Tag Archives: GMT

Greenwich si Pembatas Dunia

Prime Meridian of The World
Prime Meridian of The World, pembagi East dan West Longitude

The City Cruiser akan berlabuh di dermaga Greenwich selama 20 menit. Waktu yang sangat singkat untuk suatu kunjungan di kota “sekelas” Greenwich. Setelah turun dari boat, yang memakan waktu sekitar 5 menit karena harus antri dengan penumpang lain yang cukup banyak, segera mencari peta lokal yang selalu ada di lokasi-lokasi wisata. Saya berjalan dengan Suvit, sementara dua rekan lain, Do Xuan Lan dan Sithong, memisahkan diri entah kemana.

Kami berdua mempunyai tujuan yang sama yaitu Greenwich Park.

Tulisan ini masih lanjutan dari The Series – London 2008.

Continue reading “Greenwich si Pembatas Dunia” »

Posted from London, England, United Kingdom.

Buckingham dan The London Eye

Buckingham Palace
Buckingham Palace

Melangkahkan kaki keluar dari Hotel Rubens, menembus suhu yang tidak normal bagi penghuni katulistiwa, sekitar 10 derajat Celcius, adalah tantangan yang mengasyikkan. Peta kota sudah siap di tangan, dan sasaran pertama adalah obyek terdekat: Buckingham Palace.

Dari hotel segera menyusuri Buckingham Palace Road ke arah Utara, dan sekitar 450 meter sampailah di muka istana yang megah. Pagar tinggi yang berdiri kokoh memisahkan pengunjung dengan dinding istana sejauh 40 meter.

Halaman istana ini kosong melompong tidak ada benda atau tetumbuhan apapun. Bangunan yang digunakan pimpinan Kerajaan Inggris Raya sejak tahun 1837 ini terdiri dari 775 ruang, merupakan tempat tinggal Ratu Inggris saat ini. Dari pinggir pagar para turis hanya bisa menyaksikan goyangan penjaga berjambul (atau topi?) hitam, bentuk khas penjaga istana kerajaan. Di depan istana terdapat tugu peringatan Victoria.

 

img_6400
Penjaga istana

Dari istana segera menyusuri The Mall, arah Timur Laut, yang merupakan jalan besar menuju Admiralty Arch diujungnya. Sebelum jauh berjalan, mampir dulu ke “jaga monyet” di Stable Yard Road, dan sempat foto bareng dengan pengawal istana yang bertopi tinggi.

Para pengawal ini berdiri dengan menyandang senjata terbungkus rapi, dan yang khas tentunya adalah topi hitam nan tinggi. Beberapa turis yang minta foto bareng semet menggoda sang penjaga tetapi mereka bergeming. Mungkin jika ketahuan “beramah-tamah” dengan turis maka hukumanlah hadiahnya. Di dekat para pengawal ini terdapat seorang polisi yang juga mengawasi para turis di gerbang Stabe Yard Road ini. Berbeda dengan si penjaga, pak Polisi sangat ramah dan bersedia bercakap dengan para turis.

Perjalanan di The Mall menuju Admiralty Arch cukup menyenangkan karena sempat disuguhi iringan penjaga istana berkuda. Pasukan berkuda ini berseragam merah dengan topi logam kekuningan dengan kucir tinggi diatasnya. Kuda yang dinaiki guede-guede bangettt. Semua kuda berwarna hitam dengan warna putih pada ujung kaki, seolah sang kuda memakai kaos kaki.

Mendekati Admiralty Arch, belok kanan melalui Horse Guards Road, dan melintas gedung Horse Guard, yang merupakan bangunan para pengawal berkuda, dibangun pada 1751-1753. Saat keluar dari gerbang gedung ini, hujan turun. Walah repot. Untungnya gak lama, dan perjalanan dilanjutkan menuju arah Selatan melalui Whitehall Road. Setelah melintas Downing Street (tempatnya Perdana Menteri Inggris), segera belok kiri ke arah Timur. Disinilah letak Big Ben yang termashur dengan menara Jam-nya dalam lingkungan Palace of Westminster.

The London Eye
The London Eye

Perut yang laper, karena belum sarapan, memaksa mampir sejenak di minimarket seberang Big Ben. Setelah menyantap 2 keping roti sandwich isi ikan, perjalanan dilanjutkan menuju Westminster Bridge, gak jauh dari minimarket tersebut. Westminster Bridge Road yang melintas Westminster Bridge sangat ramai dilalui turis.

Tidak mengherankan karena dari jembatan ini pemandangan Big Ben dan juga sungai Thames sangat asik. Dari jembatan ini juga terlihat The London Eye, bangunan berbentuk seperti roda sepeda yang sangat besar dan dari ketinggian kabin yang ikut berputar (total ada 32 kabin atau kapsul) bisa melihat seluruh kota London (katanya, karena belum mencoba). Tinggi yang bisa dicapai penumpangnya untuk menyaksikan kota London adalah 135 meter.

