Category Archives: The Series

Memetakan Blog pada Peta Dunia di Peta Cerita

Peta Cerita - hartantosanjaya.name/petacerita
Peta Cerita, memetakan cerita pada peta dunia.

Peta Cerita ini dibuat untuk menyatukan artikel blog yang terkait dengan lokasi dalam satu rangkaian. Idenya adalah untuk memetakan cerita, foto, dan video pada suatu peta daring. Peta Cerita ini untuk memetakan cerita pada peta dunia.

Ide sederhana ini adalah pengembangan dari berbagai peta daring yang sudah pernah dibuat, antara lain Peta Kuliner pada situs BBM Defidi yang telah dimulai dua tahun lalu. Kali ini adalah untuk meletakkan pin bagi semua cerita atau tulisan yang telah dibuat di berbagai blog yang bertemakan perjalanan, dan tentunya semua terkait dengan lokasi.

Membangunnya cukup dengan memanfaatkan semua fasilitas yang telah ada pada Google Maps. Tidak ada pemrograman khusus lainnya yang dilakukan.

Untuk membuatnya lebih semarak maka dimasukkan juga pin untuk foto dan video.

Cerita yang berhasil di-pin-kan baru sedikit, tetapi (semoga) akan terus bertambah, atau kata Google: and counting

Bagi yang ada waktu silakan mampir, klik saja di Peta Cerita.
)

*/ terimakasih untuk bli I Made Andi yang sudah mengompori… : )

e-Book Mencari Masjid Cordoba yang SARA

Perjalanan Mencari Masjid Cordoba di Andalusia
Perjalanan Mencari Masjid Cordoba di Andalusia

Suatu catatan perjalanan dalam bentuk apapun, termasuk e-Book, tentunya mencoba mengungkapkan hal yang dialami atau diduga berdasarkan apa yang ditemui. Bagaimana jika yang diungkapkan tersebut menyangkut SARA..?

e-Book yang berjudul Perjalanan mencari Masjid Cordoba di Andalusia ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis dan… jelas-jelas mengungkapkan SARA.

Sebenarnya ini hanyalah rangkaian cerita perjalanan yang dirangkum dalam e-Book. Cerita perjalanannya sendiri sudah pernah dituliskan di blog ini pada kategori serial Perjalanan Campillos Cordoba. Dan e-Book dibuat untuk mempermudah berbagi pengalaman tanpa harus terkoneksi ke internet saat menikmatinya.

Lalu SARA-nya dimana..?

SARA adalah Suku, Agama, Ras, Antargolongan. Jika salah satu, salah dua, salah tiga, atau salah semua tersingggung dalam tulisan, tentunya e-Book ini dapat dikategorikan SARA. Rincian adalah sebagai berikut:

SUKU, di dalam tulisan e-Book ini ditemukan pengungkapan mengenai suku Moor, yang memasuki daratan Eropa dengan membawa keyakinan “baru” pada abad ke delapan Masehi.

AGAMA, jelas-jelas disebutkan mengenai agama Islam dan Katolik dalam e-Book ini.

RAS, mmm sepertinya nggak ada disinggung masalah ras, apalagi ayam ras…

ANTARGOLONGAN, mmm nggak ada.

Jadi setidaknya ada dua hal yang terekspose dalam e-Book ini, yaitu masalah SUKU dan AGAMA, jelas ini masuk dalam unsur SARA. Untuk jelasnya silakan unduh dari laman buku/eBook ini atau klik Mencari Masjid Cordoba di Andalusia.

Jangan khawatir, tidak ada jebakan Batman berupa iklan atau yang lainnya.
)

Hamparan Karpet Hijau di Lereng Dempo

Kabut di "karpet hijau" perkebunan teh Dempo
Kabut di “karpet hijau” perkebunan teh Dempo

Hijau adalah simbol dari kekuatan alam dalam meluluhkan rasa manusia. Tidak percaya..? Coba rasakan saat anda berada di padang pasir yang luas, maka rasa anda akan jua meleleh. Saat anda berada di hamparan tanah gambut hitam yang luas, maka anda pun akan merasa risih. Tetapi saat anda berada di kehijauan yang luas maka kedamaianlah yang akan terasakan.

