Category Archives: London 2008

Memetakan Blog pada Peta Dunia di Peta Cerita

Peta Cerita - hartantosanjaya.name/petacerita
Peta Cerita, memetakan cerita pada peta dunia.

Peta Cerita ini dibuat untuk menyatukan artikel blog yang terkait dengan lokasi dalam satu rangkaian. Idenya adalah untuk memetakan cerita, foto, dan video pada suatu peta daring. Peta Cerita ini untuk memetakan cerita pada peta dunia.

Ide sederhana ini adalah pengembangan dari berbagai peta daring yang sudah pernah dibuat, antara lain Peta Kuliner pada situs BBM Defidi yang telah dimulai dua tahun lalu. Kali ini adalah untuk meletakkan pin bagi semua cerita atau tulisan yang telah dibuat di berbagai blog yang bertemakan perjalanan, dan tentunya semua terkait dengan lokasi.

Membangunnya cukup dengan memanfaatkan semua fasilitas yang telah ada pada Google Maps. Tidak ada pemrograman khusus lainnya yang dilakukan.

Untuk membuatnya lebih semarak maka dimasukkan juga pin untuk foto dan video.

Cerita yang berhasil di-pin-kan baru sedikit, tetapi (semoga) akan terus bertambah, atau kata Google: and counting

Bagi yang ada waktu silakan mampir, klik saja di Peta Cerita.
)

*/ terimakasih untuk bli I Made Andi yang sudah mengompori… : )

Bertamu ke Rumah Pangeran

Clarence House (Wikipedia)
Clarence House (Wikipedia)

Rumah Pangeran itu mempunyai nama, dan namanya adalah Clarence House.

Ini adalah cerita saat mana memenuhi undangan dari The Prince’s Rainforest Project, pada bulan Oktober tahun 2008 lalu.

Pagi itu, Senin 20 Oktober 2008, setelah mandi pagi dan masih kacau dengan waktu akibat perbedaan sekitar 7 jam dengan waktu di kampung halaman, bersiaplah segera untuk keluar kamar dan menuju lobi Hotel Rubens, hotel berbintang empat yang cukup strategis di tengah kota London dan terletak berseberangan dengan kandang kuda istana Buckingham.

Pakai jas biru dongker oleh-oleh dari tim TISDA saat ke Amerika pertengahan 90-an, bersepatu sotik hitam Sin Lie Seng yang merupakan sepatu yang dipakai saat pernikahan (sayang sekali toko Sin Lie Seng di Pasar Baru Jakarta terbakar belum lama ini), dan berdasi rapi, duh jarang banget pake “seragam” kaya gini…

Di lobi telah menunggu banyak rekan yang mempunyai satu tujuan, yaitu menghadiri pertemuan yang bertajuk Remote sensing options for deforestation and degradation monitoring. Masing-masing peserta, yang sebagian sudah saling mengenal, siap dengan hal-hal yang telah diberitahukan “harus dibawa” yaitu undangan dan tanda pengenal diri (Passport). Sekitar jam 8:30 segera kami berangkat menuju lokasi pertemuan, dengan catatan: semua peserta yang berasal dari hotel ini belum pernah datang ke lokasi pertemuan, yaitu di St. James’s Palace, komplek perumahan keluarga istana Kerajaan Inggris.

Perjalanan melewati Buckingham Palace Road, lalu melintasi Victoria Memorial di depan Buckingham Palace, dan terus memutar ke arah Bridgewater House. Ada jalan yang lebih dekat ke Clarence House, tetapi tidak untuk umum, dan rombongan saya ternyata ternasuk kategori “umum” yang harus memutar dulu. Setelah melewati gang di sebelah Bridgewater House, kami berjejer kebelakang sambil lencang depan kemudian istirahat di tempat untuk diperiksa satu persatu oleh petugas keamanan istana. Pemeriksaan ini didampingi oleh panitia penyelenggara dan Nama pada daftar harus sama dengan nama pada Passport. Foto pun dilihat dengan teliti kemudian wajah dipindai oleh mata sang petugas yang badannya guede banget itu.

Lolos pemeriksaan, yang tanpa detektor logam, kami diarahkan menuju Clarence House. Satu persatu kami masuk disambut ramah oleh satu dua panitia, dan disatukan di ruang tamu yang sudah disiapkan penuh dengan buah-buahan daerah tropis kualitas top. Sebelum tuan rumah memulai acara, kami dipersilakan menghangatkan badan dulu dengan berbagai minuman yang memang panas semua, ada kopi panas dan teh panas. Menjadi satu-satunya orang dari Indonesia di tengah sekitar 50an ahli remote sensing dunia… jadi “terpaksa” kuminggris alias berbahasa Inggris-lah… lebih-lebih ternyata beberapa dari mereka adalah “teman lama”. Ada yang dari SPOT Image Perancis, ada yang dari GOFC-GOLD (Global Observation of Forest Cover and Land Cover Dynamics), Michigan State University Amerika, Leeds University Inggris, FAO, dan ada juga yang dari beberapa badan riset dunia yang sudah mengenal Indonesia dengan baik.

