Tag Archives: ptisda

Berpikir Spasial dalam Perjalanan

Penggunaan GPS
GPS dan peta yang terhubungkan

Cerita perjalanan dengan berpikir spasial, ditemani peralatan penunjang sederhana.

#Perjalanan kali ini ke daerah Pelabuhan Ratu (atau nama lokalnya: Palabuhanratu), dalam misi kajian terkait model spasial penyakit padi. Persiapan #perjalanan ini adalah: rencana dan peralatan (yaiyalah…). Yang utama dipersiapkan adalah peta dijital (hasil pindai), dan titik-titik tujuan serta GPS.

Peta dijital dipindai, kemudian diberi referensi koordinat, agar dapat dibaca di perlun spasial yang akan digunakan dalam #perjalanan. Titik lokasi tujuan disiapkan, info dari lapangan yang berupa daftar titik lokasi pengamatan kemudian dispasialkan, dan diunggah ke GPS.

Ada 20 titik lokasi yg menyebar dari Cibadak hingga Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Ini adalah titik-titik yang harus dikunjungi. Data titik lokasi yang telah diubah dalam format SHP kemudian diunggah ke GPS menggunakan perlun DNRGarmin (web: http://j.mp/lTumFF).

GPS yang dipakai cukup yang sederhana saja, kecil dan gampang dibawa serta bisa terhubung dengan laptop, saya bawa GPSMap 60CSX. Selain data lokasi dan pindaian peta, saya juga siapkan data SRTM sebagai gambaran undulasi daerah yg dikunjungi.

Hari keberangkatan tiba, tim terdiri dari: mbak Sali, mas Laju, dan mas Tata (plus pengemudi). Masing-masing dengan tugas khusus.

#SpatialThinking yang pernah di-kultwit-kan oleh bli @madeandi di @rsgisforum mulai diterapkan. (sila cek arsip kultwit di http://j.mp/mQhUZ7)

Ketika mendekati sasaran di seputar Cibadak, Sukabumi, laptop dihidupkan, data disiapkan, semua disajikan dalam perlun yang sama. Setelah data SRTM, peta pindaian, dan lokasi sasaran tersaji di monitor, saatnya menghubungkan perlun dengan GPS menggunakan kabel USB.

Dalam waktu singkat, penunjuk lokasi muncul pada layar monitor, tepat pada koordinatnya, dan terlihatlah lokasi terkini berdasarkan data dari GPS. GPS diletakkan di dashboard, dihubungkan dengan kabel data, dan lokasi ditampilkan dengan perlun pada peta.

Dengan demikian pergerakan tim (dengan kendaraan) dapat terpantau langsung pada peta di layar. Ini memudahkan pendekatan #perjalanan. Tim dengan mudah menentukan sasaran terbaik sesuai dengan sikon saat itu, dan mendatangi lokasi dengan “yakin” hehe…

Gambar bisa dilihat di http://lockerz.com/s/100411905

Mengamati perjalanan di peta secara langsung sangat menarik, kita bisa tahu saat ini berada dimana secara langsung. Tampilan di layar bisa diubah latar belakangnya, apakah peta pindaian atau data ketinggian (SRTM).

Untuk mendekat ke lokasi sasaran, dengan kecepatan kendaraan, tentunya berisiko akan terlewat, walau terpantau di peta. Karena itu tim tidak lupa mengaktifkan peringatan dini pada GPS. Pada GPS #Garmin ada pada modul “Proximity”. Pada modul ini kita bisa tentukan titik sasaran kemudian tentukan pada radius berapa GPS akan memberi peringatan. Dengan mengaktifkan peringatan ini maka saat mendekati lokasi, pada radius tertentu, GPS berbunyi mengingatkan.

Ohya, sebelum berangkat, tim juga sudah menempatkan titik-titik lokasi sasaran tadi pada peta di Google Maps. Penempatan pada GoogleMaps diperlukan untuk memudahkan diskusi dengan tim yg berbeda lokasi. Kajian kami di seputaran Sukabumi ini bekerjasama dengan Balai Besar Peramalan OPT yg berlokasi di Jatisari, Cikampek. Dalam membahas lokasi bersama, kami selalu menggunakan fasilitas berbagi di internet, salah satunya adalah Google Maps.

Data lokasi yang telah dalam bentuk SHP tadi dikonversi ke format KML dengan perlun SHP2KML Converter. Proses konversi dari SHP ke KML dapat dibaca pada blog dengan taut http://j.mp/kGlSdL.

Setelah dalam format KML, kemudian bisa diunggah ke Google maps, dan bisa kita sesuaikan informasinya dengan keperluan kita. Peta lokasi pada Google Maps dapat dilihat pada taut http://bit.ly/optskbm.