Melintas Westminster Bridge, langkah kaki kemudian mendekat ke arah The London Eye, karena ingin tahu dari dekat sepeti apa sebenarnya bangunan kebanggaan London karya abad modern ini, yang mulai dioperasikan sejak bulan Maret tahun 2000. Dan… tiket yang cukup mahal menghalangi usaha mencoba menaiki kapsul berputar ini (kasian yah..). Tetapi, kekecewaan segera terobati sesaat setelah melihat adanya tour menyusuri sungai Thames.

Kapal Tour berlatar Big Ben
Kapal Tour berlatar Big Ben

City Cruises ini menjadi sangat menarik saat terlihat pada papan bahwa tour ini berujung di Greenwich..!!!

Tiket return segera dibeli seharga GBP 9.8 (saat membeli karcis maka pikiran tidak melakukan konversi mata uang, karena jika dilakukan maka pembelian karcis akan terhenti dan gagal, hehehe…).

Setelah tiket siap di tangan maka segera antri ke dermaga apung yang letaknya relatif di bawah The London Eye, menunggu kapal yang akan membawa menyusur sungai Thames.

Sambil menunggu jemputan, sempat ambil beberapa gambar Big Ben yang berdiri megah di seberang sana, juga beberapa foto The London Eye dari arah bawah. Lumayanlah, punya koleksi foto The London Eye dari beberapa sudut. Setidaknya bisa terekam dengan lebih jelas “benda canggih di London” yang belom sempat dinaiki ini…
)

album foto perjalanan: sila klik disini,
cerita ini masih bersambung, sila ikuti disini

Posted from London, England, United Kingdom.

Kondangan di Perbatasan Dunia

Buckingham Palace
Buckingham Palace

Kondangan, kata yang saya pahami sebagai: menghadiri undangan. Terminologi gak umum ini sangat melekat didiri saya sejak tinggal dan besar di kampung nun di seberang laut sana. Dan tulisan kali ini tentang kondangan yang lokasinya juauh banget dari kampung Ciparigi, tempat tinggal saya saat ini.

Rangkaian ini dimulai saat di kantor ada workshop bertajuk Climate Change, Carbon and Mitigation Opportunities yang disampaikan oleh teman lama, Jay Samek, dari Michigan State University, USA. Pada pertemuan tersebut Jay mengharapkan kedatangan saya pada pertemuan teknis remote sensing untuk kegiatan pengamatan hutan hujan, yang akan berlangsung di London pada bulan Oktober 2008. Saya setuju dan mengambil sikap negatif alias hanya menunggu kabar saja, karena kegiatan ini bukanlah pihak MSU (dimana Jay berada) yang mengadakan. Jadi semua terpulang pada panitia.

Pada 22 September, malam Selasa, dapat email dari Miss Charlotte, undangan untuk menghadiri pertemuan London, yang akan dilaksanakan pada 20 dan 21 Oktober 2008. Kegiatan ini dilaksanakan oleh The Prince’s Rainforest Project, semacam yayasan milik Pangeran Charles. Segera setelah memberi tahu para petinggi di kantor, untuk mendapatkan ijin tentunya, langsung balas email ke Charlotte bahwa saya bisa hadir. Dan pengurusan seru pun terjadi, terutama terkait urusan administratif karena harus dapet ijin dari Sekretariat Negara untuk pemakaian Paspor Biru. Saat itu adalah minggu terakhir sebelum cuti bersama dalam rangka lebaran. Ini menjadikan urusan lebih mendebarkan, karena siapa yang bakal masuk saat seminggu cuti lebaran..? Untunglah Senin tanggal 13 Oktober surat dari Sekneg keluar dan hari Senin itu juga langsung mengurus Visa untuk UK ke pengurusan Visa untuk UK di Gedung ABDA Lantai 22, di Jl. Sudirman Jakarta Selatan, seberang Plasa Senayan. Mengurus Visa untuk UK memang gak bisa langsung ke Kedutaan Inggris, harus melalui jasa perantara resmi. Di lokasi pendaftaran Visa, banyak isian yang harus dipenuhi dan juga pas foto. Juga ada foto biometrik dan sidik jari. Mirip mbuat passport di Imigrasi aja.

Alhamdulillah, semua pengurusan Visa lancar sekali. Waktu pengurusan yang 3-4 hari normal dapat diselesaikan dalam 2 hari saja (prosedur normal) dan Rabu sudah selesai. Hasil bisa dicek melalui internet, dan akhirnya hari Kamis siang Visa saya ambil. Dan jadwal perjalanan adalah Sabtu sore, 18 Oktober, terbang dari CGK (Bandara Soekarno-Hatta) dengan berkendara Malaysia Airways.