Pertemuan kemudian berlangsung menarik sekali, dan bla bla bla… capek. Dua hari yang melelahkan dimulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore dengan hanya jeda coffee break dan makan siang.

Selain pertemuan yang sangat produktif itu, ada banyak hal lain yang asik juga.

Ruang Utama saat memasuki Clarence House
Ruang Utama saat memasuki Clarence House

Lokasi pertemuan, Clarence House, ternyata adalah rumah kediaman Prince Charles (Prince of Wales), putera mahkota Kerajaan Inggris. Rumah ini dulu adalah rumah ibu suri, dan setelah wafat ditempati Pangeran Charles dan kedua putranya, Prince William dan Prince Harry. Saat berada di London maka mereka selalu menempati rumah ini. Sayang sekali saat pertemuan ini mereka sedang tidak berada di London.

Clarence House rumah yang terlihat sangat sederhana. Saat masuk dari arah pintu utama langsung ke ruang besar seperti lorong dengan hiasan dominan adalah lukisan dinding yang besar-besar. Semua perabot yang terlihat adalah perabot klasik, dan tidak terlihat “kecanggihan” jaman modern masuk di ruang ini.

Dari ruang utama ini ada beberapa ruang atau kamar yang dikhususkan untuk keluarga (tamu gak boleh ngintip). Untuk menuju ke ruang makan, ada lorong yang relatif sempit dengan lebar kurang dari 2 meter, yang juga dipenuhi dengan berbagai aksesoris. Bentuk dominan hiasan adalah kuda. Jadi selain lukisan kuda yang hampir memenuhi dinding sepanjang lorong, juga terdapat beberapa hiasan di atas bufet dengan obyek utama kuda. Kuda rupanya adalah hewan kesukaan dan kesayangan ibu suri. Dan setelah mangkatnya ibu suri, semua pernik yang ada tetap dipertahankan di lorong tersebut.

Ruang makan agak berbeda, disana terdapat beberapa lukisan juga, yang merupakan hasil lukis Pangeran Charles sendiri. Dan obyeknya bukanlah kuda. Sebagian lukisan berlatar warna putih. Sangat berbeda dengan berbagai lukisan di ruang utama tadi. Dari ruang makan terdapat banyak jendela besar ke arah taman yang berbatasan dengan The Mall, yaitu jalan utama dari Buckingham Palace ke Trafalgar Square.

Menjadi salah satu tamu di rumah Pangeran Charles, walau sang tuan rumah sedang tidak di rumah, menjadi pengalaman tersendiri yang menarik. Karena rumah ini tidak untuk wisata sehingga semakin terbataslah yang pernah masuk ke gedung bercat putih ini. Tetapi walau merasa istimewa, ada juga rasa yang kurang nyaman, karena setelah masuk tidak diperbolehkan keluar sampai acara selesai, karena alasan keamanan. Artinya sejak jam 9 pagi hingga jam 5 sore harus terus berada di dalam ruang. Sekalipun beberapa peserta minta ijin keluar untuk merokok, tetap tidak diperbolehkan… hehehe…

Satu hal yang “disayangkan” ialah tidak diperbolehkannya kamera beraksi di dalam rumah ini. Jadi semua yang dilihat hanya bisa direkam dalam ingatan. Mau curi-curi kesempatan motret? Bisa aja, tapi dengan risiko sangat tinggi, karena kamera pengawas tentunya ada dimana-mana… Foto-foto yang ada dihalaman web ini adalah dari berbagai foto di wikipedia.

Hari pertama ternyata harus diakhiri dengan rasa sakit. Yaitu sakit di telapak kaki karena memang tidak terbiasa pakai sepatu sotik yang “maha” keras itu. Akibatnya adalah perjalanan 20 menit dari Clarence House menuju hotel dilakukan dengan sedikit terpincang… (agak ditahan, sedikit jaim). Hal ini memberi pelajaran dimana hari kedua seragam yang dipakai adalah: (tanpa mengurangi rasa hormat pada tuan rumah) masih setia pakai jas biru dongker, dasi tidak dipakai lagi karena suasana sudah lebih santai, dan sepatu sotik ditinggalkan… pakai sepatu kets…

Daripada daripada, kan lebih baik lebih baik…

; )

*/ peta lokasi di Google Maps sila klik disini.
*/ foto-foto saat di London dapat dilihat dengan klik disini.

Posted from London, England, United Kingdom.

