Category Archives: Cerita Perjalanan

Perjalanan ke Negeri di Balik Bumi

Melintas samudera : )
Melintas samudera : )

Perjalanan selalu mengasyikkan bagi yang menyukainya. Banyak hal menarik dialami tentunya. Yang jelas harus mau repot dan kreatif menghadapi semua hal.

Kali ini saya, alhamdulillah, berkesempatan mengunjungi negeri di balik bumi. Dengan perbedaan waktu 12 jam dari total waktu sehari yang 24 jam berarti lokasinya pas berada di balik bumi nusantara.

Perjalanan yang panjang tentunya. Melelahkan pastinya. Tetapi akan banyak cerita hadir sebagai akibatnya.

Untuk perjalanan panjang ini saya mencoba membuat blog khusus dengan nama C2A atau Coming to America. Kenapa harus khusus? Karena cerita disana selalu sambung menyabung dan kait mengait yang tidak perlu lagi repot menerangkan hubungannya dalam tiap postingan.

Sedangkan blog ini, akan tetap mengalir sebagaimana biasa. Isinya tetap campur sari… 🙂

Yang berkesempatan waktu sila kunjungi blog C2A atau Coming to America ya.
)

Kupon Belanja Makanan di AIT

Kupon Belanja di AIT (1996).
Kupon Belanja di AIT (1996).

Tahun 1996, mondok beberapa hari di AIT (Asian Institute of Technology), yang berlokasi sekian kilometer dari Bangkok, Thailand. Salah satu yang asik adalah cara membeli makanannya.

Makanan Thai memang banyak yang enak, tapi nggak semua bisa dikonsumsi begitu saja. Demikian juga dilingkungan kampus AIT.

Di kampus ini disediakan tempat makan atau semacam “pujasera”. Beragam makanan ada disini. Terdapat juga “konter halal” yang menyediakan makanan dijamin halal. Setidaknya yang jualan adalah muslim dan memasang label halal di konternya.

Cara membeli makanan disini adalah menggunakan kupon belanja. Kita harus beli kupon dulu sebesar sekian bath. Dikupon terdapat angka-angka besaran tertentu yang menggambarkan besar nilai dalam bath.

Saat belanja makanan maka kita sodorkan saja kupon tersebut. Misalnya harga total adalah 6 bath maka angka 5 dan 1 pada kupon akan dicoret oleh si penjual.

Selain untuk belanja makanan di pujasera ini, kupon dapat juga dipakai untuk belanja di toko makanan kemasan. Misalnya untuk beli kudapan, mi instan atau minuman botol.

Sistem pembelian dengan kupon ini entahlah apakah masih berlaku saat ini. Mungkin sudah berubah pakai “uang plastik” atau yang lain.
)

Posted from Khlong Nung, Pathum Thani, Thailand.

Ada Sapi di Runaway Bandara

Landasan Bandara Olilit Saumlaki (2005).
Landasan Bandara Olilit Saumlaki (2005).

Ada sapi di landasan pacu (runaway) bandara? Bagaimana bisa? Bukankah itu daerah steril yang harus bebas dari semua aktivitas, terutama pelintasan, saat pesawat udara akan take-off atau landing?

Demikianlah seharusnya, kawasan bandara tentunya punya peraturan sangat ketat terutama terkait aktivitas pesawat terbang, karena ini menyangkut nyawa manusia yang tak ternilai harganya. Tetapi bagaimana mungkin ada binatang bisa masuk area terlarang tersebut?

Dari beberapa pengalaman memerhatikan lingkungan di sekitar bandara, secara tak khusus, saya melihat banyak sekali kemungkinan lolosnya pengawasan terhadap hewan saat mana seharusnya landasan pacu steril. Hewan ini bisa saja hewan ternak yang terlepas atau memang biasa dilepas oleh pemiliknya, sesuai dengan kebiasaan setempat. Dan lebih sering adalah hewan liar seperti babi atau kawanan babi yang memang hidup di sekitar bandara. Apalagi jika bandara belum dilengkapi dengan pagar yang cukup handal untuk menghalau hewan.

