Plesiran ke Indonesia dari Go-Asia dan Dari-Java

dari-java.nl
dari-java.nl

Dari-Java adalah jasa wisata di negeri Belanda yang menawarkan paket-paket perjalanan ke Indonesia. Keunikan dari jenis jasa yang ditawarkan adalah para turis menikmati perjalanannya sendiri selama di Indonesia. Hanya didampingi oleh pengemudi kendaraan yang menjemput di bandara, kemudian turis menikmati perjalanan sesuai keinginan tetapi dengan rute dan penginapan tertentu.

Contohnya, turis datang di Jakarta, kemudian perjalanan berlanjut ke Jawa Barat, lalu Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, lalu menyeberang ke Bali. Turis kembali ke Belanda melalui gerbang internasional di bandara Ngurah Rai Bali.

Situs web Dari-Java adalah dari-java.nl.

Dari-Java juga mempunyai layanan lain untuk beberapa negara asia, melalui keterangan di situs go-asia.nl.

go-asia.nl
go-asia.nl

Welkom in Indonesië, om.. tante.. meneer en mevrouw..

*/ : )

Posted from Enschede, Overijssel, Netherlands.

MelaliBali untuk Menikmati Bali

MelaliBali
MelaliBali

Mungkin sekali terdapat ratusan atau lebih jasa pemandu wisata di pulau dewata, Bali. Salah satu yang bisa dicoba kehandalannya adalah MelaliBali. Mereka menyediakan berbagai paket wisata yang cukup menarik. Kontak, sesuai yang ada situs saat saya menulis posting ini, bisa ke PIN BB: 2b126bde, atau WhatsApp: +6281236482345. Buka Kantor: Senin s/d Minggu Jam : 09.00 – 24.00. Atau untuk info terkini silakan kesitus webnya saja di: melalibali.com.

Posted from Denpasar, Bali, Indonesia.

Perjalanan ke Negeri di Balik Bumi

Melintas samudera : )
Melintas samudera : )

Perjalanan selalu mengasyikkan bagi yang menyukainya. Banyak hal menarik dialami tentunya. Yang jelas harus mau repot dan kreatif menghadapi semua hal.

Kali ini saya, alhamdulillah, berkesempatan mengunjungi negeri di balik bumi. Dengan perbedaan waktu 12 jam dari total waktu sehari yang 24 jam berarti lokasinya pas berada di balik bumi nusantara.

Perjalanan yang panjang tentunya. Melelahkan pastinya. Tetapi akan banyak cerita hadir sebagai akibatnya.

Untuk perjalanan panjang ini saya mencoba membuat blog khusus dengan nama C2A atau Coming to America. Kenapa harus khusus? Karena cerita disana selalu sambung menyabung dan kait mengait yang tidak perlu lagi repot menerangkan hubungannya dalam tiap postingan.

Sedangkan blog ini, akan tetap mengalir sebagaimana biasa. Isinya tetap campur sari… 🙂

Yang berkesempatan waktu sila kunjungi blog C2A atau Coming to America ya.
)

Kupon Belanja Makanan di AIT

Kupon Belanja di AIT (1996).
Kupon Belanja di AIT (1996).

Tahun 1996, mondok beberapa hari di AIT (Asian Institute of Technology), yang berlokasi sekian kilometer dari Bangkok, Thailand. Salah satu yang asik adalah cara membeli makanannya.

Makanan Thai memang banyak yang enak, tapi nggak semua bisa dikonsumsi begitu saja. Demikian juga dilingkungan kampus AIT.

Di kampus ini disediakan tempat makan atau semacam “pujasera”. Beragam makanan ada disini. Terdapat juga “konter halal” yang menyediakan makanan dijamin halal. Setidaknya yang jualan adalah muslim dan memasang label halal di konternya.

Cara membeli makanan disini adalah menggunakan kupon belanja. Kita harus beli kupon dulu sebesar sekian bath. Dikupon terdapat angka-angka besaran tertentu yang menggambarkan besar nilai dalam bath.

Saat belanja makanan maka kita sodorkan saja kupon tersebut. Misalnya harga total adalah 6 bath maka angka 5 dan 1 pada kupon akan dicoret oleh si penjual.

Selain untuk belanja makanan di pujasera ini, kupon dapat juga dipakai untuk belanja di toko makanan kemasan. Misalnya untuk beli kudapan, mi instan atau minuman botol.

Sistem pembelian dengan kupon ini entahlah apakah masih berlaku saat ini. Mungkin sudah berubah pakai “uang plastik” atau yang lain.
)

Posted from Khlong Nung, Pathum Thani, Thailand.

Ada Sapi di Runaway Bandara

Landasan Bandara Olilit Saumlaki (2005).
Landasan Bandara Olilit Saumlaki (2005).

Ada sapi di landasan pacu (runaway) bandara? Bagaimana bisa? Bukankah itu daerah steril yang harus bebas dari semua aktivitas, terutama pelintasan, saat pesawat udara akan take-off atau landing?

Demikianlah seharusnya, kawasan bandara tentunya punya peraturan sangat ketat terutama terkait aktivitas pesawat terbang, karena ini menyangkut nyawa manusia yang tak ternilai harganya. Tetapi bagaimana mungkin ada binatang bisa masuk area terlarang tersebut?

