Tag Archives: Besemah

Tanah Seribu Cughub (Ekspedisi Pagaralam bag-2)

Cughup Embun yang cukup tinggi...
Cughup Embun yang cukup tinggi…

Cughub adalah sebutan untuk air terjun. Air sungai yang jatuh dari ketinggian. Terjadi karena banyak penyebab peristiwa alam, dan kadang juga bisa dibuat oleh manusia. Pagaralam kaya akan cughub alami ini.

Kota Pagaralam terletak di kaki Gunung Dempo, yang merupakan salah satu gunung dalam Pegunungan Bukitbarisan. Gunung Dempo masih mempunyai tutupan lahan yang alami, demikian juga wilayah pegunungan di sekitarnya. Hal ini tentunya menjadikan sumber resapan yang luar biasa dari air tanah.

Mata air banyak terdapat di lereng wilayah ini. Hal ini menghasilkan sumber dari sungai-sungai yang sangat banyak. Morfologi pegunungan menjadikan aliran sungai kecil sekalipun dapat menjadi air terjun yang indah saat “terjun bebas” dari ketinggian.

Dari hasil survey yang dilakukan Pemerintah Kota, sampai saat ini telah terdata lebih dari 50 air terjun yang ada di wilayah Pagaralam. Beberapa diantaranya telah menjadi obyek wisata, tetapi masih banyak lagi yang belum tersentuh wisata walau keindahannya luar biasa.

Cughub Mangkok dan cughub Embun adalah contoh yang sudah dikelola dengan baik oleh Pemko. Cughub Mangkok berlokasi di   4° 0’49.37″S – 103°11’18.07″E, di lokasi tersebut dibuat bendungan kecil sehingga menjadi lokasi mandi/berenang alami yang menyegarkan. Terdapat ruang ganti pakaian, dan juga tempat parkir dan kedai makanan ringan.

Sementara itu Cughub Embun ( 4° 0’57.87″S – 103°11’38.71″E) merupakan aliran terusan dari cughub Mangkok. Untuk menikmatinya kita harus turun melalui tangga semen sekitar 30 meter dalamnya. Keindahannya… wow… Di dinding dekat dengan tempat jatuhnya air terdapat gua kecil, dengan bermacam kisah yang melekat… asik. Dinamakan Embun karena percikan air yang terasa dingin sepeti embun. Jika aliran air sedang deras, maka percikan tadi dapat membasahi kita dalam jarak yang cukup jauh. Ini karena ketinggian terjunnya.

Air terjun Mangkok dan Embun merupakan aliran dari sungai Air Parikan masuk dalam wilayah kelurahan Dempo Makmur. Selain itu, dalam kelurahan ini ada juga cughub Tujuh Kenangan dan Penyumpahan.

Bagaimana dengan air terjun yang masih belum tersentuh wisata..? Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah cughub Cungkuk di kelurahan Muara Siban. Air terjun ini terletak di tengah perkebunan kopi rakyat dan hutan sekunder, pada aliran sungai Air Putih Gheni. Untuk mencapainya perlu menerobos pepohonan kopi sekitar 40 meter, kemudian turun tebing dengan kedalaman sekitar 20 meter. Lumayan repot karena memang belum ada jalan atau undakan khusus yang dibuat.

Keunikan air tejun Cungkuk ini adalah ia mempunyai tujuh tingkat jatuhan air. Dan tidak jauh dari air terjun ini (sekitar 20 meter) ada air terjun dari sungai lain yang bergabung di sungai yang sama. Lokasi keduanya adalah di   4° 4’23.20″S – 103°13’42.41″E.

Cughub Cungkuk
Cughub Cungkuk (kiri) dan Kabuan (kanan), berdekatan menyatu menjadi satu aliran

Ada juga cughub yang berasal dari aliran sungai yang besar. Untuk ini sudah banyak dikenal orang dan terlihat jelas dari jalan utama Lahat – Pagaralam. Air terjun ini bernama Air Terjun Lematang Indah, yang merupakan aliran dari Sungai Lematang. Lokasinya di   4° 4’21.92″S – 103°19’22.10″E.

Banyaknya air terjun merupakan salah satu keuntungan tersendiri. Selain dapat dimanfaatkan untuk wisata alam yang menarik, untuk beberapa lokasi dapat juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik mikro/mini hidro. Yang telah dibuat sebagai pembangkit listrik minihidro yaitu di daerah kelurahan Candi Jaya.

