Mampir ke Tepi Sungai Schelde

Painted GlassMol, Belgia, Minggu pagi di bulan September 2005. Setelah bersepeda dari Guest House yang terletak di tengah komplek nuklir terpencil, dan sarapan sambil menikmati pasar pekan (openmarkt) khusus unggas dan ikan di centrum kota Mol, segera meluncur ke stasiun yang terletak di Hangarstraat. Sepeda parkir di tempat parkir sebelah barat stasiun dan gak lupa dikunci. Langsung beli karcis spoor tujuan kota Antwerpen. Harga sekali jalan 6.8 Euro. Gak lama nunggu, segera datang kereta dan mulai nikmati perjalanan tepat pukul 10.47.

Kota-kota yang terlewati antara lain Geel, Olen, Herentals, Lier, dan Berchem. Antwerpen Centraal terinjak sekitar 11.45. Cukup indah dan masih terasa kemegahannya, stasiun kereta tua yang dibangun seratus tahun lalu, sudah banyak mengalami sentuhan teknologi terkini. Informasi turis, di lantai dasar, menyediakan peta kota yang cukup simpel dan memudahkan pengunjung yang ingin mengeksplor kota tua ini. Continue reading “Mampir ke Tepi Sungai Schelde” »

Posted from Antwerp, Flanders, Belgium.

Ukiran pasir di Pantai Tumbur

Ukiran-1Pantai Tumbur, dengan posisi pada 131°21’41.4″ BT – 7°52’27.4″ LS, merupakan salah satu sudut keindahan Pulau Yamdena. Bukan hanya pantai berpasir yang luas, ombak yang besar dan posisi yang berhadapan langsung dengan daratan Australia, tapi juga mempunyai penghuni pantai yang piawai dalam mengukir pantai.

Penghuni berjenis kepiting kecil ini membuat bulir-bulir pasir dan menyusunnya dengan indah di sekitar lubang rumahnya. Berbagai bentuk yang artistik banyak dijumpai di sepanjang bentang pantai berpasir tebal ini.

Ukiran-2Ukiran-3Ukiran-4Ukiran-5

Jika diperhatikan saat mereka mengerjakannya, terlihat sekali kemampuannya dalam membuat atau membentuk bola dari pasir yang berada di dalam liang rumah, kemudian mendorong dengan cepat ke berbagai posisi. Disadari atau tidak, tata letak yang dihasilkan sangat indah dipandang mata… : )

Pantai Iboih

Pantai IboihMembaca Kompas rubrik Sosok terbitan hari ini, tentang pak Dodent, jadi inget Pantai Iboih di Pulau Weh. Pantai yang terletak gak jauh dari Pantai Gapang, dan mempunyai keindahan plus, yaitu taman laut yang ruarrr biasa indahnya.

Pantai Iboih terletak pada posisi 5°52’33.42″ LU dan 95°15’22.55″ BT, berhadapan dengan Pulau Rubiah, pulau kecil tempat persinggahan jemaah haji nusantara sebelum dan setelah ke Mekah pada jaman dahulu, saat kendaraan utama ke tanah suci adalah kapal laut.

Kondisi sekitar pulau Rubiah dipenuhi oleh coral-reef yang beragam jenis, dan tentunya menjadi rumah bagi beragam ikan. Saat sebelum bencana tsunami pada 26 Desember 2004, keindahannya bisa dinikmati dengan kapal kecil yang mempunyai kaca dibagian bawah, sehingga kita bisa saksikan kehidupan laut dari atas kapal dengan nyaman. Tapi bagi penyinta selam atau senorkel, tentunya lebih asik lagi kalo langsung nyemplung kedalam air.

RubiahArus laut dan juga ombak di sisi “luar” pulau Rubiah agak besar, sedangkan di sisi “dalam” (yang menghadap lengsung ke pantai Iboih) sangat tenang. Cocok sekali untuk ber-senorkel-ria. Tapi asik juga bagi yang gak bisa berenang, dan menikmatinya dari atas perahu. Kejernihan air sangat menunjang dalam menikmati berlama-lama kehidupan bawah laut dari permukaan.

September 1997, saat tugas ke Sabang bareng rekan-rekan BPPT dalam rangka Jambore IPTEK di Pantai Gapang, sempat bermalam di rumah penginapan di lereng tebing pantai Iboih. Berbaur dengan turis mancanegara, dan menikmati kondisi alami yang ada. Lebatnya hutan disekitar pantai Iboih yang merupakan daerah tangkapan air, menyebabkan kayanya air tanah sehingga penetrasi air laut ke darat gak terlalu besar, terbukti sumur yang terletak di pantai airnya gak terasa payau, tapi terasa air tawar biasa.

