluran), tanah kering dan lumpur.

Obyek sekitar dari obyek utama adalah penting untuk diketahui juga nilai spektralnya. Hal ini bisa menjadi masukan yang berguna saat dilakukan pemrosesan, misalnya, dalam analsis subpixel dari suatu data citra baik hyperspectal maupun multispektral.

Hasil sementara dari perekaman spektral empat tahapan tanaman padi pada daerah Anjatan dan Haurgeulis adalah seperti pada gambar berikut:

Rekaman spektral padi pada 4 tahapan umur
Rekaman spektral padi pada empat tahapan umur

Hasil diatas belumlah hasil akhir, masih memerlukan “polesan” sebelum bisa dimanfaatkan sebagai “pustaka spektral” dan digunakan sebagai acuan dalam pemrosesan citra. Dari hasil sementara cukup terlihat perbedaan yang jelas antartahapan umur padi yang terukur di lapang.

Selain pengukuran yang dilakukan dengan super serius, karena memang berpacu dengan awan (pengukuran harus pada kondisi bebas awan), maka juga dilakukan pengamatan lingkungan dengan wawancara pada beberapa petani yang bertemu di lapang.

Saat awan berjalan melintas di angkasa, maka pengukuran segera dihentikan. Dan inilah saat istirahat, untuk sekedar makan makanan ringan dan meneguk cairan segar dari botol minuman. Lupakan dulu makan siang, yang baru bisa dinikmati selepas jam 14. Sempitnya waktu rekam (4 jam) dan kondisi alam menjadi pembatas yang sangat keras.

Dan, saat istirahat seperti ini, maka lewatnya angin di bentang sawah nan luas menghadirkan suasana yang sangat indah. Kuatnya hembusan menggoyang ribuan batang dan daun padi untuk saling bergesekan dan menghadirkan suara yang unik.

Inilah keindahan suara alam, yang menurut versi mbak Lisa, seperti mendengar alam yang sedang berdzikir (merinding lho…). Sila baca di tulisan mbak Lisa: rest allday long.

Sang Pencipta selalu menghadirkan keindahan di belahan manapun dunia ini, dengan berbagai cara.

Aktifitas di lapang
Aktifitas di lapang

“Panas”nya udara dan cerahnya “langit”, itulah yang kami cari saat di lapang.

Karena saat pengukuran adalah harus pada kondisi yang terbaik. Yang dikatakan terbaik disini adalah saat kondisi sinar matahari terhadap daerah studi relatif tanpa halangan alias bebas dari awan. Waktu pengukuran terbaik adalah dari jam 10 hingga jam 14.

Jadi, saat teriknya sinar matahari itulah saat terbaik…

Terbaik bagi sensor dalam merekam, terbaik juga dalam melancarkan pori-pori kulit yang ditandai keringat keluar dengan lancar… hehehe… Saat puanasnya dalam kondisi top lah.

Jadi pada saat perekaman ini yang diperlukan “cuma matahari, gak pake awan” (seperti kalo pesen makanan, “pesen bakso, gak pake lama”…)
)

Teriring ucapan terimakasih untuk tim yang solid: mbak Lisa, mas Gatot, pak Nurdin, pak Sukma, dan driver jagoan, Pak Bambang.

Cerita lain yag terkait ada di blog mbak Lisa: Merekam Spektral Padi.

Posted from West Java, Indonesia.

11 thoughts on “Matahari, Nggak Pake Awan”

  1. Tukar-menukar data boleh kah? Kami juga mengukur spektral padi, juga dengan spektro-radiometer. Hanya saja masih tipe “urdu”. Supaya jadi bahan perbandingan. Boleh dong boleh 😀

  2. Spectralnya kayaknya lebih bagus yah Pak, daripada waktu kita ngukur di Mangrove dengan USB 2000? Kalo yang ini terlihat jelas saat masuk NIR spectral nya langsung menaik tajam…”Peak” di channel Green nya juga jelas. Sementara yang di Mangrove….agak aneh…hehehheh.

  3. Lis, hayo ketauan ya… kabur dari Yk
    mas firman, sila mas, tapi ntar dulu yah, saya mau olah lagi. kalo sudah siap kita bisa berbagi.
    mbak ayya, keliatannya begitu, hasilnya lebih memuaskan. apa perlu kita ulang lagi keluyuran di estuari perancak..? ask to your Bos yah..
    : )

  4. Matahari ga pake awan bagus juga pak Har…
    Kebetulan di kantor kami BBPOPT juga ada pilot projectnya BPPT “Worksshop Radar cuaca untuk Peramalan OPT”.
    Kalau ga keberatan pak Hartanto bisa menulis di Buletin Peramalan, kalau yang nulis ahlinya kan ‘OK punya’ . Contoh Buletin Peramalan sudah aku kasihkan ke mbak Reni.
    Ilmu dari BPPT sangat membantu sekali dalam peningkatan produksi padi.
    Ga pakai ilmu canggih P2BN (Program Peningkatan Beras Nasional) 2 juta ton bisa berhasil apalagi disentuh dengan ilmu canggih dari BPPT.
    Terima kasih kepada Tim dari BPPT.
    Salam ….

  5. pak Urip, akhirnya kesasar juga disini yah hehe…, saya coba corat-coret sedikit untuk Buletinnya pak Urip, nanti saya coba kontak mbak Reni untuk nyontek isi artikel lain di Buletin. semoga pertemuan kemarin bisa berguna bagi semua.
    selamat tugas mengintip OPT Duren di Pekalongan…
    : )

  6. Saya menunggu koreksi buletin dari Bapak tentang AWS, nanti diralat sekalian laporan workshop “Radar Cuaca utk Peramalan OPT”
    Ekspedisi “Pest List” OPT Durian sudah selesai pak, tinggal nulis di web, kalau yang manggis sdh aku kasih judul “Berburu Queen of The fruit” silahkan intip di website http://saungmeeting.blogspot.com
    Untuk pest list Durian “Berburu Sang Raja Buah” disusul episode “Berburu Naga Merah” (maksudnya Buah Naga).
    Tolong ya pak dikoreksi dan dikritisi, aku demen dikritik kok, biar tambah maju.
    Senang berjumpa dengan bapak.

  7. wah…kangen sama Pak Hartato neh…pengen coba bikin peta serangan OPT pake ILWIS tapi lupa lagi caranya euy….saya coba bikin bareng Pak Rifki dari BPOPT indramayu….neh lagi mencoba buka-buku lagi….oya,Mba Lisa udah lulus belum?

Leave a Reply