Dempo mempunyai hal ini. Suatu hamparan luas berwarna hijau terpapar di lerengnya. Benar, ini tentang Gunung Dempo, sebuah gunung berapi yang berada di jajaran pegunungan Bukit Barisan di wilayah Sumatera Selatan.

Sebagian wilayah Gunung Dempo masuk dalam wilayah administrasi Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan. Lereng gunung ini mempunyai keindahan khas yang telah ada sejak lama. Bentuk permukaan yang berundulasi, naik turun selayaknya lereng gunung, diperindah dengan tanaman teh yang luas. Hijau daun teh membentuk keindahan pandangan dan perasaan siapapun yang menikmatinya.

Perkebunan teh ini ada sejak jaman pendudukan Belanda di tanah air. Pengelolaannya kemudian dilanjutkan oleh PT Perkebunan Nusantara 7, salah satu BUMN di negeri ini. Lokasi ini dapat dijangkau sekitar delapan jam jalan darat dari kota Palembang menjanjikan petualangan wisata yang sangat menarik.

Apa yang dapat dinikmati saat kita berada di wilayah perkebunan teh ini..? Beberapa obyek wisata hadir disini, baik yang bersifat natural maupun buatan.

Tangga 2001, hamparan teh, dan Dempo yang berkabut.
Tangga 2001, hamparan teh, dan Dempo yang berkabut.

Dimulai dari wilayah Gunung Gare, suatu lokasi dimana terdapat perkantoran dari Pemerintah Daerah Pagaralam. Kompleks perkantoran yang unik karena berada di dalam wilayah kebun teh. Bangunan perkantoran yang menjulang bersatu dengan kesejukan dan keindahan bentang hijau di sekitarnya. Kegersangan sangatlah jauh bisa terasa saat kita berada di lokasi ini.

Di sebuah tanah terbuka, terdapat lapang dimana untuk pendaratan dari paralayang, salah satu olah raga yang memadukan pacuan adrenalin dan keindahan pengamatan alam dari udara. Tanah lapang ini didampingi oleh sebuah tangga yang berundak banyak dan tergolong unik. Pada papan petunjuk wisata disebutkan sebagai Tangga 2001, sebagian orang menyebutnya sebagai tangga seribu.

Bentuknya adalah tangga atau undakan yang memanjang dari level rendah ke tinggi membelah pepohonan teh. Lebar tangga ini sekitar 5 meter dan di tiap undakannya terdapat lampu. Lampu akan menyala berkedip saat mana kaki kita menginjaknya, atau menutupi sensor di bagian atas dari lampu tersebut. Undakan yang lumayan banyak dan menanjak tidak kan terasa saat kita menapakinya karena keindahan pemandangan Gunung Dempo menyapa kita langsung. Ya, arah naik tangga adalah arah ke Gunung Dempo. Saat kita berbalik arah, maka pemandangan Gunung Gare dan sebagian dari kota Pagaralam akan terlihat dari ketinggian ini.

Bentangan tanaman teh ini sangat luas. Saat kita menuju ke ketinggian lereng Gunung Dempo maka keindahannya semakin terasa. Kabut kerap hadir dengan setia, dan inilah saat dimana getaran keluluhan hati selalu datang. Kabut mempunyai kekuatan dalam meluluhkan rasa.

Tugu Rimau
Tugu Rimau dan kabut

Apa yang dapat kita temui saat kita mencapai batas ketinggian dari perkebunan ini..? Tugu Rimau akan menyambut kita dengan taman yang asri. Tugu ini berujud seekor harimau Sumatera yang berpakaian adat setempat dan sedang membawa obor. Harimau Sumatera diyakini masih terdapat banyak di wilayah Gunung Dempo dan sekitarnya, walau telah jarang ditemui oleh penduduk.

Patung Rimau menjadi salah satu lokasi wisata sejak dilaksanakannya Pekan Olah Raga Nasional (PON) pada tahun 2004 di Sumatera Selatan. Lokasi ini menjadi salah satu venue dari olahraga yang dilombakan di PON tersebut.