Ke Pagaralam tanpa menikmati air terjunnya yang indah serasa belum pas… : )

*/ tulisan bagian-2 dari Ekspedisi Pagaralam
*/ peta lokasi foto-foto dapat dilihat di  http://bit.ly/petafotoPGA 

Posted from Pagar Alam, South Sumatra, Indonesia.

Mengunjungi Negeri Besemah (Ekspedisi Pagaralam bag-1)

Tugu Besemah, terletak dekat dengan Air Terjun Lematang Indah
Tugu Besemah, terletak dekat dengan Air Terjun Lematang Indah

Pertengahan Juli 2011 saya berkesempatan mendatangi suatu wilayah di lereng dan kaki Gunung Dempo. Daerah yang saya kunjungi bernama Kota Pagaralam, suatu wilayah administrasi Kota yang dibentuk berdasarkan UU No.28 tahun 2001. Sebagaimana wilayah lainnya di Indonesia, Pagaralam mempunyai “jargon” khas: “besemah“.

Kata “besemah” mempunyai arti singkatan dari: Bersih, Sejuk, Aman, dan Ramah Tamah. Hanya itu saja artinya..? Setelah mengenal lebih dalam, kata BESEMAH ternyata mempunyai arti lain, tidak sekedar singkatan dari 4 kata seperti ditulis diatas.

Besemah, berasal dari kata SEMAH yang merupakan nama sejenis ikan. Ikan ini adalah ikan khas daerah sekitar Gunung Dempo, dan diyakini saat ini menuju kepunahan. Selain berarti nama ikan, Semah juga merupakan nama sungai yang terdapat di desa Tebat Gunung, Kecamatan Dempo Selatan.

Kota Pagaralam sendiri terdiri dari lima kecamatan, yaitu: Pagaralam Utara, Pagaralam Selatan, Dempo Utara, Dempo Tengah, dan Dempo Selatan.

Di sungai Semah, diyakini merupakan tempat ikan Semah berada, yang ditemukan pertama kali oleh kakek leluhur di daerah tersebut, yaitu Puyang Atung Bungsu.

Ikan Semah ini kemudian juga ditemukan di beberapa sungai di Pagaralam, sehingga kemudian muncul sebutan Besemah, yang berasal dari Ber (mempunyai, kemudian dilafalkan: “be”) Semah: Besemah. Sehingga wilayah Pagaralam dan sekitarnya, yang ditemukan ikan semah di sungai-sungainya yang banyak itu, disebut sebagai tanah Besemah hingga sekarang.

Ada juga istilah yang sering terdengar, yaitu: Jagat Besemah. Ini adalah istilah yang diberikan untuk suatu masa kekuasaan dalam sejarah wilayah Besemah. Pemerintahan ini berpusat di Besemah Lebar atau sekarang di desa Banua Keling. Masa pemerintahan ini sekitar abad 14 Masehi, yang dipimpin oleh Puyang Atung Bungsu, dan berupa pemerintahan Keratuan.

Wilayah Jagat Besemah ini meliputi Pagaralam (sekarang), dan juga sebagian Lampung, sebagian lagi wilayah di Sumatera Selatan (sebagian dari Lahat, Muara Enim, Empat Lawang), dan sebagian lagi wilayah di Bengkulu.

Pada masa pendudukan Belanda, daerah Besemah juga dikenal sebagai basis pejuang Besemah yang merepotkan Belanda. Perang terbuka antara tentara Belanda dan pejuang Besemah terjadi pertama kali pada Juni 1866. Pertempuran ini terjadi di desa Guru Agung, tak jauh dari benteng Penandingan, yang merupakan benteng pertahanan pejuang Besemah.

Kondisi perlawanan ini terus berlanjut hingga jaman kekuasaan Jepang, hingga kemudian tercapainya kemerdekaan Indonesia.

Jika kita dalam perjalanan dari Lahat menuju ke Pagaralam, maka setelah memasuki wilayah Pagaralam, dan melintasi jembatan sungai Lematang, akan kita dapati tugu Besemah. Tugu yang dipucuknya terdapat patung ikan besemah.

*/ tulisan bagian-1 dari Ekspedisi Pagaralam
*/ peta lokasi foto-foto dapat dilihat di  http://bit.ly/petafotoPGA 

Posted from Pagar Alam, South Sumatra, Indonesia.