Category Archives: Tanah-Air

Ketika Presiden SBY Melambaikan Tangan

Lambaian Presiden SBY pada laskar merah-putih
Lambaian Presiden SBY pada laskar merah-putih.

Menghargai pemimpin adalah suatu kewajiban. Sikap penghargaan pada pimpinan adalah salah satu nilai yang harus selalu ada pada diri orang yang mau dipimpin. Masih adakah nilai tersebut pada diri anda..?

Satu siang yang terik saya melihat adegan menarik. Saat itu saya baru selesai makan soto Kudus daging sapi di warung Soto Kudus Panjunan di seberang JEC (Jogja Expo Center). Tampak “laskar merah putih” alias anak-anak Sekolah Dasar bergerombol di tepi jalan, dengan pakaian lengkap (bertopi) sambil memegang bendera merah putih yang terbuat dari “kertas minyak”.

Tak susah menebak apa yang dilakukan mereka. Anak-anak SD ini (juga terlihat ada yang dari SMP) sedang menunggu lewatnya bapak Presiden SBY. Hari itu, Selasa 23 Oktober 2012, Pak SBY membuka perhelatan internasional di JEC, The 5th Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction (AMCDRR). Acara yang dihadiri oleh Pak SBY sejak jam 9.30, akan ditinggalkan beliau sekitar jam 12.30an.

Beberapa kali anak-anak ini diminta oleh Pak Polisi yang mengatur lalulintas untuk istirahat dulu di warung, tetapi tampaknya mereka tidak sabar. Menanti sebentar di keteduhan warung dan kemudian keluar beramai ke tepi jalan. Demikian berulang kali.

Sampai akhirnya yang dinanti pun akan segera keluar gedung JEC, tentunya akan melintasi jalan dimana anak-anak SD ini berada. Mereka, sang laskar merah putih, segera berbaris di tepi jalan dengan tertib dan santai. Tidak ada komando apapun dari pengawas (guru) mereka yang ikut serta.

Pengawal rombongan presiden keluar, dan anak-anak ini sudah mulai mengibar-ngibarkan bendera kertasnya. Tak berapa jauh mobil sedan hitam berpelat INDONESIA 1 pun bergerak mendekat. Tak dinyana jendela segera terbuka dan melambailah tangan orang nomor satu Indonesia itu ke arah para laskar merah-putih ini. Tak terlalu panjang “barisan” anak-anak di pinggir jalan ini, mungkin hanya sekitar 30 meter, dan sepanjang itulah jendela mobil INDONESIA 1 terbuka dengan lambaian hangat yang ditunggu-tunggu oleh para generasi cilik ini.

Ahai, terlihat wajah-wajah yang sangat berbahagia di laskar ini..!

Walaupun di belakang sedan INDONESIA 1 kemudian melintas sedan hitam berpelat “AB 1” dan tidak sempat membuka kaca mobilnya, hal ini tidak mengurangi sama sekali wajah sumringah para pengibar bendera kertas ini.

Saya menyaksikan dengan terharu. Masih ada warga muda Indonesia yang belajar menghargai (dan mencintai) pemimpinnya. Saya yang (mungkin) sudah teracuni oleh hiruk pikuk politik (murahan) yang diumbar oleh media massa Indonesia merasa malu dengan kepolosan anak-anak ini.

Dari topi merahnya, terlihat mereka berasal dari SD Karangbendo.

“Jika anak melihat Presiden secara langsung, mereka akan punya dorongan. Itu akan memacu mereka.” kata Pak Sunadi, Kepala Sekolah SD Karangbendo bertutur pada Tribun Jogja yang saya baca sehari setelah kejadian.

“Ini pembelajaran nasionalisme kepada anak-anak.” kata Nurul, salah seorang guru yang mendampingi para laskar merah-putih ini.

Yes, pembelajaran nasionalisme, satu ungkapan yang sangat tepat.

Ini adalah hal yang telah hilang terlindas demi semangat “reformasi” dan “politik wacana” yang lebih tertelan mentah-mentah oleh publik melalui para elite yang “tak berhati elite“.

*/ : )

Posted from Banguntapan, Special Region of Yogyakarta, Indonesia.

Filsafat Bakul Bakmi Djowo Pak Doel Noemani

Bakmi Djowo Pak Doel Noemani, Semarang.
Bakmi Djowo Pak Doel Noemani, Semarang.