Ketinggian di lokasi Patung Rimau ini, sekitar 1.800 meter dari permukaan laut, membuatnya mempunyai bentang pandangan yang sangat luas. Hijaunya tanaman teh dengan bentuknya yang naik turun mengikuti permukaan lereng adalah keindahan pandangan yang luar biasa, tidak pernah membosankan.

Ketinggian lokasi ini pula berakibat pada pekatnya kabut saat datang menghampiri kita. Batas pandang sangat terbatas dan suhu udara pun bisa menyentuh belasan derajat Celsius.

Seberapa dingin yang dapat kita rasakan di sekitar wilayah ini..? Tentunya relatif, sesuai dengan kondisi saat itu. Yang pernah saya ukur saat malam hari adalah suhu dapat mencapai 16 derajat Celsius. Cukup dingin..? Pastinya…!

Bagaimana dengan fasilitas akomodasi? Penikmat keindahan alam tak perlu khawatir dengan tempat menginap, karena di tengah hamparan pohon teh inni terdapat beberapa wisma yang dikelola dengan baik. Ada yang dikelola oleh pemda setempat, Pemda Pagaralam. Ada juga yang dikelola oleh Pemda Kabupaten Lahat, dimana saat wilayah ini masih menjadi wilayah Kabupaten Lahat maka lereng Gunung Dempo ini menjadi perhatian utama pemda Lahat juga untuk sektor pariwisata.

Penginapan di tengah hijaunya teh dan berlatar Gunung Dempo
Penginapan di tengah hijaunya teh dan berlatar Gunung Dempo

Sekarang mari kita bayangkan, saat bangun pagi dimana matahari dari arah yang berlawanan dengan arah puncak gunung mulai bersinar. Cuaca cerah dan dari penginapan kita bisa menikmati pemandangan puncak Gunung Dempo dengan sangat jelas. Menikmati minuman teh hangat dari teh lokal yang beraroma khas dan nikmat rasanya.

Sementara itu kesibukan para pekerja perkebunan, terutama para pemetik daun teh terlihat sangat ramai, berjalan, naik motor dan sebagian naik kendaraan truk, mengarah ke lokasi tugas masing-masing.

Udara yang segar… Ah apalagi yang bisa mengalahkan suasana ini..?

Teh, dan suasana lereng Gunung Dempo, sangatlah khas. Hijau yang tebal dan menghampar laksana karpet hijau luas yang menyelimuti lereng Dempo. Lokasi yang layak dinikmati sebagai bagian dari cara kita mensyukuri nikmat Ilahi.


Catatan:

Tulisan ini diikutsertakan meramaikan Pesona Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh komunitas blogger WongKito dalam rangka memperingati ulang tahun Provinsi Sumatera Selatan yang ke 66 pada tahun 2012. Keterangan silakan klik disini.

Posted from Pagar Alam, South Sumatra, Indonesia.

Tanah Seribu Cughub (Ekspedisi Pagaralam bag-2)

Cughup Embun yang cukup tinggi...
Cughup Embun yang cukup tinggi…

Cughub adalah sebutan untuk air terjun. Air sungai yang jatuh dari ketinggian. Terjadi karena banyak penyebab peristiwa alam, dan kadang juga bisa dibuat oleh manusia. Pagaralam kaya akan cughub alami ini.

Kota Pagaralam terletak di kaki Gunung Dempo, yang merupakan salah satu gunung dalam Pegunungan Bukitbarisan. Gunung Dempo masih mempunyai tutupan lahan yang alami, demikian juga wilayah pegunungan di sekitarnya. Hal ini tentunya menjadikan sumber resapan yang luar biasa dari air tanah.

Mata air banyak terdapat di lereng wilayah ini. Hal ini menghasilkan sumber dari sungai-sungai yang sangat banyak. Morfologi pegunungan menjadikan aliran sungai kecil sekalipun dapat menjadi air terjun yang indah saat “terjun bebas” dari ketinggian.

Dari hasil survey yang dilakukan Pemerintah Kota, sampai saat ini telah terdata lebih dari 50 air terjun yang ada di wilayah Pagaralam. Beberapa diantaranya telah menjadi obyek wisata, tetapi masih banyak lagi yang belum tersentuh wisata walau keindahannya luar biasa.

