Tag Archives: Buckingham Palace

Bertamu ke Rumah Pangeran

Clarence House (Wikipedia)
Clarence House (Wikipedia)

Rumah Pangeran itu mempunyai nama, dan namanya adalah Clarence House.

Ini adalah cerita saat mana memenuhi undangan dari The Prince’s Rainforest Project, pada bulan Oktober tahun 2008 lalu.

Pagi itu, Senin 20 Oktober 2008, setelah mandi pagi dan masih kacau dengan waktu akibat perbedaan sekitar 7 jam dengan waktu di kampung halaman, bersiaplah segera untuk keluar kamar dan menuju lobi Hotel Rubens, hotel berbintang empat yang cukup strategis di tengah kota London dan terletak berseberangan dengan kandang kuda istana Buckingham.

Pakai jas biru dongker oleh-oleh dari tim TISDA saat ke Amerika pertengahan 90-an, bersepatu sotik hitam Sin Lie Seng yang merupakan sepatu yang dipakai saat pernikahan (sayang sekali toko Sin Lie Seng di Pasar Baru Jakarta terbakar belum lama ini), dan berdasi rapi, duh jarang banget pake “seragam” kaya gini…

Di lobi telah menunggu banyak rekan yang mempunyai satu tujuan, yaitu menghadiri pertemuan yang bertajuk Remote sensing options for deforestation and degradation monitoring. Masing-masing peserta, yang sebagian sudah saling mengenal, siap dengan hal-hal yang telah diberitahukan “harus dibawa” yaitu undangan dan tanda pengenal diri (Passport). Sekitar jam 8:30 segera kami berangkat menuju lokasi pertemuan, dengan catatan: semua peserta yang berasal dari hotel ini belum pernah datang ke lokasi pertemuan, yaitu di St. James’s Palace, komplek perumahan keluarga istana Kerajaan Inggris.

Perjalanan melewati Buckingham Palace Road, lalu melintasi Victoria Memorial di depan Buckingham Palace, dan terus memutar ke arah Bridgewater House. Ada jalan yang lebih dekat ke Clarence House, tetapi tidak untuk umum, dan rombongan saya ternyata ternasuk kategori “umum” yang harus memutar dulu. Setelah melewati gang di sebelah Bridgewater House, kami berjejer kebelakang sambil lencang depan kemudian istirahat di tempat untuk diperiksa satu persatu oleh petugas keamanan istana. Pemeriksaan ini didampingi oleh panitia penyelenggara dan Nama pada daftar harus sama dengan nama pada Passport. Foto pun dilihat dengan teliti kemudian wajah dipindai oleh mata sang petugas yang badannya guede banget itu.

Lolos pemeriksaan, yang tanpa detektor logam, kami diarahkan menuju Clarence House. Satu persatu kami masuk disambut ramah oleh satu dua panitia, dan disatukan di ruang tamu yang sudah disiapkan penuh dengan buah-buahan daerah tropis kualitas top. Sebelum tuan rumah memulai acara, kami dipersilakan menghangatkan badan dulu dengan berbagai minuman yang memang panas semua, ada kopi panas dan teh panas. Menjadi satu-satunya orang dari Indonesia di tengah sekitar 50an ahli remote sensing dunia… jadi “terpaksa” kuminggris alias berbahasa Inggris-lah… lebih-lebih ternyata beberapa dari mereka adalah “teman lama”. Ada yang dari SPOT Image Perancis, ada yang dari GOFC-GOLD (Global Observation of Forest Cover and Land Cover Dynamics), Michigan State University Amerika, Leeds University Inggris, FAO, dan ada juga yang dari beberapa badan riset dunia yang sudah mengenal Indonesia dengan baik.

Pertemuan kemudian berlangsung menarik sekali, dan bla bla bla… capek. Dua hari yang melelahkan dimulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore dengan hanya jeda coffee break dan makan siang.

Selain pertemuan yang sangat produktif itu, ada banyak hal lain yang asik juga.

Ruang Utama saat memasuki Clarence House
Ruang Utama saat memasuki Clarence House

Lokasi pertemuan, Clarence House, ternyata adalah rumah kediaman Prince Charles (Prince of Wales), putera mahkota Kerajaan Inggris. Rumah ini dulu adalah rumah ibu suri, dan setelah wafat ditempati Pangeran Charles dan kedua putranya, Prince William dan Prince Harry. Saat berada di London maka mereka selalu menempati rumah ini. Sayang sekali saat pertemuan ini mereka sedang tidak berada di London.