Bekerja dengan dilandasi oleh filosofi tidaklah bisa dilakukan oleh semua orang. Filosofi yang dimaksud disini adalah teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan. Dengan adanya filosofi maka diharapkan semua gerak ada dasarnya, baik dari sisi mental maupun spiritual.

Saat berkunjung ke Semarang, saya berkesempatan mampir di warung Bakmi Djowo Pak Doel Noemani cabang Jalan Pemuda (seberang Hotel Paragon).

Saat pemesanan dilakukan, dan proses ini memerlukan waktu karena harus antri, saya melihat selembar kertas berwarna kuning berlaminating. Iseng saya baca, dan ternyata lembaran ini bukanlah menu seperti biasanya. Lembaran ini adalah tentang filosofi yang mendasari Bakmi Djowo Pak Doel Noemani melangkah.

Jika saya tuliskan ulang dari lembaran tersebut, maka seperti berikut ini:

  • Dadiyo wong kang murakabi marang sapodho-padhane
  • Ojo Gumampang lan gampangake, senajan iku satemene pancen ora angel.
  • Eleking sariro ojo siro merekake, jalaran iku pancen peparinge gusti kang Moho Kawoso.
  • Lan mugo-mugo biso lancar anggonmu nggolek pangupo jiwo.
  • Nanduro pakerti kang suci, karaben dadi manungso kang utomo.
  • Ojo siro rumongso biso, nanging kudu bisoa rumongso.
  • Elingo marang gusti kang moho kawoso, jalaran siro kapurba saben dino.
  • Manungso iku mung sadermo, mulo kudu sabar, sareh, narimo, lan cepak ing apuro.
  • Asesanti mugi lestario anggen kulo dagang bakmi djowo.
  • Niat kulo kangge bangun kulo wargo, murih raharjo lan bagyo mulyo.
  • Ing pangesti hamung nyenyuwun sih wilasaning gusti mugi kasembadan sedyo kulo, sinareng tekad kulo paring tetenger “Bakmi Djowo”

Perhatikan huruf yang mengawali semua kalimat diatas, membentuk tulisan: Doel Noemani.

Terus terang saya tidak mengerti secara utuh arti dari tiap kalimat diatas (ada yang bisa bantu?). Tetapi saya yakin ini adalah filsafah yang mendasari Pak Slamet Siswo Harjono dan keluarga dalam membaktikan diri pada dunia kuliner.

Foto dan peta lokasi Bakmi Djowo yang saya datangi dapat dilihat di laman Wisata Kuliner – Bakmi Djowo Pak Doel Noemani Semarang. Sila mampir dan rasakan nikmatnya.
)

Posted from Semarang, Central Java, Indonesia.

Melihat Rumah Penculikan Soekarno Hatta di Rengasdengklok

Rumah Djiaw Kie Siong, tempat penculikan Soekarno dan Hatta.

Rengasdengklok, nama kota yang tidak asing lagi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Nama satu lokasi yang harus dihafal terkait dengan asal mula peristiwa proklamasi kemerdekaan negeri ini. Menurut cerita, sebelum terjadi proklamasi kemerdekaan didahului dengan peristiwa penculikan terhadap Soekarno dan Hatta.

Pada satu kesempatan di bulan Juni 2012, saya bersama mas Sumargana berkesempatan mampir ke rumah tempat penculikan ini dahulu kala berlangsung. Setelah mencari beberapa waktu sampailah kami di desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang.

Rumah yang dimiliki oleh keluarga Djiaw Kie Siong inilah lokasi dimana Soekarno dan Hatta “disembunyikan” oleh para penculiknya. Tidak sekedar diculik tetapi “dipaksa” merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan.

Suasana rumah yang adem ini dipenuhi oleh foto banyak persitiwa masa lalu, dan ditempatkan pada satu sisi dinding. Saat kaki melangkah masuk maka kita langsung melihat banyaknya pajangan foto dan poster yang lebih kurang menggambarkan banyak momen masa lalu. Cicit dari Djiaw Kie Siong yang dengan setia meladeni pertanyaan mengenai sejarah masa lalu yang dialami keluarga ini semasa penculikan terjadi.