Cughub Mangkok dan cughub Embun adalah contoh yang sudah dikelola dengan baik oleh Pemko. Cughub Mangkok berlokasi di   4° 0’49.37″S – 103°11’18.07″E, di lokasi tersebut dibuat bendungan kecil sehingga menjadi lokasi mandi/berenang alami yang menyegarkan. Terdapat ruang ganti pakaian, dan juga tempat parkir dan kedai makanan ringan.

Sementara itu Cughub Embun ( 4° 0’57.87″S – 103°11’38.71″E) merupakan aliran terusan dari cughub Mangkok. Untuk menikmatinya kita harus turun melalui tangga semen sekitar 30 meter dalamnya. Keindahannya… wow… Di dinding dekat dengan tempat jatuhnya air terdapat gua kecil, dengan bermacam kisah yang melekat… asik. Dinamakan Embun karena percikan air yang terasa dingin sepeti embun. Jika aliran air sedang deras, maka percikan tadi dapat membasahi kita dalam jarak yang cukup jauh. Ini karena ketinggian terjunnya.

Air terjun Mangkok dan Embun merupakan aliran dari sungai Air Parikan masuk dalam wilayah kelurahan Dempo Makmur. Selain itu, dalam kelurahan ini ada juga cughub Tujuh Kenangan dan Penyumpahan.

Bagaimana dengan air terjun yang masih belum tersentuh wisata..? Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah cughub Cungkuk di kelurahan Muara Siban. Air terjun ini terletak di tengah perkebunan kopi rakyat dan hutan sekunder, pada aliran sungai Air Putih Gheni. Untuk mencapainya perlu menerobos pepohonan kopi sekitar 40 meter, kemudian turun tebing dengan kedalaman sekitar 20 meter. Lumayan repot karena memang belum ada jalan atau undakan khusus yang dibuat.

Keunikan air tejun Cungkuk ini adalah ia mempunyai tujuh tingkat jatuhan air. Dan tidak jauh dari air terjun ini (sekitar 20 meter) ada air terjun dari sungai lain yang bergabung di sungai yang sama. Lokasi keduanya adalah di   4° 4’23.20″S – 103°13’42.41″E.

Cughub Cungkuk
Cughub Cungkuk (kiri) dan Kabuan (kanan), berdekatan menyatu menjadi satu aliran

Ada juga cughub yang berasal dari aliran sungai yang besar. Untuk ini sudah banyak dikenal orang dan terlihat jelas dari jalan utama Lahat – Pagaralam. Air terjun ini bernama Air Terjun Lematang Indah, yang merupakan aliran dari Sungai Lematang. Lokasinya di   4° 4’21.92″S – 103°19’22.10″E.

Banyaknya air terjun merupakan salah satu keuntungan tersendiri. Selain dapat dimanfaatkan untuk wisata alam yang menarik, untuk beberapa lokasi dapat juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik mikro/mini hidro. Yang telah dibuat sebagai pembangkit listrik minihidro yaitu di daerah kelurahan Candi Jaya.

Ke Pagaralam tanpa menikmati air terjunnya yang indah serasa belum pas… : )

*/ tulisan bagian-2 dari Ekspedisi Pagaralam
*/ peta lokasi foto-foto dapat dilihat di  http://bit.ly/petafotoPGA 

Posted from Pagar Alam, South Sumatra, Indonesia.

Mengunjungi Negeri Besemah (Ekspedisi Pagaralam bag-1)

Tugu Besemah, terletak dekat dengan Air Terjun Lematang Indah
Tugu Besemah, terletak dekat dengan Air Terjun Lematang Indah

Pertengahan Juli 2011 saya berkesempatan mendatangi suatu wilayah di lereng dan kaki Gunung Dempo. Daerah yang saya kunjungi bernama Kota Pagaralam, suatu wilayah administrasi Kota yang dibentuk berdasarkan UU No.28 tahun 2001. Sebagaimana wilayah lainnya di Indonesia, Pagaralam mempunyai “jargon” khas: “besemah“.