Cengkareng dari udara
Cengkareng dari udara

Cengkareng, 18 Oktober, dengan diantar oleh pasukan lengkap, dimulailah perjalanan seperempat lingkar dunia. Check-in dan dapat dua boarding pass, satu untuk CGK – KUL (Kuala Lumpur International Airport, KLIA) dengan nomor penerbangan MH722 dan nomor bangku 22F sisi jendela; dan satu untuk KUL – LHR (Bandara Heathrow, London) dengan nomor penerbangan MH002 juga duduk sisi jendela. Pada boarding pass pertama, tercetak Gate keberangkatan adalah D5. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan menyerahkan kartu kepergian, langsung menuju ke terminal D. Sebelum masuk ruang tunggu D5 sempet nyoba akses wifi gratis yang disediakan Lintasarta. Saat akses harus login tapi ada opsi free trial, dan bisalah surfing dan plurking. Sayangnya saat masuk D5 gak ada lagi wifi.

Saat boarding jam 18:30, segera menempati kursi 22F, sisi paling kanan sisi jendela. Pesawat Boeing 737-400 ini punya formasi lajur kursi 3-3. Dan seiring perjalanan berdurasi 2 jam dimulai, semakin terasa terbang di penerbangan domestik aja. Fasilitas biasa aja, kondisi kursi juga biasa aja, gak keliatan kelas antarbangsa. Layanan “anak kapal” (maksudnya: awak kabin) juga standar domestik. Pesawat take-off jam 19:15 WIB dan ketinggian terbang adalah 32.000 feet (sekitar 9.753 meter). Apalagi musik yang terdengar sayup adalah gamelan sunda dan juga gak ketinggalan irama melayu, semakin terasa “dari desa ke desa”, hehe…

nonton bareng
nonton bareng

Mendarat di KLIA di terminal berapa, gak tau, lupa, yang jelas harus pindah terminal untuk penerbangan internasional. Pindah terminal harus menggunakan kereta, dan untunglah petunjuk gampang terlihat jadi dengan segera bisa menuju ke terminal yang dimaksud. Pada Boarding Pass tercetak Gate C17, sehingga itulah yang dicari pertama. Gate C17 terletak di ujung dan setelah ketemu dan tanya pada petugas dengan menunjukkan Boarding Pass, mereka meng-iya-kan bahwa itu adalah Gate yang dimaksud. Merasa pasti, trus santailah sedikit, menunggu waktu keberangkatan sekitar 23:40 waktu setempat. Ada waktu sekitar 2 jam menunggu. Langsung cari tempat duduk dan coba akses wifi gratis. Ada wifi gratis tapi koneksi gagal terus. Entah kenapa, gagal dan gagal terus, padahal sudah janjian bakal plurking bersama pasukan di Bogor. Sayang sekali gagal. Sambil nunggu sempet nonton bareng pertandingan EPL (English Premiere League) antara Liverpool vs Wigan Athletic.

Saat waktu masuk ruang tunggu tiba, segera antri di Gate C17. Saat itu pada monitor terlihat bahwa Gate C17 untuk jurusan Amsterdam (ups, kok Amsterdam..?). Karena sudah yakin dengan jawaban petugas sebelumnya mengenai Gate ini maka tenang saja. Tapi setelah berhasil masuk ruangan tunggu, jadi keder juga, dan balik tanya lagi. Ternyata sudah ada perubahan Gate untuk tujuan London. Gate diubah ke Gate C24. Kacau beliau jadinya…

Segera ambil potongan Boarding Pass dan ambil langkah seribu ke Gate C24, Gate yang letaknya berlawanan tempat dan juga diujung… Dengan bantuan pemercepat langkah plus lari maka sampailah di Gate C24 pas antrian akhir.

Ini kejadian kedua yang pernah dialami, setelah yang pertama sempat dialami saat perjalanan Amsterdam – Cengkareng via Frankfurt, dan terjadi di bandara Frankfurt pada tahun 2003. Gate yang tercantum pada Boarding Pass dan juga pada pengumuman gak sama dengan kenyataan.

Pesan moral: jangan pernah percaya dengan hasil cetakan di Boarding Pass dan juga jawaban petugas bandara, sebaiknya sesaat setelah masuk pesawat jangan lupa tanyakan pilot apakah pesawat yang anda naiki sesuai dengan tujuan anda… (ha..!)

Penerbangan dengan kode MH002 ini menggunakan Boeing 747-400, dengan formasi lajur kursi 3-4-3, bertingkat 2. Di penerbangan ini kebagian kursi nomor 32A bagian kiri dan sisi jendela. Sesaat setelah semua penumpang duduk dengan rapi, ada pengumuman dari kapten bahwa penebangan ditunda satu jam… hiks…

Dan semua penumpang (harus) menerima kondisi nongkrong sejam di dalam pesawat…
)

album foto perjalanan: sila klik disini,
bersambung, sila ikuti disini

Posted from London, England, United Kingdom.