Ternyata, lokasi rumah ini adalah bukanlah lokasi asli tempat penculikan. Lokasi aslinya adalah sekitar 200 meter dari rumah ini, di tepi sungai Tarum (Ci Tarum). Kondisi erosi oleh arus sungai yang dialami rumah ini mengakibatkan diputuskan untuk memindahkan rumah ke lokasi yang aman pada tahun 1957. Pemindahan ini dilakukan dengan mempertahankan bentuk dan juga material bangunan.

Di dalam rumah yang berbentuk segiempat ini terdapat dua kamar utama, yaitu masing-masing satu di sisi kanan dan sisi kiri. Pada kamar tersebut terdapat tempat tidur yang berornamen masa lalu.

Rumah Djiaw Kie Siong, Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.
Rumah Djiaw Kie Siong, Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Di teras rumah terdapat dinding yang ditempeli kertas untuk ditulis oleh para pengunjung rumah ini.

Posisi rumah kurang lebih pada koordinat  -6.156328° LS dan 107.290418° BT.

Beberapa foto dapat dilihat pada slide berikut ini:

no images were found

Awal berdirinya negeri ini diwarnai dengan keraguan pemimpin bangsa, dan “solusinya adalah menculik mereka”. Mungkin ini resep mujarab untuk menghapuskan keraguan pemimpin negeri yang selalu ada hingga kini.

Mari membangun negeri tanpa perlu menunggu puja dan puji.
)

Posted from here.

Lokasi Tujuan Wisata Alam untuk Menikmati Liburan bersama Keluarga

Km Nol Indonesia di Sabang, Pulau Weh.
Tugu Km Nol Indonesia di Sabang, Pulau Weh.

Waktu libur keluarga akan selalu tiba dan setidaknya dua kali setahun. Kemana sajakah tujuan anda dalam berlibur bersama keluarga..?

Bagi yang berkesempatan untuk melewati liburan ke luar kota, tentunya banyak sekali tujuan menarik yang bisa dinikmati. Tapi bukan berarti liburan di seputaran rumah tidak menarik. Banyak hal yang bisa kita lakukan bersama keluarga untuk menikmati liburan dengan positif.

Saya mempunyai beberapa usulan lokasi yang dapat dipertimbangkan untuk keluarga anda kunjungi. Lokasi-lokasi yang saya usulkan adalah lokasi dimana saya dan keluarga pernah menikmatinya. Jauh dekatnya dengan tempat anda tentunya sangat relatif, tergantung dimana anda tinggal saat membaca tulisan ini… senyum

Sabang

Sabang adalah kota yang sangat tenar sebagai wilayah terbarat negeri kita. Terletak di pulau Weh, Provinsi Aceh. Terdapat monumen Kilometer Nol Indonesia di sana. Sangatlah mudah untuk menjangkau Sabang walau anda tinggal di luar pulau Sumatera. Untuk lebih detilnya, silakan baca: Cara mudah mencapai Sabang dan apa saja yang dapat dilihat dan dinikmati disana. Beberapa artikel tentang Sabang dapat dibaca pada blog ini. Keindahan Sabang adalah keindahan alami yang sangat menakjubkan. Wisata alam dari puncak gunung, pantai yang indah, hingga salah satu taman laut terindah di dunia ada di Sabang.

Pagaralam

Kota Pagaralam terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Kota yang sejuk dan mempunyai banyak sekali lokasi wisata alam. Sangat nikmat untuk pencinta alam pegunungan karena memang wilayah ini terletak di lereng gunung Dempo. Pagaralam terkenal juga sebagai wilayah seribu cugub atau air terjun. Saya telah menuliskannya beberapa artikel pada blog ini mengenai keindahan Pagaralam, silakan klik disini untuk membacanya.

Taman Nasional Gunung Halimun

Gunung Halimun menjadi salah satu tujuan yang tertera dalam buku Lonely Planet. Buku acuan para penikmat keindahan alam dunia. Lokasinya adalah di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di lokasi wisata stasiun Cikaniki kita berada di tengah-tengah hutan belantara dan hadir banyak binatang liar di sekeliling kita. Owa Jawa (sejenis monyet) yang berkelompok, burung-burung hutan yang indah, elang yang selalu hadir di angkasa, dan jika beruntung dapat melihat macan kumbang. Cerita menarik tentang Halimun dapat dibaca di: Berlibur ke TNGH (by defidi), dan Perjalanan ke TNGH (by altair).