Kata “besemah” mempunyai arti singkatan dari: Bersih, Sejuk, Aman, dan Ramah Tamah. Hanya itu saja artinya..? Setelah mengenal lebih dalam, kata BESEMAH ternyata mempunyai arti lain, tidak sekedar singkatan dari 4 kata seperti ditulis diatas.

Besemah, berasal dari kata SEMAH yang merupakan nama sejenis ikan. Ikan ini adalah ikan khas daerah sekitar Gunung Dempo, dan diyakini saat ini menuju kepunahan. Selain berarti nama ikan, Semah juga merupakan nama sungai yang terdapat di desa Tebat Gunung, Kecamatan Dempo Selatan.

Kota Pagaralam sendiri terdiri dari lima kecamatan, yaitu: Pagaralam Utara, Pagaralam Selatan, Dempo Utara, Dempo Tengah, dan Dempo Selatan.

Di sungai Semah, diyakini merupakan tempat ikan Semah berada, yang ditemukan pertama kali oleh kakek leluhur di daerah tersebut, yaitu Puyang Atung Bungsu.

Ikan Semah ini kemudian juga ditemukan di beberapa sungai di Pagaralam, sehingga kemudian muncul sebutan Besemah, yang berasal dari Ber (mempunyai, kemudian dilafalkan: “be”) Semah: Besemah. Sehingga wilayah Pagaralam dan sekitarnya, yang ditemukan ikan semah di sungai-sungainya yang banyak itu, disebut sebagai tanah Besemah hingga sekarang.

Ada juga istilah yang sering terdengar, yaitu: Jagat Besemah. Ini adalah istilah yang diberikan untuk suatu masa kekuasaan dalam sejarah wilayah Besemah. Pemerintahan ini berpusat di Besemah Lebar atau sekarang di desa Banua Keling. Masa pemerintahan ini sekitar abad 14 Masehi, yang dipimpin oleh Puyang Atung Bungsu, dan berupa pemerintahan Keratuan.

Wilayah Jagat Besemah ini meliputi Pagaralam (sekarang), dan juga sebagian Lampung, sebagian lagi wilayah di Sumatera Selatan (sebagian dari Lahat, Muara Enim, Empat Lawang), dan sebagian lagi wilayah di Bengkulu.

Pada masa pendudukan Belanda, daerah Besemah juga dikenal sebagai basis pejuang Besemah yang merepotkan Belanda. Perang terbuka antara tentara Belanda dan pejuang Besemah terjadi pertama kali pada Juni 1866. Pertempuran ini terjadi di desa Guru Agung, tak jauh dari benteng Penandingan, yang merupakan benteng pertahanan pejuang Besemah.

Kondisi perlawanan ini terus berlanjut hingga jaman kekuasaan Jepang, hingga kemudian tercapainya kemerdekaan Indonesia.

Jika kita dalam perjalanan dari Lahat menuju ke Pagaralam, maka setelah memasuki wilayah Pagaralam, dan melintasi jembatan sungai Lematang, akan kita dapati tugu Besemah. Tugu yang dipucuknya terdapat patung ikan besemah.

*/ tulisan bagian-1 dari Ekspedisi Pagaralam
*/ peta lokasi foto-foto dapat dilihat di  http://bit.ly/petafotoPGA 

Posted from Pagar Alam, South Sumatra, Indonesia.

Bertamu ke Rumah Pangeran

Clarence House (Wikipedia)
Clarence House (Wikipedia)

Rumah Pangeran itu mempunyai nama, dan namanya adalah Clarence House.

Ini adalah cerita saat mana memenuhi undangan dari The Prince’s Rainforest Project, pada bulan Oktober tahun 2008 lalu.

Pagi itu, Senin 20 Oktober 2008, setelah mandi pagi dan masih kacau dengan waktu akibat perbedaan sekitar 7 jam dengan waktu di kampung halaman, bersiaplah segera untuk keluar kamar dan menuju lobi Hotel Rubens, hotel berbintang empat yang cukup strategis di tengah kota London dan terletak berseberangan dengan kandang kuda istana Buckingham.