Kumandang Adzan yang Tak Pernah Putus

Garis fajar di ufuk timur kota London
Garis fajar di ufuk timur kota London, pemandangan dari jendela Boeing 747-400

Berapa kali kita mendengar adzan, seruan/ajakan menunaikan sholat, dalam sehari..? Dalam kondisi normal, kita hanya mendengar lima kali, sesuai dengan kewajiban harian sholat wajib. Dalam kondisi lain kita bisa mendengar lebih dari itu, misalnya saat adanya gerhana matahari atau bulan, atau saat beberapa kasus khusus lainnya terjadi. Tetapi sadarkah kita bahwa adzan dikumandangkan umat muslim dengan tak pernah putus selama sehari penuh..?

Saat meniti perjalanan ke belahan dunia lain, Oktober tahun 2008 lalu, kesadaran ini kembali muncul dan mengingatkan bahwa adzan selalu berkumandang setiap saat, dan tak pernah berhenti. Yang mengingatkan adalah perjalanan yang seolah berpacu dengan kehadiran sinar matahari.

Start saat matahari telah terbenam di Bandara Soekarno-Hatta, kemudian mampir sebentar di Kuala Lumpur International Airport, dan kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara Heathrow London. Sesaat sebelum mendarat terlihatlah garis fajar yang telah nampak di arah timur.

Garis Fajar dan Senja

Dikejar “garis fajar”, mengejar “garis senja”. Panel pada pesawat yang menggambarkan posisi pesawat terhadap bandara asal dan tujuan.

Bumi berputar pada porosnya, dengan kemiringan sekian derajat terhadap bidang orbit. Disaat bersamaan, tanpa kenal waktu, matahari memberikan sinarnya pada semua benda di sekelilingnya, termasuk bumi. Peristiwa ini menyebabkan bagian permukaan bumi yang tengah menghadap ke matahari akan terkena sinarnya, yang kita namakan “saat siang hari”. Sebaliknya permukaan bumi yang tidak terkena sinar matahari kita sebut dengan “saat malam hari”. Karena bumi berputar pada porosnya tadi, maka seluruh permukaan bumi akan terkena sinar matahari pada waktu yang teratur. Garis hayal yang membatasi “siang” dan “malam” adalah garis saat fajar (disatu bagian) dan garis saat senja (dibagian lain). Kedua garis ini, tanpa sengaja, akan menyapu seluruh permukaan bumi sebagai akibat dari bumi yang berputar tadi.

Pernahkah kita merasa perbedaan sinar matahari saat kita berada di tengah lapang dan saat itu ada awan yang bergerak diatas kita. Ada area terang dan gelap yang merupakan batas terhalangnya sinar matahari oleh awan yang tergambar di permukaan tanah lapang tadi. Ini kondisi yang hampir sama di saat fajar ataupun senja, walau peristiwanya sangat berbeda.

Sadarkah kita saat “sang waktu” berada di sekitar “garis fajar” adalah saat sholat Subuh, demikian pula saat “sang waktu” berada di sekitar “garis senja” adalah saatnya sholat Maghrib..?

Sadarkah kita bahwa “garis fajar” dan “garis senja” tadi akan terus “berjalan” menyapu permukaan bumi tanpa henti kecuali perputaran bumi berhenti..?

Ini artinya adzan saat Subuh dan adzan saat Maghrib terus berkumandang di udara dan bergerak secara sangat teratur “mengelilingi bumi”… Saat adzan selesai dikumandangkan di satu titik maka segera akan disusul oleh adzan di titik yang lain, dan terus dan terus dan terus…

Garis senja
“Garis senja” di wilayah Indonesia (gambar dari Wikipedia)

Bagaimana dengan adzan untuk tiga waktu sholat wajib lainnya, yaitu Dzuhur, Ashar, dan Isya..? Waktu sholat wajib mengikuti jam matahari, sehingga waktunya sangat tergantung pada posisi lintang dan bujur lokasi tersebut dan relatif terhadap “posisi” sinar matahari yang mengenai bumi. Sehingga logika waktu “pergerakan” adzan pun di permukaan bumi akan sama dengan saat waktu Subuh dan Maghrib.

Gelombang adzan tidak akan terputus mengelilingi bumi, dalam waktu matahari, yang relatif terjaga dengan sempurna.

Bayangkan, seandainya kita terbang pada ketinggian tertentu dan berlawanan arah dengan perputaran bumi, pada kecepatan relatif sama dengan kecepatan perputaran bumi, dan kita berada tepat diatas “garis senja” atau “garis fajar”, maka kita akan dengarkan selalu kumandang adzan tak pernah henti. Dan seandainya kita bisa saksikan jemaah muslim bershaf-shaf sedang melakukan ibadah wajibnya, maka kita kan melihat “keindahan beribadah” yang tiada putusnya di seluruh permukaan bumi ini.

Kumandang adzan tidak akan pernah terputus mengelilingi bumi dalam lima waktu utama, dan (mungkin baru akan) terhenti saat bumi berhenti berputar… itulah saat akhir dari kehidupan manusia.

Maha Besar Allah dengan segala kesempurnaan ciptaanNya.