Sumedang

Kota Sumedang terletak di Jawa Barat, terkenal akan kuliner tahu Sumedang sejak dahulu kala. Tetapi bukan hanya tahu yang mengundang kunjungan ke sana, juga dikarenakan pemandangan alamnya. Salah satu lokasinya adalah di desa Nangorak, sebelah Selatan kota Sumedang. Sekilas mengenai lokasi wisata agro disana dapat dibaca di: Wisata Agro di Nangorak Sumedang, dan banyak lagi cerita, foto, dan film, silakan klik disini. Jangan lewatkan alam Sumedang nan indah ini.

Danau Beratan

Danau yang sangat terkenal sebagai tujuan wisata, terletak di Bedugul, Bali. Banyak sekali referensi mengenai lokasi yang satu ini, dan saya sempat menuliskannya: Kabut Kaldera Gunung Api Purba di Beratan. Wisata di Bali memang selalu terbayang akan kemahalannya, tetapi jika kita mau maka banyak juga harga yang terjangkau disana. Dan jika anda ke Uluwatu, sayang sekali, lokasi menikmati sunset di karang pinggir laut nan indah ini memerlukan nyali yang tinggi. Tidak percaya? Silakan baca pengalaman saya dan keluarga saat di Uluwatu.

Banyak lagi lokasi yang dapat diusulkan pada anda, dan semua tentunya tentang keindahan lokasi wisata di negeri tercinta ini. Akan saya tuliskan pada waktu lain agar anda fokus dulu pada pilihan di atas…

Utamakan keselamatan anda dan keluarga sambil menikmati dan mensyukuri keindahan alam negeri kita.
)

Posted from Aceh, Indonesia.

Hamparan Karpet Hijau di Lereng Dempo

Kabut di "karpet hijau" perkebunan teh Dempo
Kabut di “karpet hijau” perkebunan teh Dempo

Hijau adalah simbol dari kekuatan alam dalam meluluhkan rasa manusia. Tidak percaya..? Coba rasakan saat anda berada di padang pasir yang luas, maka rasa anda akan jua meleleh. Saat anda berada di hamparan tanah gambut hitam yang luas, maka anda pun akan merasa risih. Tetapi saat anda berada di kehijauan yang luas maka kedamaianlah yang akan terasakan.

Dempo mempunyai hal ini. Suatu hamparan luas berwarna hijau terpapar di lerengnya. Benar, ini tentang Gunung Dempo, sebuah gunung berapi yang berada di jajaran pegunungan Bukit Barisan di wilayah Sumatera Selatan.

Sebagian wilayah Gunung Dempo masuk dalam wilayah administrasi Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan. Lereng gunung ini mempunyai keindahan khas yang telah ada sejak lama. Bentuk permukaan yang berundulasi, naik turun selayaknya lereng gunung, diperindah dengan tanaman teh yang luas. Hijau daun teh membentuk keindahan pandangan dan perasaan siapapun yang menikmatinya.

Perkebunan teh ini ada sejak jaman pendudukan Belanda di tanah air. Pengelolaannya kemudian dilanjutkan oleh PT Perkebunan Nusantara 7, salah satu BUMN di negeri ini. Lokasi ini dapat dijangkau sekitar delapan jam jalan darat dari kota Palembang menjanjikan petualangan wisata yang sangat menarik.

Apa yang dapat dinikmati saat kita berada di wilayah perkebunan teh ini..? Beberapa obyek wisata hadir disini, baik yang bersifat natural maupun buatan.

Tangga 2001, hamparan teh, dan Dempo yang berkabut.
Tangga 2001, hamparan teh, dan Dempo yang berkabut.

Dimulai dari wilayah Gunung Gare, suatu lokasi dimana terdapat perkantoran dari Pemerintah Daerah Pagaralam. Kompleks perkantoran yang unik karena berada di dalam wilayah kebun teh. Bangunan perkantoran yang menjulang bersatu dengan kesejukan dan keindahan bentang hijau di sekitarnya. Kegersangan sangatlah jauh bisa terasa saat kita berada di lokasi ini.

Di sebuah tanah terbuka, terdapat lapang dimana untuk pendaratan dari paralayang, salah satu olah raga yang memadukan pacuan adrenalin dan keindahan pengamatan alam dari udara. Tanah lapang ini didampingi oleh sebuah tangga yang berundak banyak dan tergolong unik. Pada papan petunjuk wisata disebutkan sebagai Tangga 2001, sebagian orang menyebutnya sebagai tangga seribu.