Pakai jas biru dongker oleh-oleh dari tim TISDA saat ke Amerika pertengahan 90-an, bersepatu sotik hitam Sin Lie Seng yang merupakan sepatu yang dipakai saat pernikahan (sayang sekali toko Sin Lie Seng di Pasar Baru Jakarta terbakar belum lama ini), dan berdasi rapi, duh jarang banget pake “seragam” kaya gini…

Di lobi telah menunggu banyak rekan yang mempunyai satu tujuan, yaitu menghadiri pertemuan yang bertajuk Remote sensing options for deforestation and degradation monitoring. Masing-masing peserta, yang sebagian sudah saling mengenal, siap dengan hal-hal yang telah diberitahukan “harus dibawa” yaitu undangan dan tanda pengenal diri (Passport). Sekitar jam 8:30 segera kami berangkat menuju lokasi pertemuan, dengan catatan: semua peserta yang berasal dari hotel ini belum pernah datang ke lokasi pertemuan, yaitu di St. James’s Palace, komplek perumahan keluarga istana Kerajaan Inggris.

Perjalanan melewati Buckingham Palace Road, lalu melintasi Victoria Memorial di depan Buckingham Palace, dan terus memutar ke arah Bridgewater House. Ada jalan yang lebih dekat ke Clarence House, tetapi tidak untuk umum, dan rombongan saya ternyata ternasuk kategori “umum” yang harus memutar dulu. Setelah melewati gang di sebelah Bridgewater House, kami berjejer kebelakang sambil lencang depan kemudian istirahat di tempat untuk diperiksa satu persatu oleh petugas keamanan istana. Pemeriksaan ini didampingi oleh panitia penyelenggara dan Nama pada daftar harus sama dengan nama pada Passport. Foto pun dilihat dengan teliti kemudian wajah dipindai oleh mata sang petugas yang badannya guede banget itu.

Lolos pemeriksaan, yang tanpa detektor logam, kami diarahkan menuju Clarence House. Satu persatu kami masuk disambut ramah oleh satu dua panitia, dan disatukan di ruang tamu yang sudah disiapkan penuh dengan buah-buahan daerah tropis kualitas top. Sebelum tuan rumah memulai acara, kami dipersilakan menghangatkan badan dulu dengan berbagai minuman yang memang panas semua, ada kopi panas dan teh panas. Menjadi satu-satunya orang dari Indonesia di tengah sekitar 50an ahli remote sensing dunia… jadi “terpaksa” kuminggris alias berbahasa Inggris-lah… lebih-lebih ternyata beberapa dari mereka adalah “teman lama”. Ada yang dari SPOT Image Perancis, ada yang dari GOFC-GOLD (Global Observation of Forest Cover and Land Cover Dynamics), Michigan State University Amerika, Leeds University Inggris, FAO, dan ada juga yang dari beberapa badan riset dunia yang sudah mengenal Indonesia dengan baik.

Pertemuan kemudian berlangsung menarik sekali, dan bla bla bla… capek. Dua hari yang melelahkan dimulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore dengan hanya jeda coffee break dan makan siang.

Selain pertemuan yang sangat produktif itu, ada banyak hal lain yang asik juga.

Ruang Utama saat memasuki Clarence House
Ruang Utama saat memasuki Clarence House

Lokasi pertemuan, Clarence House, ternyata adalah rumah kediaman Prince Charles (Prince of Wales), putera mahkota Kerajaan Inggris. Rumah ini dulu adalah rumah ibu suri, dan setelah wafat ditempati Pangeran Charles dan kedua putranya, Prince William dan Prince Harry. Saat berada di London maka mereka selalu menempati rumah ini. Sayang sekali saat pertemuan ini mereka sedang tidak berada di London.

Clarence House rumah yang terlihat sangat sederhana. Saat masuk dari arah pintu utama langsung ke ruang besar seperti lorong dengan hiasan dominan adalah lukisan dinding yang besar-besar. Semua perabot yang terlihat adalah perabot klasik, dan tidak terlihat “kecanggihan” jaman modern masuk di ruang ini.