Posted from Hounslow, England, United Kingdom.

Greenwich si Pembatas Dunia

Prime Meridian of The World
Prime Meridian of The World, pembagi East dan West Longitude

The City Cruiser akan berlabuh di dermaga Greenwich selama 20 menit. Waktu yang sangat singkat untuk suatu kunjungan di kota “sekelas” Greenwich. Setelah turun dari boat, yang memakan waktu sekitar 5 menit karena harus antri dengan penumpang lain yang cukup banyak, segera mencari peta lokal yang selalu ada di lokasi-lokasi wisata. Saya berjalan dengan Suvit, sementara dua rekan lain, Do Xuan Lan dan Sithong, memisahkan diri entah kemana.

Kami berdua mempunyai tujuan yang sama yaitu Greenwich Park.

Tulisan ini masih lanjutan dari The Series – London 2008.

Continue reading “Greenwich si Pembatas Dunia” »

Posted from London, England, United Kingdom.

Cruise The Thames in Style

Penumpang City Cruises di dek
Penumpang City Cruises di dek

Berlayar di sungai Thames dengan bergaya, kira-kira itulah artinya judul leaflet yang saya terima dari petugas loket City Cruises.  Tepat sesuai jadwal, kapal merapat di dermaga Waterloo Millenium. Para calon peserta pelayaran segera berbaris rapi dan bergerak naik ke kapal. Hampir semua penumpang naik ke dek di bagian atap.

Cuaca lumayanlah. Agak berawan dengan suhu sekitar 12 derajat Celcius. Sinar matahari sesekali menembus barikade awan-awan yang setia menutup kota London sejak pagi. Yang kurang bersahabat adalah angin, sesekali terpaannya begitu kencang yang mampu menembus baju hangat atau jaket dan terasa tajam di kulit.

Hungerford Bridge

Hungerford Bridge

Kapal mulai bergerak dari dermaga Waterloo (atau juga disebut dermaga London Eye, karena letaknya “di bawah” The London Eye) menuju ke arah Timur. Bersamaan dengan menjauhnya kapal dari dermaga, seorang Bapak Pemandu sorak turis segera tampil. Pembawaannya Inggris banget (ya iyala… hehe..). Si Bapak mengawali sapa dengan mencoba guyon, sayangnya hampir sebagian besar penumpang “gak ngeh” guyonnya, tapi justru disitulah lucunya dan yang membuat tawa semua orang. Si Bapak gak peduli dan segera bercerita tentang apa saja yang akan dilewati kapal selama dalam pelayaran ini. Lama pelayaran kapal berlunas ganda ini sekitar 30 menit sebelum menjemput (dan menurunkan) penumpang di dermaga Tower of London, dan bagi sebagian penumpang pelayaran akan dilanjutkan lagi selama 30 menit sebelum sampai dermaga paling ujung dari jalur pelayaran di sungai Thames ini, yaitu dermaga Greenwich. Operator kapal ini hanya dua orang, yaitu pak supir dan pak pemandu turis tadi.

Royal Festival Hall
Royal Festival Hall

Kapal melintas jembatan pertama yaitu Hangerford Bridge. Arsitekturnya bagus, perpaduan antara kuno (jembatan utama di bagian tengah) dan modern (jembatan untuk pejalan kaki di sisi kanan dan kiri jembatan utama). Setelah melewati jembatan ini, di sebelah kanan terdapat Royal Festival Hall.

Royal Festival Hall merupakan salah satu gedung penting di London. Gedung ini mempunyai 2900 tempat duduk, dan di gedung inilah The London Philharmonic Orchestra, orkestra kebanggaan London dan salah satu orkestra terkemuka dunia, selalu memainkan konsernya.

Panorama sekitar Millenium Footbridge
Panorama sekitar Millenium Footbridge, kubah St. Paul Cathedral dibagian kiri.

Kapal terus berjalan mendekati jembatan (lagi) yang bernama Millenium Footbridge. Di sisi kiri terlihat sebuah kapal dengan nama HMS President 1918 (yang menjadi salah satu tempat wisata juga) dan dikejauhan terlihat kubah dari St. Paul’s Cathedral dan beberapa gedung ternama lainnya.

Terdapat banyak sekali jembatan dan juga terowongan sepanjang sungai Thames ini. Sebagian besar jembatan mempunyai kisah “jaman perjuangan” saat Inggris terlibat Perang Dunia. Di lokasi ini juga, sebelum jembatan Footbridge,  terdapat terowongan bawah sungai untuk pengendara sepeda dan pejalan kaki.