Clarence House rumah yang terlihat sangat sederhana. Saat masuk dari arah pintu utama langsung ke ruang besar seperti lorong dengan hiasan dominan adalah lukisan dinding yang besar-besar. Semua perabot yang terlihat adalah perabot klasik, dan tidak terlihat “kecanggihan” jaman modern masuk di ruang ini.

Dari ruang utama ini ada beberapa ruang atau kamar yang dikhususkan untuk keluarga (tamu gak boleh ngintip). Untuk menuju ke ruang makan, ada lorong yang relatif sempit dengan lebar kurang dari 2 meter, yang juga dipenuhi dengan berbagai aksesoris. Bentuk dominan hiasan adalah kuda. Jadi selain lukisan kuda yang hampir memenuhi dinding sepanjang lorong, juga terdapat beberapa hiasan di atas bufet dengan obyek utama kuda. Kuda rupanya adalah hewan kesukaan dan kesayangan ibu suri. Dan setelah mangkatnya ibu suri, semua pernik yang ada tetap dipertahankan di lorong tersebut.

Ruang makan agak berbeda, disana terdapat beberapa lukisan juga, yang merupakan hasil lukis Pangeran Charles sendiri. Dan obyeknya bukanlah kuda. Sebagian lukisan berlatar warna putih. Sangat berbeda dengan berbagai lukisan di ruang utama tadi. Dari ruang makan terdapat banyak jendela besar ke arah taman yang berbatasan dengan The Mall, yaitu jalan utama dari Buckingham Palace ke Trafalgar Square.

Menjadi salah satu tamu di rumah Pangeran Charles, walau sang tuan rumah sedang tidak di rumah, menjadi pengalaman tersendiri yang menarik. Karena rumah ini tidak untuk wisata sehingga semakin terbataslah yang pernah masuk ke gedung bercat putih ini. Tetapi walau merasa istimewa, ada juga rasa yang kurang nyaman, karena setelah masuk tidak diperbolehkan keluar sampai acara selesai, karena alasan keamanan. Artinya sejak jam 9 pagi hingga jam 5 sore harus terus berada di dalam ruang. Sekalipun beberapa peserta minta ijin keluar untuk merokok, tetap tidak diperbolehkan… hehehe…

Satu hal yang “disayangkan” ialah tidak diperbolehkannya kamera beraksi di dalam rumah ini. Jadi semua yang dilihat hanya bisa direkam dalam ingatan. Mau curi-curi kesempatan motret? Bisa aja, tapi dengan risiko sangat tinggi, karena kamera pengawas tentunya ada dimana-mana… Foto-foto yang ada dihalaman web ini adalah dari berbagai foto di wikipedia.

Hari pertama ternyata harus diakhiri dengan rasa sakit. Yaitu sakit di telapak kaki karena memang tidak terbiasa pakai sepatu sotik yang “maha” keras itu. Akibatnya adalah perjalanan 20 menit dari Clarence House menuju hotel dilakukan dengan sedikit terpincang… (agak ditahan, sedikit jaim). Hal ini memberi pelajaran dimana hari kedua seragam yang dipakai adalah: (tanpa mengurangi rasa hormat pada tuan rumah) masih setia pakai jas biru dongker, dasi tidak dipakai lagi karena suasana sudah lebih santai, dan sepatu sotik ditinggalkan… pakai sepatu kets…

Daripada daripada, kan lebih baik lebih baik…

; )

*/ peta lokasi di Google Maps sila klik disini.
*/ foto-foto saat di London dapat dilihat dengan klik disini.

Posted from London, England, United Kingdom.

Buckingham dan The London Eye

Buckingham Palace
Buckingham Palace

Melangkahkan kaki keluar dari Hotel Rubens, menembus suhu yang tidak normal bagi penghuni katulistiwa, sekitar 10 derajat Celcius, adalah tantangan yang mengasyikkan. Peta kota sudah siap di tangan, dan sasaran pertama adalah obyek terdekat: Buckingham Palace.

Dari hotel segera menyusuri Buckingham Palace Road ke arah Utara, dan sekitar 450 meter sampailah di muka istana yang megah. Pagar tinggi yang berdiri kokoh memisahkan pengunjung dengan dinding istana sejauh 40 meter.

Halaman istana ini kosong melompong tidak ada benda atau tetumbuhan apapun. Bangunan yang digunakan pimpinan Kerajaan Inggris Raya sejak tahun 1837 ini terdiri dari 775 ruang, merupakan tempat tinggal Ratu Inggris saat ini. Dari pinggir pagar para turis hanya bisa menyaksikan goyangan penjaga berjambul (atau topi?) hitam, bentuk khas penjaga istana kerajaan. Di depan istana terdapat tugu peringatan Victoria.