Pantai IboihAwal Desember 2004, saat main ke Iboih dengan keluarga, sangat menyenangkan. Dengan naik kapal berkaca, anak-anak menikmati kehidupan laut dari kapal. Goyangan kapal akibat ombak gak terasa karena asiknya dengan pemandangan kehidupan yang ada dibawah sana… wow… Akibatnya jelas, tiap memasuki masa libur pasukan krucil selalu menuntut jalan ke Sabang lagiii… : )

Posted from Aceh, Indonesia.

Pulau “Kirin” di Weluan

Pulau Kirin di Weluan

Awal September 2005, saat berjalan ke Indonesia bagian Tenggara, dan menginap beberapa hari di Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, gw berkesempatan main ke pantai Weluan. Pantai yang cukup enak karena masih relatif bersih dari sampah pengunjung, dan juga sempet berkunjung ke 2 pulau dekat pantai tersebut.

Kedua pulau ini sangat unik dan dihuni banyak burung besar yang transit dalam perjalanan lintasbenua tahunan mereka. Salah satu pulau mengingatkan pada salah satu buku favorit, karya Enid Blyton, The Famous Five (atau beredar disini dengan judul seri Lima Sekawan). Lima Sekawan terdiri dari Julian, Dick, dan Anne, yang selalu senang berlibur ke rumah Paman Quentin dan Bibi Fanny, dan berpetualang seru dengan sepupu si tomboy Georgina yang lebih suka dipanggil George. Juga dengan si anjing nan cerdik, Timmy…! Continue reading “Pulau “Kirin” di Weluan” »

Pulau Weh – 2

“mo ke Gapang thn baru?”, petikan sms yang gw terima tanggal 30 desember 2005, sekitar jam 18.00 dari Ali Taufik. Gapang? Dimana Gapang? Apa Gapang? Njawabnya jelas gapang-gapang susah… Gara-gara sms itu gw jadi nerusin cerita perjalanan di Pulau Weh.

Pulau KlahMasih tentang rentetan pantai indah di Pulau Weh, Gapang adalah salah satunya. Pantai Gapang lokasinya cuma sekitar 7 km dari kota Sabang, ini kalo mau ambil jalan terdekat yaitu lewat laut alias naik boat, dengan jalur lurus… Tapi kalo lewat darat sekitar 23 km, dengan jalan beraspal yang cukup nyaman dilalui. Perjalanan diawali dari Kota Atas ke arah Kota Bawah Timur (?), terus nelusuri jalan samping pantai, setelah melewati danau Aneuk Laot segera sampai ke tanjakan agak terjal. Pada posisi tanjakan ini, jika sempet, berenti sebentar, liat arah kanan. Wow, pulau Klah keliatan asik punya. Pulau Klah adalah pulau kecil di teluk Sabang. Dari titik ini juga bisa diliat Ujong Lho’ Me (tempat tangki milik Pertamina), dan pemandangan sebagian kota Sabang.

Terus ke arah Selatan, kita masuki wilayah Paya Seunara, daerah penghasil sayuran yang cukup subur. Dan sesampai di Lho Ba Jumpa, ada pertigaan, segera ambil arah ke Barat. Di Ujong Gurutong, daerah Seurui, ada juga pantai pasir putih, walaupun pasirnya tidak terlalu banyak. Di sini (katanya) ada air terjun. Sayang gw belom sempet main ke air terjun. Nah, perjalanan diteruskan, en jangan lupa beli pisang. Untuk makan di jalan? Ya, tapi bukan untuk makan kita, ini untuk makan monyet liar yang mulai ditemui setelah kita sampai di hutan bertanjakan terjal, gak jauh dari Ujong Gurutong tadi. Para kawanan monyet akan segera menyambut, tiap kali mereka denger ada mobil melintas. Dari salah satu tempat, tikungan tajam, ada titik pandang yang cukup indah. Dari titik ini bisa dinikmati salah satu teluk yang asik punya (sayang gw lupa namanya).

Gapang BeachSelepas dari hutan yang punya kanopi cukup lebat ini, segera ditemui beberapa rumah penduduk, dan gak jauh, di sebelah kanan, kita temui jalan masuk Pantai Gapang. Dengan tulisan yang cukup besar dan gerbang yang mencolok, Pantai Gapang menyambut kita. Bagian depan lokasi wisata ini terdapat beberapa bengunan dan juga dermaga kecil yang didirikan pada tahun 1997 saat di lokasi ini diselenggarakan Jambore IPTEK. Masuk lebih kedalam, pantai dengan pasir putih yang luas dan panjang segera ditemui. Pantai yang relatif landai, dengan dibentengi pepohonan sebagai peneduh jalan dan sekaligus sebagai tempat istirahat yang nyaman sambil memandang laut. Di sepanjang pantai ini juga terdapat beberapa rumah yang menawarkan jasa penginapan, dan juga tempat penyewaan peralatan diving dan snorkeling.