The Tower of London
The Tower of London

Banyak lagi yang diceritakan si Bapak Pemandu, dan jika difilemkan suasana di dek kapal maka pasti akan terlihat seru. Si Pak Pemandu satu saat bercerita mengenai gedung atau sesuatu di kiri kapal, tak lama berganti cerita untuk hal lain di kanan kapal, dan terus berganti kiri kanan kiri kanan. Secara gak sengaja, saat melihat reaksi para penumpang, sempet senyum juga melihat mereka secara serempak menoleh ke kiri dan kemudian ke kanan dan ke kiri kembali. Pikir-pikir mirip lihat penonton bulu tangkis atau tenis yang duduk di sisi kanan-kiri lapangan, pandangan mata selalu mengikuti pergerakan bola berpindah-pindah lapangan…

Sungai Thames menjadi buku cerita yang sangat padat sehingga seluruh bagian sisi sungai seolah layak untuk diketahui semua detilnya oleh para turis.

HMS Belfast
HMS Belfast

Tak terasa hampir 30 menit sudah. Kapal mendekati salah satu pemberhentian, yaitu dermaga Tower Bridge, untuk menurunkan sebagian dan menaikkan sebagian penumpang. Sebelum merapat ke sisi kiri sungai, di sisi kanan dapat disaksikan mantan Kapal Perang kerajaan Inggris yang bernama HMS Belfast, yang telah menjadi museum apung juga, sama dengan HMS President yang telah terlewat tadi.

Berseberangan dengan HMS Belfast terdapat The Tower of London. Bangunan ini adalah istana kerajaan jaman dahulu, yang fungsinya selain sebagai istana raja juga sebagai benteng dan penjara. Menara London sering diidentifikasi dengan White Tower, benteng berbentuk persegi yang dibangun oleh William the Conqueror di tahun 1078. Namun, menara secara keseluruhan adalah kompleks beberapa bangunan yang terdiri dari dua cincin konsentris dari dinding dan parit pertahanan.

The Tower Bridge akan dilalui kapal tinggi
The Tower Bridge akan dilalui kapal tinggi

Penumpang dari dermaga Tower sudah turun dan naik. Kapal segera melanjutkan perjalanan ke arah Timur. Jembatan (lagi-lagi jembatan) yang pertama kali ditemui adalah The Tower Bridge. Jembatan ini adalah salah satu bangunan icon di kota London.

Bangunannya merupakan gabungan dari bentuk standar dan jembatan gantung. Kedua menara berfungsi sekaligus sebagai tempat mekanis yang mengendalikan naik-turunnya jembatan. Jembatan ini akan menaikkan bagian tengahnya saat mana ada kapal tinggi yang akan melintas.

Columbia Wharf
Columbia Wharf

Dari dermaga Tower menuju dermaga akhir kapal berjalan relatif lebih cepat daripada saat dari dermaga Waterloo menuju dermaga Tower. Hal ini karena memang jarak tempuh lebih jauh sementara waktu tempuh harus sesuai jadwal yaitu hanya 30 menit.

Rute paruh kedua ini juga tidak banyak gedung atau bangunan “yang patut diketahui turis”. Banyak terdapat dermaga milik kongsi-kongsi dagang dari berbagai negara ataupun “suku”. Mereka masing-masing mempunyai gedung yang khas (entah sebagai gudang atau kantor perdagangan mereka) dan dermaga sendiri.

Dermaga Greenwich
Dermaga Greenwich

Dan 30 menit perjalanan yang menempuh jarak sekitar 7 km pun segera berakhir. Di sisi kanan segera terlihat dermaga yang cukup untuk sekitar tiga buah kapal berjajar. Dermaga ini merupakan dermaga akhir dari perjalanan dengan kapal milik City Cruises ini, Dermaga Greenwich.

Kapal akan sandar selama 20 menit, dan akan segera kembali ke rute arah barat menuju Tower dan Waterloo.

Segera antri turun bersama penumpang lainnya dengan harapan besar segera dapat menemukan garis “batas dunia”…!!!

Greenwich… akhirnya…!!!
)

album foto perjalanan: sila klik disini,
cerita ini masih bersambung, sila ikuti disini

Posted from London, England, United Kingdom.

Buckingham dan The London Eye

Buckingham Palace
Buckingham Palace

Melangkahkan kaki keluar dari Hotel Rubens, menembus suhu yang tidak normal bagi penghuni katulistiwa, sekitar 10 derajat Celcius, adalah tantangan yang mengasyikkan. Peta kota sudah siap di tangan, dan sasaran pertama adalah obyek terdekat: Buckingham Palace.

Dari hotel segera menyusuri Buckingham Palace Road ke arah Utara, dan sekitar 450 meter sampailah di muka istana yang megah. Pagar tinggi yang berdiri kokoh memisahkan pengunjung dengan dinding istana sejauh 40 meter.

Halaman istana ini kosong melompong tidak ada benda atau tetumbuhan apapun. Bangunan yang digunakan pimpinan Kerajaan Inggris Raya sejak tahun 1837 ini terdiri dari 775 ruang, merupakan tempat tinggal Ratu Inggris saat ini. Dari pinggir pagar para turis hanya bisa menyaksikan goyangan penjaga berjambul (atau topi?) hitam, bentuk khas penjaga istana kerajaan. Di depan istana terdapat tugu peringatan Victoria.