 

img_6400
Penjaga istana

Dari istana segera menyusuri The Mall, arah Timur Laut, yang merupakan jalan besar menuju Admiralty Arch diujungnya. Sebelum jauh berjalan, mampir dulu ke “jaga monyet” di Stable Yard Road, dan sempat foto bareng dengan pengawal istana yang bertopi tinggi.

Para pengawal ini berdiri dengan menyandang senjata terbungkus rapi, dan yang khas tentunya adalah topi hitam nan tinggi. Beberapa turis yang minta foto bareng semet menggoda sang penjaga tetapi mereka bergeming. Mungkin jika ketahuan “beramah-tamah” dengan turis maka hukumanlah hadiahnya. Di dekat para pengawal ini terdapat seorang polisi yang juga mengawasi para turis di gerbang Stabe Yard Road ini. Berbeda dengan si penjaga, pak Polisi sangat ramah dan bersedia bercakap dengan para turis.

Perjalanan di The Mall menuju Admiralty Arch cukup menyenangkan karena sempat disuguhi iringan penjaga istana berkuda. Pasukan berkuda ini berseragam merah dengan topi logam kekuningan dengan kucir tinggi diatasnya. Kuda yang dinaiki guede-guede bangettt. Semua kuda berwarna hitam dengan warna putih pada ujung kaki, seolah sang kuda memakai kaos kaki.

Mendekati Admiralty Arch, belok kanan melalui Horse Guards Road, dan melintas gedung Horse Guard, yang merupakan bangunan para pengawal berkuda, dibangun pada 1751-1753. Saat keluar dari gerbang gedung ini, hujan turun. Walah repot. Untungnya gak lama, dan perjalanan dilanjutkan menuju arah Selatan melalui Whitehall Road. Setelah melintas Downing Street (tempatnya Perdana Menteri Inggris), segera belok kiri ke arah Timur. Disinilah letak Big Ben yang termashur dengan menara Jam-nya dalam lingkungan Palace of Westminster.

The London Eye
The London Eye

Perut yang laper, karena belum sarapan, memaksa mampir sejenak di minimarket seberang Big Ben. Setelah menyantap 2 keping roti sandwich isi ikan, perjalanan dilanjutkan menuju Westminster Bridge, gak jauh dari minimarket tersebut. Westminster Bridge Road yang melintas Westminster Bridge sangat ramai dilalui turis.

Tidak mengherankan karena dari jembatan ini pemandangan Big Ben dan juga sungai Thames sangat asik. Dari jembatan ini juga terlihat The London Eye, bangunan berbentuk seperti roda sepeda yang sangat besar dan dari ketinggian kabin yang ikut berputar (total ada 32 kabin atau kapsul) bisa melihat seluruh kota London (katanya, karena belum mencoba). Tinggi yang bisa dicapai penumpangnya untuk menyaksikan kota London adalah 135 meter.

Melintas Westminster Bridge, langkah kaki kemudian mendekat ke arah The London Eye, karena ingin tahu dari dekat sepeti apa sebenarnya bangunan kebanggaan London karya abad modern ini, yang mulai dioperasikan sejak bulan Maret tahun 2000. Dan… tiket yang cukup mahal menghalangi usaha mencoba menaiki kapsul berputar ini (kasian yah..). Tetapi, kekecewaan segera terobati sesaat setelah melihat adanya tour menyusuri sungai Thames.

Kapal Tour berlatar Big Ben
Kapal Tour berlatar Big Ben

City Cruises ini menjadi sangat menarik saat terlihat pada papan bahwa tour ini berujung di Greenwich..!!!

Tiket return segera dibeli seharga GBP 9.8 (saat membeli karcis maka pikiran tidak melakukan konversi mata uang, karena jika dilakukan maka pembelian karcis akan terhenti dan gagal, hehehe…).

Setelah tiket siap di tangan maka segera antri ke dermaga apung yang letaknya relatif di bawah The London Eye, menunggu kapal yang akan membawa menyusur sungai Thames.

Sambil menunggu jemputan, sempat ambil beberapa gambar Big Ben yang berdiri megah di seberang sana, juga beberapa foto The London Eye dari arah bawah. Lumayanlah, punya koleksi foto The London Eye dari beberapa sudut. Setidaknya bisa terekam dengan lebih jelas “benda canggih di London” yang belom sempat dinaiki ini…
)

album foto perjalanan: sila klik disini,
cerita ini masih bersambung, sila ikuti disini

Posted from London, England, United Kingdom.