Bentuknya adalah tangga atau undakan yang memanjang dari level rendah ke tinggi membelah pepohonan teh. Lebar tangga ini sekitar 5 meter dan di tiap undakannya terdapat lampu. Lampu akan menyala berkedip saat mana kaki kita menginjaknya, atau menutupi sensor di bagian atas dari lampu tersebut. Undakan yang lumayan banyak dan menanjak tidak kan terasa saat kita menapakinya karena keindahan pemandangan Gunung Dempo menyapa kita langsung. Ya, arah naik tangga adalah arah ke Gunung Dempo. Saat kita berbalik arah, maka pemandangan Gunung Gare dan sebagian dari kota Pagaralam akan terlihat dari ketinggian ini.

Bentangan tanaman teh ini sangat luas. Saat kita menuju ke ketinggian lereng Gunung Dempo maka keindahannya semakin terasa. Kabut kerap hadir dengan setia, dan inilah saat dimana getaran keluluhan hati selalu datang. Kabut mempunyai kekuatan dalam meluluhkan rasa.

Tugu Rimau
Tugu Rimau dan kabut

Apa yang dapat kita temui saat kita mencapai batas ketinggian dari perkebunan ini..? Tugu Rimau akan menyambut kita dengan taman yang asri. Tugu ini berujud seekor harimau Sumatera yang berpakaian adat setempat dan sedang membawa obor. Harimau Sumatera diyakini masih terdapat banyak di wilayah Gunung Dempo dan sekitarnya, walau telah jarang ditemui oleh penduduk.

Patung Rimau menjadi salah satu lokasi wisata sejak dilaksanakannya Pekan Olah Raga Nasional (PON) pada tahun 2004 di Sumatera Selatan. Lokasi ini menjadi salah satu venue dari olahraga yang dilombakan di PON tersebut.

Ketinggian di lokasi Patung Rimau ini, sekitar 1.800 meter dari permukaan laut, membuatnya mempunyai bentang pandangan yang sangat luas. Hijaunya tanaman teh dengan bentuknya yang naik turun mengikuti permukaan lereng adalah keindahan pandangan yang luar biasa, tidak pernah membosankan.

Ketinggian lokasi ini pula berakibat pada pekatnya kabut saat datang menghampiri kita. Batas pandang sangat terbatas dan suhu udara pun bisa menyentuh belasan derajat Celsius.

Seberapa dingin yang dapat kita rasakan di sekitar wilayah ini..? Tentunya relatif, sesuai dengan kondisi saat itu. Yang pernah saya ukur saat malam hari adalah suhu dapat mencapai 16 derajat Celsius. Cukup dingin..? Pastinya…!

Bagaimana dengan fasilitas akomodasi? Penikmat keindahan alam tak perlu khawatir dengan tempat menginap, karena di tengah hamparan pohon teh inni terdapat beberapa wisma yang dikelola dengan baik. Ada yang dikelola oleh pemda setempat, Pemda Pagaralam. Ada juga yang dikelola oleh Pemda Kabupaten Lahat, dimana saat wilayah ini masih menjadi wilayah Kabupaten Lahat maka lereng Gunung Dempo ini menjadi perhatian utama pemda Lahat juga untuk sektor pariwisata.

Penginapan di tengah hijaunya teh dan berlatar Gunung Dempo
Penginapan di tengah hijaunya teh dan berlatar Gunung Dempo

Sekarang mari kita bayangkan, saat bangun pagi dimana matahari dari arah yang berlawanan dengan arah puncak gunung mulai bersinar. Cuaca cerah dan dari penginapan kita bisa menikmati pemandangan puncak Gunung Dempo dengan sangat jelas. Menikmati minuman teh hangat dari teh lokal yang beraroma khas dan nikmat rasanya.

Sementara itu kesibukan para pekerja perkebunan, terutama para pemetik daun teh terlihat sangat ramai, berjalan, naik motor dan sebagian naik kendaraan truk, mengarah ke lokasi tugas masing-masing.

Udara yang segar… Ah apalagi yang bisa mengalahkan suasana ini..?

Teh, dan suasana lereng Gunung Dempo, sangatlah khas. Hijau yang tebal dan menghampar laksana karpet hijau luas yang menyelimuti lereng Dempo. Lokasi yang layak dinikmati sebagai bagian dari cara kita mensyukuri nikmat Ilahi.