 

img_6400
Penjaga istana

Dari istana segera menyusuri The Mall, arah Timur Laut, yang merupakan jalan besar menuju Admiralty Arch diujungnya. Sebelum jauh berjalan, mampir dulu ke “jaga monyet” di Stable Yard Road, dan sempat foto bareng dengan pengawal istana yang bertopi tinggi.

Para pengawal ini berdiri dengan menyandang senjata terbungkus rapi, dan yang khas tentunya adalah topi hitam nan tinggi. Beberapa turis yang minta foto bareng semet menggoda sang penjaga tetapi mereka bergeming. Mungkin jika ketahuan “beramah-tamah” dengan turis maka hukumanlah hadiahnya. Di dekat para pengawal ini terdapat seorang polisi yang juga mengawasi para turis di gerbang Stabe Yard Road ini. Berbeda dengan si penjaga, pak Polisi sangat ramah dan bersedia bercakap dengan para turis.

Perjalanan di The Mall menuju Admiralty Arch cukup menyenangkan karena sempat disuguhi iringan penjaga istana berkuda. Pasukan berkuda ini berseragam merah dengan topi logam kekuningan dengan kucir tinggi diatasnya. Kuda yang dinaiki guede-guede bangettt. Semua kuda berwarna hitam dengan warna putih pada ujung kaki, seolah sang kuda memakai kaos kaki.

Mendekati Admiralty Arch, belok kanan melalui Horse Guards Road, dan melintas gedung Horse Guard, yang merupakan bangunan para pengawal berkuda, dibangun pada 1751-1753. Saat keluar dari gerbang gedung ini, hujan turun. Walah repot. Untungnya gak lama, dan perjalanan dilanjutkan menuju arah Selatan melalui Whitehall Road. Setelah melintas Downing Street (tempatnya Perdana Menteri Inggris), segera belok kiri ke arah Timur. Disinilah letak Big Ben yang termashur dengan menara Jam-nya dalam lingkungan Palace of Westminster.

The London Eye
The London Eye

Perut yang laper, karena belum sarapan, memaksa mampir sejenak di minimarket seberang Big Ben. Setelah menyantap 2 keping roti sandwich isi ikan, perjalanan dilanjutkan menuju Westminster Bridge, gak jauh dari minimarket tersebut. Westminster Bridge Road yang melintas Westminster Bridge sangat ramai dilalui turis.

Tidak mengherankan karena dari jembatan ini pemandangan Big Ben dan juga sungai Thames sangat asik. Dari jembatan ini juga terlihat The London Eye, bangunan berbentuk seperti roda sepeda yang sangat besar dan dari ketinggian kabin yang ikut berputar (total ada 32 kabin atau kapsul) bisa melihat seluruh kota London (katanya, karena belum mencoba). Tinggi yang bisa dicapai penumpangnya untuk menyaksikan kota London adalah 135 meter.

Melintas Westminster Bridge, langkah kaki kemudian mendekat ke arah The London Eye, karena ingin tahu dari dekat sepeti apa sebenarnya bangunan kebanggaan London karya abad modern ini, yang mulai dioperasikan sejak bulan Maret tahun 2000. Dan… tiket yang cukup mahal menghalangi usaha mencoba menaiki kapsul berputar ini (kasian yah..). Tetapi, kekecewaan segera terobati sesaat setelah melihat adanya tour menyusuri sungai Thames.

Kapal Tour berlatar Big Ben
Kapal Tour berlatar Big Ben

City Cruises ini menjadi sangat menarik saat terlihat pada papan bahwa tour ini berujung di Greenwich..!!!

Tiket return segera dibeli seharga GBP 9.8 (saat membeli karcis maka pikiran tidak melakukan konversi mata uang, karena jika dilakukan maka pembelian karcis akan terhenti dan gagal, hehehe…).

Setelah tiket siap di tangan maka segera antri ke dermaga apung yang letaknya relatif di bawah The London Eye, menunggu kapal yang akan membawa menyusur sungai Thames.

Sambil menunggu jemputan, sempat ambil beberapa gambar Big Ben yang berdiri megah di seberang sana, juga beberapa foto The London Eye dari arah bawah. Lumayanlah, punya koleksi foto The London Eye dari beberapa sudut. Setidaknya bisa terekam dengan lebih jelas “benda canggih di London” yang belom sempat dinaiki ini…
)

album foto perjalanan: sila klik disini,
cerita ini masih bersambung, sila ikuti disini

Posted from London, England, United Kingdom.