Dari ruang utama ini ada beberapa ruang atau kamar yang dikhususkan untuk keluarga (tamu gak boleh ngintip). Untuk menuju ke ruang makan, ada lorong yang relatif sempit dengan lebar kurang dari 2 meter, yang juga dipenuhi dengan berbagai aksesoris. Bentuk dominan hiasan adalah kuda. Jadi selain lukisan kuda yang hampir memenuhi dinding sepanjang lorong, juga terdapat beberapa hiasan di atas bufet dengan obyek utama kuda. Kuda rupanya adalah hewan kesukaan dan kesayangan ibu suri. Dan setelah mangkatnya ibu suri, semua pernik yang ada tetap dipertahankan di lorong tersebut.

Ruang makan agak berbeda, disana terdapat beberapa lukisan juga, yang merupakan hasil lukis Pangeran Charles sendiri. Dan obyeknya bukanlah kuda. Sebagian lukisan berlatar warna putih. Sangat berbeda dengan berbagai lukisan di ruang utama tadi. Dari ruang makan terdapat banyak jendela besar ke arah taman yang berbatasan dengan The Mall, yaitu jalan utama dari Buckingham Palace ke Trafalgar Square.

Menjadi salah satu tamu di rumah Pangeran Charles, walau sang tuan rumah sedang tidak di rumah, menjadi pengalaman tersendiri yang menarik. Karena rumah ini tidak untuk wisata sehingga semakin terbataslah yang pernah masuk ke gedung bercat putih ini. Tetapi walau merasa istimewa, ada juga rasa yang kurang nyaman, karena setelah masuk tidak diperbolehkan keluar sampai acara selesai, karena alasan keamanan. Artinya sejak jam 9 pagi hingga jam 5 sore harus terus berada di dalam ruang. Sekalipun beberapa peserta minta ijin keluar untuk merokok, tetap tidak diperbolehkan… hehehe…

Satu hal yang “disayangkan” ialah tidak diperbolehkannya kamera beraksi di dalam rumah ini. Jadi semua yang dilihat hanya bisa direkam dalam ingatan. Mau curi-curi kesempatan motret? Bisa aja, tapi dengan risiko sangat tinggi, karena kamera pengawas tentunya ada dimana-mana… Foto-foto yang ada dihalaman web ini adalah dari berbagai foto di wikipedia.

Hari pertama ternyata harus diakhiri dengan rasa sakit. Yaitu sakit di telapak kaki karena memang tidak terbiasa pakai sepatu sotik yang “maha” keras itu. Akibatnya adalah perjalanan 20 menit dari Clarence House menuju hotel dilakukan dengan sedikit terpincang… (agak ditahan, sedikit jaim). Hal ini memberi pelajaran dimana hari kedua seragam yang dipakai adalah: (tanpa mengurangi rasa hormat pada tuan rumah) masih setia pakai jas biru dongker, dasi tidak dipakai lagi karena suasana sudah lebih santai, dan sepatu sotik ditinggalkan… pakai sepatu kets…

Daripada daripada, kan lebih baik lebih baik…

; )

*/ peta lokasi di Google Maps sila klik disini.
*/ foto-foto saat di London dapat dilihat dengan klik disini.

Posted from London, England, United Kingdom.

Kumandang Adzan yang Tak Pernah Putus

Garis fajar di ufuk timur kota London
Garis fajar di ufuk timur kota London, pemandangan dari jendela Boeing 747-400

Berapa kali kita mendengar adzan, seruan/ajakan menunaikan sholat, dalam sehari..? Dalam kondisi normal, kita hanya mendengar lima kali, sesuai dengan kewajiban harian sholat wajib. Dalam kondisi lain kita bisa mendengar lebih dari itu, misalnya saat adanya gerhana matahari atau bulan, atau saat beberapa kasus khusus lainnya terjadi. Tetapi sadarkah kita bahwa adzan dikumandangkan umat muslim dengan tak pernah putus selama sehari penuh..?

Saat meniti perjalanan ke belahan dunia lain, Oktober tahun 2008 lalu, kesadaran ini kembali muncul dan mengingatkan bahwa adzan selalu berkumandang setiap saat, dan tak pernah berhenti. Yang mengingatkan adalah perjalanan yang seolah berpacu dengan kehadiran sinar matahari.