Catatan:

Tulisan ini diikutsertakan meramaikan Pesona Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh komunitas blogger WongKito dalam rangka memperingati ulang tahun Provinsi Sumatera Selatan yang ke 66 pada tahun 2012. Keterangan silakan klik disini.

Posted from Pagar Alam, South Sumatra, Indonesia.

Menikmati Uluwatu..?

Pura Uluwatu, Bali.
Pura Uluwatu, Bali.

Uluwatu, salah satu tempat eksotik di Pulau Bali dan menjadi tujuan wisata turis dari mancanegara. Lokasi yang menantang dengan tebing cadas yang tinggi menyajikan pemandangan laut yang indah. Uluwatu juga tempat turis berburu keindahan suasana matahari terbenam.

Akhir tahun 2011 saya dan keluarga menuju ke Uluwatu dengan tujuan yang pasti yaitu menikmati pemandangan tebing dan suasana matahari terbenam. Waktu telah diset sedemikian pas sehingga saat sampai di Uluwatu masih dapat menikmati keduanya. Mas Budi, sobat lama kami, membawa kami sekeluarga (saya, istri, Alta dan Qila) sesuai dengan target waktu…

Sejak di tempat parkir mas Budi, yang sudah sangat hafal dengan kondisi Uluwatu, memberikan beberapa perhatian. Terutama terkait dengan keberadaan monyet liar yang katanya “usil” terhadap barang bawaan turis yang menarik perhatian. Kami segera bersiap dengan tidak memakai pernik apapun, termasuk saya yang harus menyimpan kacamata.

Memasuki gerbang suasana nyaman terasa. Sinar matahari sore masih terang benderang. Kami segera menuju ke arah pura di ujung tebing yang terdekat. Jalan setapak yang tidak begitu lebar dan menanjak. Banyak turis lokal dan mancanegara yang tengah menikmati suasana pula.

Perjalanan menapak ke ujung tebing mulai terasa asik karena monyet-monyet liar segera hadir di antara kami. Monyet dengan badan yang besar dan kecil hilir mudik di pagar pelindung di pinggir tebing.

Kondisi yang terasa asik tiba-tiba berubah. Seekor monyet yang relatif bertubuh kecil segera turun dan menarik sendal jepit hitam di kaki kiri Qila. Tarikan yang keras sang monyet dan juga kondisi tak terduga membuat Qila segera melepas sandalnya. Dalam sekejap sandal berwarna hitam tersebut naik pohon bersama sang monyet, eh, monyet segera naik pohon dengan membawa sandal hasil rebutannya tadi.

Karena terlihat berbahaya, saya tidak berusaha “merebut kembali” sandal dari si monyet. kami biarkan dan sekitar lima menit maka sandal dibuang dari atas pohon. Saat saya ambil, kondisi sandal jepit sudah putus talinya dan rusak bolong tengahnya. Wow, begitu ganasnya si monyet tadi.

Aktivitas monyet di Uluwatu.
Aktivitas monyet di Uluwatu.

Untuk melanjutkan perjalanan sore itu, saya segera menyerahkan sandal jepit saya untuk dipakai Qila, sedangkan saya sendiri “nyeker” alias tidak pakai alas kaki. Suasana riang segera menjadi tegang karena ternyata agresifitas monyet-monyet lainnya juga tinggi. Tas punggung yang dipakai istri menjadi target para monyet selanjutnya. Mereka tampaknya tertarik dengan gantungan kunci yang ada menggantung di sana. Segera kami buka paksa gantungan kunci dan menyimpannya. Sementara aman.

Kami segera berjalan ke arah lokasi lain, mendekati lokasi dimana akan ditampilkan tari kecak yang biasanya dilaksanakan sesaat sebelum matahari terbenam. Tebing dan taman yang kami lalui cukup rapi dan pemandangan sangat indah. Ketinggian tebing menyajikan pandangan yang luas dan dapat menyaksikan gulungan ombak yang pecah di pantai dari kejauhan.

Keindahan taman dan pemandangan segera terusik lagi oleh para binatang berekor panjang, sang monyet-monyet, yang tampaknya ada beberapa kelompok. Beberapa sangat agresif mengincar barang bawaan para pelancong, dan beberapa lagi berperang antarkelompok.