Jika bicara hewan liar, kejadian membahayakan terkait adanya hewan di landasan pacu tidak hanya terjadi di tanah air, tetapi juga di banyak bandara internasional. Bandara Charles de Gaulle di Perancis, contohnya, pun direpotkan oleh kawanan kelinci yang berkembang biak sangat cepat di dalam kawasan bandara, dan dapat mengakibatkan kecelakaan juga.  Bahkan, Charles de Gaulle harus memulai “Operasi Kelinci” untuk memerangi masalah tersebut. Alasannya adalah kelinci yang hidup di daerah berumput di dekat landasan pacu meninggalkan kotoran. Kotoran yang mengundang kedatangan tikus. Burung yang menukik ke bawah untuk memburu tikus. Dan pesawat lepas landas atau mendarat berada dalam bahaya karena burung dapat terhisap ke dalam mesin.

Saat berada di Bandara Olilit, Saumlaki, Maluku Tenggara Barat pada tahun 2005, saya sempat bermain di bandara dalam rangka mendukung operasi Tanimbar, yaitu perekaman citra terumbu karang dengan menggunakan sensor hyperspectral. Saat itu bandara lumayan sepi, karena penerbangan komersial hanya dua kali seminggu, yaitu hari Minggu dan Rabu saja.

Meskipun demikian, saat pesawat akan landing ataupun take-off, petugas bandara harus memastikan (secara manual, langsung ke landasan pacu) terkait dengan kemungkinan terjadi pelintasan hewan ternak ataupun liar yang (sedang) berada di sekitar bandara. Saya sempat mengikuti petugas dimana ia harus mengawasi dari ujung ke ujung landasan, dan bersiap dengan senjata untuk ditembakkan pada hewan yang akan melintas landasan saat mana pesawat segera akan take-off/landing.

Cukup mendebarkan, karena kemungkinan terjadinya pelintasan hewan tersebut bisa kapan saja dan secara tiba-tiba. Yang paling mengerikan adalah babi dimana dengan tubuh yang relatif kecil (dibandingkan sapi), gerakannya lebih cepat dalam memasuki kawasan landasan pacu. Petugas selalu siap dengan senjata, dan ini mirip di-film… ciyusss…

Mungkin saat ini kondisi di Bandara Olilit sudah semakin baik dari segi pencegahan pelintasan hewan ini (tentunya).

Lokasi Bandara Olilit pada Google Maps adalah sebagai berikut:

P: Bandara Olilit di Saumlaki.

 

_

Posted from Maluku, Indonesia.

Situ Buleud dan Pesta Petasan di Purwakarta

Sumber gambar: http://sweetclipart.com/
Sumber gambar: http://sweetclipart.com/

Beberapa letusan di udara Bogor malam ini mengingatkan saat bermalam di kota Purwakarta pada minggu pertama bulan Ramadhan tahun ini. Saat itu Hotel tempat menginap adalah hotel yang bersebelahan dengan Situ Buleud.

Situ Buleud adalah danau/situ di tengah kota Purwakarta, tempat yang teduh saat siang hari, karena ditumbuhi oleh pohon-pohon rindang di seputaran situ. Sore dan malam lokasi ini adalah tempat berkumpulnya anak muda dengan berbagai gaya.

Malam itu, setelah selesai santap malam, saya mencoba menikmati suasana Situ Buleud dengan mengitarinya. Jalan di depan Hotel telah penuh dengan kelompok-kelompok anak muda. Para penikmat nongkrong ini terlihat berkelompok-kelompok dan semua asik dengan mengobrol dan bermain gadget. Sementara itu motor, sebagai kendaraan sekaligus identitas kelompok berjajar parkir di tepi jalan dekat mereka.

Terlihat juga beberapa konvoi motor yang berputar kesana-kemari, entah maksudnya apa. Mencari lokasi nongkrong atau sedang mencari perhatian kelompok lainnya. Tidak terlihat suasana permusuhan, setidaknya malam itu.

Yang membuat saya sedikit terkesan saat berjalan di sekitar mereka adalah suasananya yang mengerikan. Lho..? Suasana tanpa permusuhan tapi mengerikan..?