Hijrah ke London

Dikejar fajar
Dikejar fajar

Meminjam judul salah satu karya the Changcuters dalam album Mencoba Sukses Kembali, Hijrah ke London, cerita Kondangan di Perbatasan Dunia dilanjutkan. Ini karena cuplikan lagu tersebut disinggung oleh beberapa rekan dalam merespon di berbagai kesempatan terkait acara kondangan ini, baik di blog maupun di plurk

Boeing 747-400 dengan kode penerbangan MH002 yang tertunda keberangkatannya dari KLIA segera mengudara. Perjalanan berdurasi sekitar 13 jam pun dimulai. Kali ini terasa layanan “antarbangsa” yang (memang seharusnya) disuguhkan oleh awak kabin. Fasilitas pesawat juga ok. Tiap penumpang dapat menikmati layar kecil di depannya, yang berisi belasan film (dan juga games) dimana masing-masing film rerata mempunyai 4 bahasa yang berbeda disertai subtitle bahasa arab.

Yang menarik salah satunya adalah Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (sila lihat situsnya). Film produksi Lucas FIlm ini penuh dengan adegan mengasyikkan dari Harrison Ford sebagai Indiana Jones yang bertualang (dan bertemu) dengan anak dan istrinya di hutan Amazon…

Berbagai hidangan nikzat berkali-kali mampir sebelum akhirnya semua lampu dipadamkan untuk menggiring penumpang segera tidur. Penerbangan kali ini seolah melintas malam sekaligus dikejar fajar. Dari monitor lokasi terlihat bahwa saat pesawat mendekati LHR (bandara Heathrow, London) maka garis fajar pun tiba menyusul dari arah buritan pesawat.

Fajar menjelang
Fajar menjelang

Boeing berputar sejenak beberapa kali di atas London yang penghuninya mungkin masih terlelap. Dari jendela terlihat keindahan London dengan gemerlap lampu kotanya. Dan saat posisi pesawat berputar dari arah utara ke selatan, terlihat pemandangan yang luar biasa.

Kerlip lampu kota London, sungai Thames yang sudah terlihat semakin jelas, dibarengi dengan warna kemunculan fajar di horison. Subhanallah indahnya bumi Mu…

Boeing akhirnya mendarat di Heathrow pada jam 7:15 waktu setempat. Waktu London saat itu berbeda 6 jam lebih lambat dibandingkan dengan WIB. Suhu setempat adalah 9 derajat Celcius. Penumpang semua terlihat letih, walaupun sekitar 13 jam duduk, makan, makan, makan dan nonton film serta tidur. Tetep aja gak senyaman di rumah sendiri… hehe…

Dari garbarata, yang menghubungkan pesawat dengan bangunan bandara, segera menuju antrian imigrasi. Sambil mengisi “landing card”, maka antrilah di barisan yang melingkar hingga sepuluh lapis. Untunglah tidak terlihat ada pendatang yang bermasalah, sehingga antrian segera berlalu dengan relatif cepat. Dari sekian petugas (lebih dari 10 loket pemeriksaan imigrasi) terdapat juga beberapa petugas wanita dan ada yang berjilbab. Saat di depan petugas imigrasi, hanya ada satu pertanyaan yang dilontarkan: apa tujuan anda ke London. Dan cukup dijawab dengan singkat: workshop. Bereslah urusan…

Berikutnya adalah menemukan penjemput di pintu keluar. Charlotte sang panitia, melalui email, telah memberi tahu apa yang harus dilakukan setelah dari imigrasi, yaitu menuju pintu keluar dan temukan penjemput yang membawa nama, tertulis di kertas. Saat keluar pintu, wow, buanyak banget penjemput dengan nama di kertas, mungkin puluhan. Mereka semua berjejer rapi seperti berbaris, sehingga penumpang (yang dijemput) secara otomatis mencari sesuai dengan barisan mereka. Dibutuhkan waktu dua kali keliling sebelum menemukan penjemput dengan nama saya… wew…

Dasbor Prius
Dasbor Prius

Si penjemput saya adalah supir taksi sewaan. Segera ia ambil alih bawaan koper (saat itu hanya bawa satu koper sedang dan satu tas ransel gendong sedang) dan mengarahkan langkah menuju tempat parkir di lantai 3. Sesaat sebelum keluar ruang bandara pak supir antri sejenak di tempat pembayaran parkir otomatis, baru kemudian menuju ke mobil yang diparkir. Udara luar segera bersentuhan dengan kulit manusia dari daerah tropis. Duingine reeek…

Mobil taksi yang digunakan untuk menjemput ok juga. Mobil ini bertenaga hybrid bernama Prius dengan nomor polisi LR06 ACJ. Gile, canggih mobilnya… (kalo gak percaya sila klik disini). Saat berhenti maka mobil memakai tenaga batere, dan saat bergerak memakai tenaga mesin biasa. Pada dasbor terlihat panel yang menggambarkan kondisi distribusi tenaga saat ini.

Keluar dari gedung parkir, segera masuk lorong agak panjang. Lorong ini adalah jalan keluar dari bandara Heathrow yang melewati kolong salah satu landas pacu bandara. Setelah itu mulailah memasuki jalan-jalan panjang menuju pusat kota.