Kondisi ini jelas menyurutkan langkah kami, terutama anak saya yang baru saja mengalami hal yang tidak diinginkan. Saya tetap mengondisikan agar menikmati “atraksi alam” yang ada di depan mata. Kegesitan monyet dan reaksi kewaspadaan pengunjung tampaknya justru (kemudian) menjadi hal yang lebih menarik perhatian dibandingkan lainnya.

Saya melanjutkan perjalanan ke ujung tebing lainnya, dekat dengan lokasi tari kecak. Ternyata justru kami kembali melihat “atraksi” lain antara turis dan monyet. Salah satu monyet berhasil merebut kacamata seorang turis (kelihatannya dari Taiwan). Kondisi ini tentunya membuat si turis takut tetapi juga ada keinginan untuk mengambil kembali kacamata miliknya. Tak lama muncul “pawang” dengan membawa buahan (sepertinya anggur?). Dia segera mendekati si monyet sambil memberikat beberapa tangkai anggur. Dan seperti diduga sebelumnya, si monyet “takluk” dan memberikan kacamata kepada sang “pawang”.

Atraksi "pawang" di Uluwatu.
Atraksi “pawang” di Uluwatu.

Para pemirsa segera tepuk tangan melihat atraksi menarik tersebut. Si turis segera mendekat pada “pawang”. Dan… sang pawang memberi “harga” untuk usahanya mengembalikan kacamata tersebut… waaah…

Singkat cerita, sore itu saya dan keluarga lebih “menikmati” atraksi monyet daripada keindahan alam dan suasana temaram matahari terbenam. Kekhawatiran kami (dan juga yang hadir disana) terhadap keagresifan monyet menjadi lebih dominan daripada keinginan utama kedatangan kami ke lokasi tersebut.

Saat pertama saya datang ke Uluwatu, tahun 2005, kejadian serupa juga saya lihat. Dan pada kedatangan saya kali ini justru mengalami sendiri, terjadi pada keluarga saya langsung. Hal ini (semoga tidak) akan menjadi trauma tersendiri bagi anak-anak dan juga saya sendiri terhadap “keindahan” lokasi wisata Uluwatu.

Dalam benak saya, setidaknya saat ini, jika mengingat Uluwatu adalah monyet, monyet dan monyet. Bukan keindahan pemandangannya dan juga bukan keindahan suasana sunset-nya. Entah di benak keluarga saya…

Apakah Uluwatu akan menjadi tujuan saya lagi dalam menikmati sunset di Bali…? Atau menjadi tujuan “petualangan alami” jika memang mau uji nyali…? Entahlah…
)

Posted from Bali, Indonesia.

Setahun dan Kehidupan Dimulai Kembali

Yang masih bertahan
Tonggak tersisa di Kepuh Harjo, saksi kedatangan “Awan Panas” (pyroclastic flow) dari puncak Gunung Merapi pada Oktober 2010.

Setahun lalu, 26 Oktober 2010, Gunung Merapi mengalami erupsi terbesarnya. Kejadian ini kemudian mengawali banyak hal lain, diantaranya adalah meluncurnya “awan panas” (pyroclastic flow) dari arah kawah ke lereng sekitarnya. Campuran material yang sangat panas menyapu semua yang ada menjadi hangus dalam sekejap.

Oktober 2011, bekas-bekas kedatangan “awan panas” di lereng Merapi masih terlihat. Rerumah yang tersisa masih ada. Begitu juga saksi lain berupa tanaman. Ada yang hanya tinggal batang keringnya saja, ada yang masih mampu bertahan untuk melangsungkan kehidupan.

Pada foto diatas adalah contoh tanaman yang masih bertahan berdiri. Sisi kiri terlihat gosong hitam legam. itu adalah sisi hantaman “awan panas”, atau sisi yang menghadap ke arah puncak Merapi. Sedangkan sisi kanan adalah sisi yang menghadap berlawanan dengan puncak Merapi, sehingga tidak rusak seperti sisi lainnya.

Setahun berlalu, “sisi kanan” tadi mulai terlihat kehidupan baru. Ada warna hijau yang melebar dan menandakan kehidupan kembali ada. Luar biasa…

Tonggak ini saya temukan di desa Kepuh Harjo pada Oktober 2011 lalu, desa yang termasuk terkena kerusakan parah akibat “awan panas” Merapi setahun lalu.

Posted from Central Java, Indonesia.