Pantai pasir putih yang indah, dan berbentuk seperti teluk, diapit oleh dermaga di sebelah barat dan bebatuan hitam di sebelah timur. Wow, sangat nyaman untuk menikmati suasana pagi, siang, sore, dan tentunya malam tahun baru… seperti ajakan Ali Taufik melalui sms… Sayang, gw gak bisa hadir dikeindahan pantai gapang dipergantian tahun kali ini…

Disalin ulang dari jalan.ID: Pulau Weh – 2 di 360.yahoo.com.

Posted from Aceh, Indonesia.

Pulau Weh – 1

Teluk SabangBulan Mei lalu, masih di 2005, gw kembali menginjakkan kaki di pelabuhan Balohan, pintu gerbang memasuki wilayah administrasi Kota Sabang. Wilayah ini, semua juga tau, adalah wilayah paling pojok barat negara Indonesia. Suasana masih serupa saat awal Desember 2004, saat gw juga kesini. Keluar dari Kapal Cepat, semua penumpang diwajibkan memperlihatkan tanda pengenal, dan jika bukan KTP Merah Putih maka akan banyak pertanyaan menyusul. KTP Merah Putih adalah KTP khusus yang saat itu berlaku di daerah Provinsi NAD, ukurannya dua kali KTP biasa, dengan warna merah-putih. Lepas dari para pengawal negeri berbaju hijau, gw mulai menikmati keindahan perjalanan dari Balohan menuju Sabang.

Balohan – Sabang, ini perjalanan kelima yang gw alami. Pertama, Agustus 1997 , saat itu bareng dengan Laju dan dijemput oleh rekan disini, bang Iwan dan bang Amin, pake Kijang kapsul. Kedua, tahun yang sama tapi dibulan September, dan kali ini (juga dengan Laju) naik kendaraan umum, Mitsubishi L300 dengan tempat penumpang di bak belakang. Ketiga, bulan Agustus 2004, juga dengan Laju dan dijemput oleh bang Taufik dan Azwardi (T-A). Keempat, awal Desember 2004, kali dengan Micky dan juga keluarga gw, dijemput bang T-A dengan Avanza dan sedan Toyota eks Singapur. Kali ini, Mei 2005, dijemput oleh bang T-A dan beberapa rekan dengan bis mini.

Perjalanan dari Balohan ke kota Sabang melalui jalan yang agak berliku dan penuh dengan tanjakan dan turunan. Di daerah Mata Ie, tanjakan sudah lebar dan di Cot Ba’u ada turunan tajam yang sudah dialihkan jadi sudah agak landai. Dibeberapa tempat masih cukup curam. Kanan kiri jalan relatif sepi dari rumah penduduk, karena kiri jalan relatif curam sedangkan kanan jalan sebagian adalah tebing. Jalan ini rupanya ada tepat di daerah fault/patahan . Memasuki kota Sabang, yang berada di bagian Utara Pulau Weh, keramaian langsung terasa.

Ingat Sabang, ingat Merauke, setidaknya itu adalah rangkaian kata dalam lagu Dari Sabang sampai Merauke , hasil karya R. Surarjo, yang sudah huapal banget sejak SD. Rangkaian kata ini juga masih marak dalam pidato, pengantar laporan, juga iklan-iklan.

Pulau Weh, pulau serba ada. Mau gunung api? Ada yang masih ngebul, bisa ditemui di daerah Jaboi. Mau Danau, ada juga, namanya Danau Aneuk Laot, yang merupakan salah satu sumber utama air tawar kota Sabang. Mau keindahan pantai ? Wah ini banyak banget.

Danau Aneuk Laot

Kunjungan ke pantai bisa dimulai dari kota Sabang ke arah Timur kemudian sisir ke Selatan. Ada Pantai Kasih (sayang sekali terkena dampak yang cukup parah dari Tsunami Desember 2004), ada Pantai Tapak Gajah dan Pantai Sumur Tiga dengan pasir putih nya. 3 kilometer ke Selatan ada Pantai Ujung Kareung, tempat mancing yang ideal, ikan buanyak dalam jarak 25 meter dari pantai dan dengan kejernihan airnya… Jauh ke Selatan lagi, ada pantai Anoi Itam, pasir disini telihat berwarna hitam. Sebelum sampai Anoi Itam, ada benteng Buvark di Ujong Meutigo. Benteng ini di pinggir pantai dan cukup tinggi dari permukaan laut, menghadap ke Timur. Masih ada meriam yang tertinggal. Pemandangan dari ketinggian ini sangat indah. Air laut yang jernih menyibak keindahan bebatuan didasarnya…

Disalin ulang dari jalan.ID: Pulau Weh – 1 di 360.yahoo.com.

Posted from Sabang, Aceh, Indonesia.

Titik perhatian sepanjang garis perjalanan