Dari beberapa pengalaman memerhatikan lingkungan di sekitar bandara, secara tak khusus, saya melihat banyak sekali kemungkinan lolosnya pengawasan terhadap hewan saat mana seharusnya landasan pacu steril. Hewan ini bisa saja hewan ternak yang terlepas atau memang biasa dilepas oleh pemiliknya, sesuai dengan kebiasaan setempat. Dan lebih sering adalah hewan liar seperti babi atau kawanan babi yang memang hidup di sekitar bandara. Apalagi jika bandara belum dilengkapi dengan pagar yang cukup handal untuk menghalau hewan.

Jika bicara hewan liar, kejadian membahayakan terkait adanya hewan di landasan pacu tidak hanya terjadi di tanah air, tetapi juga di banyak bandara internasional. Bandara Charles de Gaulle di Perancis, contohnya, pun direpotkan oleh kawanan kelinci yang berkembang biak sangat cepat di dalam kawasan bandara, dan dapat mengakibatkan kecelakaan juga.  Bahkan, Charles de Gaulle harus memulai “Operasi Kelinci” untuk memerangi masalah tersebut. Alasannya adalah kelinci yang hidup di daerah berumput di dekat landasan pacu meninggalkan kotoran. Kotoran yang mengundang kedatangan tikus. Burung yang menukik ke bawah untuk memburu tikus. Dan pesawat lepas landas atau mendarat berada dalam bahaya karena burung dapat terhisap ke dalam mesin.

Saat berada di Bandara Olilit, Saumlaki, Maluku Tenggara Barat pada tahun 2005, saya sempat bermain di bandara dalam rangka mendukung operasi Tanimbar, yaitu perekaman citra terumbu karang dengan menggunakan sensor hyperspectral. Saat itu bandara lumayan sepi, karena penerbangan komersial hanya dua kali seminggu, yaitu hari Minggu dan Rabu saja.

Meskipun demikian, saat pesawat akan landing ataupun take-off, petugas bandara harus memastikan (secara manual, langsung ke landasan pacu) terkait dengan kemungkinan terjadi pelintasan hewan ternak ataupun liar yang (sedang) berada di sekitar bandara. Saya sempat mengikuti petugas dimana ia harus mengawasi dari ujung ke ujung landasan, dan bersiap dengan senjata untuk ditembakkan pada hewan yang akan melintas landasan saat mana pesawat segera akan take-off/landing.

Cukup mendebarkan, karena kemungkinan terjadinya pelintasan hewan tersebut bisa kapan saja dan secara tiba-tiba. Yang paling mengerikan adalah babi dimana dengan tubuh yang relatif kecil (dibandingkan sapi), gerakannya lebih cepat dalam memasuki kawasan landasan pacu. Petugas selalu siap dengan senjata, dan ini mirip di-film… ciyusss…

Mungkin saat ini kondisi di Bandara Olilit sudah semakin baik dari segi pencegahan pelintasan hewan ini (tentunya).

Lokasi Bandara Olilit pada Google Maps adalah sebagai berikut:

P: Bandara Olilit di Saumlaki.

 

_

Posted from Maluku, Indonesia.

Situ Buleud dan Pesta Petasan di Purwakarta

Sumber gambar: http://sweetclipart.com/
Sumber gambar: http://sweetclipart.com/

Beberapa letusan di udara Bogor malam ini mengingatkan saat bermalam di kota Purwakarta pada minggu pertama bulan Ramadhan tahun ini. Saat itu Hotel tempat menginap adalah hotel yang bersebelahan dengan Situ Buleud.

Situ Buleud adalah danau/situ di tengah kota Purwakarta, tempat yang teduh saat siang hari, karena ditumbuhi oleh pohon-pohon rindang di seputaran situ. Sore dan malam lokasi ini adalah tempat berkumpulnya anak muda dengan berbagai gaya.

Malam itu, setelah selesai santap malam, saya mencoba menikmati suasana Situ Buleud dengan mengitarinya. Jalan di depan Hotel telah penuh dengan kelompok-kelompok anak muda. Para penikmat nongkrong ini terlihat berkelompok-kelompok dan semua asik dengan mengobrol dan bermain gadget. Sementara itu motor, sebagai kendaraan sekaligus identitas kelompok berjajar parkir di tepi jalan dekat mereka.

Terlihat juga beberapa konvoi motor yang berputar kesana-kemari, entah maksudnya apa. Mencari lokasi nongkrong atau sedang mencari perhatian kelompok lainnya. Tidak terlihat suasana permusuhan, setidaknya malam itu.

Yang membuat saya sedikit terkesan saat berjalan di sekitar mereka adalah suasananya yang mengerikan. Lho..? Suasana tanpa permusuhan tapi mengerikan..?

Ya, karena mereka, hampir semua, kelompok bermain dengan petasan. Dar der dor suara petasan disana-sini. Petasan pun tidak hanya yang berledakan besar ke udara, tapi juga yang dilempar ke jalan. Beberapa kali saya harus berhenti sejenak karena ada petasan terlempar ke jalan yang akan saya lalui. Menunggu hingga petasan meledak, baru saya meneruskan langkah. Kehati-hatian saya meningkat karena, tentunya, saya tidak mau menjadi korban ledakan, sekecil apapun ledakannya, pada saat saya melintas.

Apakah “kemeriahan petasan” ini terjadi hanya dalam bulan puasa saja, atau memang sudah menjadi tradisi harian, entahlah. Yang jelas suasana ini mengurangi keberanian saya menjelajah seluruh lingkaran Situ Buleud.

Terus terang saya menyukai suasana ramainya anak muda di seputaran situ ini, tapi sekaligus juga tidak menyukai ledakan mercon, apalagi yang sengaja dilemparkan di tengah jalan umum. Berbahaya kan..?
)

Titik perhatian sepanjang garis perjalanan