Ya, karena mereka, hampir semua, kelompok bermain dengan petasan. Dar der dor suara petasan disana-sini. Petasan pun tidak hanya yang berledakan besar ke udara, tapi juga yang dilempar ke jalan. Beberapa kali saya harus berhenti sejenak karena ada petasan terlempar ke jalan yang akan saya lalui. Menunggu hingga petasan meledak, baru saya meneruskan langkah. Kehati-hatian saya meningkat karena, tentunya, saya tidak mau menjadi korban ledakan, sekecil apapun ledakannya, pada saat saya melintas.

Apakah “kemeriahan petasan” ini terjadi hanya dalam bulan puasa saja, atau memang sudah menjadi tradisi harian, entahlah. Yang jelas suasana ini mengurangi keberanian saya menjelajah seluruh lingkaran Situ Buleud.

Terus terang saya menyukai suasana ramainya anak muda di seputaran situ ini, tapi sekaligus juga tidak menyukai ledakan mercon, apalagi yang sengaja dilemparkan di tengah jalan umum. Berbahaya kan..?
)

Masjid Taqwa Metro dalam Kenangan

Masjid Taqwa Metro (2008)
Masjid Taqwa Metro (2008)

Masjid Taqwa Metro adalah icon Kabupaten Lampung Tengah. Ini berlaku sebelum terjadi pemekaran wilayah administrasi yang memisahkan Kota Metro dan Kabupaten Lampung Tengah.

Bangunan menjadi icon bukanlah hal yang aneh, apalagi bangunan megah seperti masjid Taqwa Metro ini. Sejak memasuki Metro pada pertengahan tahun 70-an, hingga “pergi merantau” pada pertengahan tahun 80-an, nama bangunan yang paling tercetak dalam ingatan adalah Masjid Taqwa Metro.

Masjid ini mulai didirikan pada tanggal 21 Juli 1967 oleh Masyarakat Islam di Kabupaten Lampung Tengah. Dinyatakan selesai pada tanggal 23 Mei 1969 dan diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, K.H. A. Dahlan. Setelah mengalami renovasi beberapa kali maka pada tanggal 27 Januari 2004 Ketua Yayasan Dakwah dan Pemeliharaan Masjid Taqwa Metro, H. A. Sajoeti,  menyerahkan pemeliharaan pada Pemerintah Kota Metro.

Masjid ini digunakan sebagaimana masjid seharusnya, dimana tidak hanya untuk tempat sholat berjamaah, tetapi juga banyak kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Pada hari Idul Fitri atau Idul Adha biasanya juga dipakai untuk lokasi sholat. Suara adzan dan mengaji sesaat sebelum waktu maghrib tiba dari tahun ke tahun tidak pernah berubah. Lekat dalam memori.

Mengingat masa kecil di masjid ini, yang lokasinya tidak seberapa jauh dari rumah, adalah mengasyikkan. Selain tempat mengenal kemegahan “bangunan islami” yang pertama kali, juga tempat yang menyenangkan untuk “bermain” terutama saat bulan Ramadhan.

Saat hari biasa maka sholat Subuh adalah momen yang menarik. Karena setelah sholat biasanya dilanjutkan dengan lari pagi keliling lapangan Merdeka yang bersebelahan dengan masjid. Lapangan ini, saat itu, masih digunakan sebagai tempat olah raga sepak bola, bola voli, dan atletik.

Tugas Jumat juga merupakan hal asik lainnya, dimana guru sekolah memerintahkan untuk membuat ringkasan khotbah berupa tulisan pada buku yang kemudian dimintakan cap “kantor masjid” sebagai buktinya. Bukan hal gampang meringkas isi khotbah yang biasanya kalah menariknya dibandingkan “ngobrol dengan teman” atau “tidur dalam kesejukan” di masjid megah ini.