Sang supir agak terlihat songong, dengan badan yang mirip Rafael Benitez (manajer dan pelatih Liverpool), tidak bersuara apapun. Asik dengan PDA yang terletak di dasbor kanan dan terkoneksi dengan GPS, yang menunjukkan jalur jalan yang harus dilalui. Masuk London pertama dalam hidup, jika diawali dengan “kesunyian” maka tidaklah elok. Maka segera ambil inisiatif pembicaraan.

Pertanyaan pertama adalah: “Pir, apakah anda suka sepakbola..?” (tentunya dalam bahasa setempat). Pertanyaan sederhana ini tanpa diduga dengan segera dapat mencairkan suasana. Segeralah meluncur obrolan seputar EPL (English Primer League, ini bukan berarti Liga Utama berbahasa Inggris, ehm…). Pertandingan semalam antara Liverpool dan Wigan, yang sempat nonton bareng di KLIA, segera meluncur. Lalu berlanjut dengan membahas beberapa posisi mengejutkan, antara lain prestasi tak terduga pendatang baru EPL, Hull City yang saat itu sedang nangkring di peringkat ketiga klasemen sementara, dibawah Chelsea dan Liverpool tetapi diatas Arsenal dan Manchester United. Juga dibicarakan tentang kemenangan Inggris atas Kazakhstan dalam kualifikasi Piala Dunia 2010.

Pak supir sempat bertanya juga apakah Indonesia mempunyai kesebelasan nasional, dan bagaimana dengan prestasi dalam kualifikasi Piala Dunia. Juga apakah Indonesia mempunyai liga dan seperti apa. Pertanyaan-pertanyaan yang mudah diucapkan tetapi sulit dijawab dengan penjelasan singkat… hiks…

Hotel Rubens
Hotel Rubens

Bahasa sepakbola adalah bahasa universal, saat mana terbukti bisa mencairkan suasana, dan kemudian, pak supir menjadi tourist guide dengan menunjukkan banyak tempat menarik selama dalam perjalanan menuju hotel. Antara lain beberapa museum terkemuka (gak apal namanya), lokasi penting yang sring disebut-sebut dalam pemberitaan ataupun film, juga pertokoan termahal di London, Harolds. Perjalanan yang ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit pun berakhir di depan hotel yang telah disediakan panitia.

Hotel Rubens terletak di jalan Buckingham Palace Road nomor 39. Pak supir segera menurunkan koper dari bagasi dan mengucap selamat menikmati London. Makasih Pak. Kaki segera melangkah masuk lobi hotel sembari kedinginan. Saat itu pukul 9:15, dan segeralah check-in di petugas reception. Alhamdulillah, nama sudah tersedia pada daftar booking. Dan semua pengurusan sangat gampang dan cepat. Panitianya memang mooi…

Tidak lama kemudian datanglah beberapa tamu lagi. Wow rupanya tampang mereka sudah kenal. Do Xuan Lan (dari Vietnam), Sithong Tongmanifong (dari Laos) dan Suvit Ongsomwang (dari Thailand). Suvit adalah yang paling senior di antara kami. Dia juga pernah tinggal di Yogya, dan bahasa Indonesia pun bisa. Mereka bertiga adalah rekan lama saat kami bersama dalam kegiatan Land Use and Land Cover Changes di Asia Tenggara, yang tergabung dalam SEARRIN (South East Asia Regional Research and Information Network, sila lihat situsnya dengan klik disini). Ramailah suasana… Rupanya mereka juga datang pada saat hampir bersamaan tetapi tentunya dengan pesawat yang berbeda.

Mmm… kemudian, ditengah kegembiraan bertemu dengan teman lama, kami segera menerima berita yang kurang (kalau tidak bisa dikatakan “sangat tidak”) nyaman dari petugas hotel:

“Bapak-bapak sekalian, waktu check-in adalah pukul 2 siang. Saat ini anda tidak dapat masuk ke kamar karena sebagian masih terisi atau belum siap. Silakan menunggu di lobi atau berjalan keluar hingga waktunya tiba…”

Well well well… menunggu jam 2 berarti empat jam duduk di lobi setelah 13 jam duduk di pesawat..? Gak mungkinlah. Dan akhirnya, sebagai tamu yang baik, maka patuhlah kami menerima saran kedua dari petugas. Kami segera menitipkan koper di petugas hotel, mengambil peta lokasi sekitar pada meja penerima tamu, dan segeralah melenggang keluar hotel.

Menembus suhu luar yang sudah menghangat, saat itu sekitar 11 derajat Celsius, berangin, agak gerimis, dengan perut lapar karena belum sarapan…
)

album foto perjalanan: sila klik disini,
cerita ini masih bersambung, sila ikuti disini

Posted from London, England, United Kingdom.