Start saat matahari telah terbenam di Bandara Soekarno-Hatta, kemudian mampir sebentar di Kuala Lumpur International Airport, dan kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara Heathrow London. Sesaat sebelum mendarat terlihatlah garis fajar yang telah nampak di arah timur.

Garis Fajar dan Senja

Dikejar “garis fajar”, mengejar “garis senja”. Panel pada pesawat yang menggambarkan posisi pesawat terhadap bandara asal dan tujuan.

Bumi berputar pada porosnya, dengan kemiringan sekian derajat terhadap bidang orbit. Disaat bersamaan, tanpa kenal waktu, matahari memberikan sinarnya pada semua benda di sekelilingnya, termasuk bumi. Peristiwa ini menyebabkan bagian permukaan bumi yang tengah menghadap ke matahari akan terkena sinarnya, yang kita namakan “saat siang hari”. Sebaliknya permukaan bumi yang tidak terkena sinar matahari kita sebut dengan “saat malam hari”. Karena bumi berputar pada porosnya tadi, maka seluruh permukaan bumi akan terkena sinar matahari pada waktu yang teratur. Garis hayal yang membatasi “siang” dan “malam” adalah garis saat fajar (disatu bagian) dan garis saat senja (dibagian lain). Kedua garis ini, tanpa sengaja, akan menyapu seluruh permukaan bumi sebagai akibat dari bumi yang berputar tadi.

Pernahkah kita merasa perbedaan sinar matahari saat kita berada di tengah lapang dan saat itu ada awan yang bergerak diatas kita. Ada area terang dan gelap yang merupakan batas terhalangnya sinar matahari oleh awan yang tergambar di permukaan tanah lapang tadi. Ini kondisi yang hampir sama di saat fajar ataupun senja, walau peristiwanya sangat berbeda.

Sadarkah kita saat “sang waktu” berada di sekitar “garis fajar” adalah saat sholat Subuh, demikian pula saat “sang waktu” berada di sekitar “garis senja” adalah saatnya sholat Maghrib..?

Sadarkah kita bahwa “garis fajar” dan “garis senja” tadi akan terus “berjalan” menyapu permukaan bumi tanpa henti kecuali perputaran bumi berhenti..?

Ini artinya adzan saat Subuh dan adzan saat Maghrib terus berkumandang di udara dan bergerak secara sangat teratur “mengelilingi bumi”… Saat adzan selesai dikumandangkan di satu titik maka segera akan disusul oleh adzan di titik yang lain, dan terus dan terus dan terus…

Garis senja
“Garis senja” di wilayah Indonesia (gambar dari Wikipedia)

Bagaimana dengan adzan untuk tiga waktu sholat wajib lainnya, yaitu Dzuhur, Ashar, dan Isya..? Waktu sholat wajib mengikuti jam matahari, sehingga waktunya sangat tergantung pada posisi lintang dan bujur lokasi tersebut dan relatif terhadap “posisi” sinar matahari yang mengenai bumi. Sehingga logika waktu “pergerakan” adzan pun di permukaan bumi akan sama dengan saat waktu Subuh dan Maghrib.

Gelombang adzan tidak akan terputus mengelilingi bumi, dalam waktu matahari, yang relatif terjaga dengan sempurna.

Bayangkan, seandainya kita terbang pada ketinggian tertentu dan berlawanan arah dengan perputaran bumi, pada kecepatan relatif sama dengan kecepatan perputaran bumi, dan kita berada tepat diatas “garis senja” atau “garis fajar”, maka kita akan dengarkan selalu kumandang adzan tak pernah henti. Dan seandainya kita bisa saksikan jemaah muslim bershaf-shaf sedang melakukan ibadah wajibnya, maka kita kan melihat “keindahan beribadah” yang tiada putusnya di seluruh permukaan bumi ini.

Kumandang adzan tidak akan pernah terputus mengelilingi bumi dalam lima waktu utama, dan (mungkin baru akan) terhenti saat bumi berhenti berputar… itulah saat akhir dari kehidupan manusia.

Maha Besar Allah dengan segala kesempurnaan ciptaanNya.

Posted from Hounslow, England, United Kingdom.