Megah, ya, bagi saya ini suatu kemegahan yang dibangun pada akhir 60-an. Susah membayangkan bahwa kubah besar yang disangga oleh 20 pilar dan dinding khas busur mediteranian ini dihasilkan saat itu hanya dalam waktu dua tahun. Atau justru saya tidak perlu heran karena memang pada jaman itu penghormatan pada “rumah Tuhan” adalah hal yang bisa mengalahkan penghormatan pada “rumah sendiri”. Sehingga pembangunan dilakukan dengan kesungguhan hati.

Merehabilitasi total Masjid Taqwa Metro (foto: Tribun Lampung)
Merehabilitasi total Masjid Taqwa Metro (foto: Tribun Lampung)

Pada Maret 2013, dari Harian daring Tribun Lampung didapat berita bahwa masjid Taqwa mengalami rehabilitasi atau pemugaran.

“Rehabilitasi total Masjid Taqwa Kota Metro hanya menyisakan menara lama. Seluruh bangunan masjid dirubuhkan, dan kubahnya akan diganti dengan baru yang lebih lebar menyesuaikan bangunan baru berlantai dua.” (Harian Tribun Lampung, 6 April 2013)

Terbayang kata rehabilitasi, lha kok “hanya menyisakan menara lama”..?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, merehabilitasi mempunyai arti: memulihkan kepada (keadaan) yang dahulu (semula).

Wah, kalau hanya menyisakan menara, maka keadaan apa yang dikembalikan..? Apakah yang dimaksud kemudian adalah keadaan sebelum masjid ada yang berupa tanah lapang..?

Entahlah, apa maksud sebetulnya dari “rehabilitasi” ini, yang jelas masjid megah itupun, saat tulisan ini saya buat, sudah rata dengan tanah. Icon itu telah tercerabut dari akarnya.

Jelas sekali, pada masa rezim siapa icon ini dihilangkan akan saya catat dalam-dalam dan tak akan terlupakan. Rezim ini tentunya mempunyai kebijaksanaan hebat dalam perencanaan “merehabilitasi total” masjid megah ini.

Saat penghancuran kubah. (foto: FajarSumatra.com)
Saat penghancuran kubah, sedih melihatnya. (foto: FajarSumatra.com)

Terakhir kali saya “mendokumentasikan” kemegahan masjid Taqwa Metro ini adalah saat berkunjung tahun 2008 lalu bersama keluarga. Beruntung sekali saat itu anak-anak sempat saya ajak masuk dan saya ceritakan mengenai masjid ini. Setidaknya ada gambaran lekat pada pikiran dan pengalaman mereka mengenai masjid besar ini secara langsung.

Terus terang, salah satu yang mengikat saya dengan kota Metro adalah icon bangunan luar biasa ini. Landmark yang tidak akan pernah tergantikan. Dengan lenyapnya masjid Taqwa ini tentunya berkuranglah kenangan saya akan satu masa indah disaat kecil. Salah satu pengikat itu hilang.

Untuk masyarakat kota Metro, saya ucapkan selamat memiliki “masjid model baru” yang berbiaya 18,7 M. Saya yakin pemilik ide pengganti bangunan icon ini (dan penyokongnya) mempunyai visi luar biasa. Dan semoga ia juga “sempat” memiliki kenangan di masjid Taqwa Metro saat masa lalu.

Beberapa foto saat mampir ke Masjid Taqwa Metro pada tahun 2008 lalu dapat dilihat pada laman: Masjid Taqwa di Kota Metro Lampung.

Jika anda pernah tinggal di Metro, Lampung, dan mempunyai cerita/kenangan tentang Masjid Taqwa Metro, sudilah kiranya untuk menuliskannya dengan ringkas dibawah ini.

_

Sumber foto:

_

Update:

Posted from Metro, Lampung, Indonesia.

Masjid Khon Kaen di Kota Khon Kaen Thailand

Masjid Khon Kaen (2009).
Masjid Khon Kaen (2009).

Masjid di kota Khon Kaen, di satu Provinsi di sebelah Utara Bangkok. Umat muslim adalah minoritas disini, tetapi persaudaraan sangat kuat.

Lokasi pada peta Google:

M : lokasi masjid Khon Kaen di Thailand.

Beberapa foto dapat dilihat berikut ini:

 

_

Posted from Khon Kaen, Khon Kaen, Thailand.