Kembali ke lapangan, saat mengunjungi lokasi tertentu maka selain ada catatan tertulis “diwajibkan” juga memfoto. Foto digunakan sebagai alat analisis visual kemudian, tentunya mengenai kondisi lokasi dan sekitarnya. Ada baiknya menggunakan kamera yang mempunyai GPS, jadi lokasi foto dapat terekam langsung di foto tersebut.

Pada banyak hape saat ini, yang harganya 1jt-an, sudah terdapat fitur GPS dan foto dan dpt menyimpan lokasi langsung. Berhubung tim kami hapenya jadul semua, maka perekaman dilakukan manual. Kondisi lokasi direkam dengan kamerqa dijital.

Sedangkan lokasi ditandai dengan perekaman pada GPS. kemudian dibuat catatan penghubung antara foto dan GPS. Hal ini sangat diperlukan pada saat survey karena perekaman jika hanya tertulis tentunya kurang memadai.

Penautan lokasi dan foto dijital kemudian dilakukan secara manual. Saya memanfaatkan perlun #Picasa (free dari Google).

Kerjaan ini dilakukan saat di Hotel dan ada koneksi internet. Ohya, saya gunakan juga perlun Google Earth (GE) dalam proses. Foto dari kamera diunduh ke laptop, siapkan perlun Picasa dan GE. Picasa dapat terkoneksi dengan GE secara otomatis.

Ohya, sebelumnya, saya unduh dulu data dari GPS (karena ada data baru selain titik yang sudah dimasukkan) dengan DNRGarmin. Data GPS yang baru diunduh, konversikan ke KML, lalu tarik ke GE. Maka kita akan mendapatkan titik-titik acuan di GE.

Foto-foto yang telah diunduh ke laptop dibuka pakai Picasa, kemudian jangan lupa urutkan berdasarkan waktu perekaman. Ohya, pastikan koneksi internet bagus ya, hehe. Kami saat itu menginap di Hotel Augusta (pantai Citepus), ada hotspot.

Pada Picasa, pilih foto yg akan dilekatkan posisinya (geotagging). Beberapa foto sekaligus dapat dipilih. Kemudian klik icon GE yg ada pada bagian bawah, maka perlun segera aktif ke GE. Pada GE ada pengarah posisi. Arahkan tanda positif ke lokasi yang sesuai pada peta satelit di GE. Zoom seperlunya. Kemudian klik “Geotag All”.

Foto-foto yang telah di-geotag akan menyimpan informasi lokasi, dan dapat kita manfaatkan selanjutnya. Untuk menempatkan foto-foto tadi pada peta daring saya mengunggahnya ke album di Picasaweb (yang punya akun GMail punya album ini). Karena foto sudah ter-geotag, maka foto yang terunggah ke Picasaweb otomatis akan ditempatkan pada peta (mmm setting otomatis ada setelah kita login ke Picasaweb).

Contoh foto-foto perjalanan ter-geotag dan yang saya unggah ke Picasaweb ada di http://j.mp/ltAbdK.

Dengan menempatkan foto pada lokasi perekamannya di peta maka memudahkan kita menganalisis banyak hal. Kita tau kondisi lokasi pengamatan tersebut saat mana kita mendatanginya, sangat mungkin beda dengan citra di Google. Dan dengan membuat semuanya daring dalam konteks spasial, memudahkan kita (terutama tim saya) dalam berdiskusi.

GPS memudahkan dalam perjalanan dan penentuan arah sasaran, hasil perekaman di-geotag-kan juga. Maka perjalanan survey akan terekam dengan cepat dan memudahkan tim dalam berdiskusi tanpa batasan ruang…

Sekian dulu cerita tentang #perjalanan, sederhana dan akan menyenangkan dengan #spatialThinking…

*/ di-blog-kan dari tweet pada 21 Mei 2011

Posted from West Java, Indonesia.

Mengintip Daun Padi

Mengintip daun padi
Mengintip daun padi

Seminggu di hamparan sawah sangat mengasyikkan. Apalagi sembari menyaksikan pemandangan kesibukan para petani dan buruh tani dalam memanen hasil padinya. Saatnya panen raya tampaknya…

Kegiatan kali ini adalah lanjutan dari kegiatan tahun lalu, yaitu perekaman spektral tanaman padi (baca di: Matahari, nggak pake awan). Tetapi tentunya mempunyai target yang berbeda. Target kali ini adalah perekaman kondisi daun padi dengan membagi dalam kondisi: daun sehat dan daun “sakit”. Pengertian sakit disini adalah daun bergejala terserang oleh OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan), dengan diutamakan yang terserang oleh BLB (Bacterial Leaf Blight, atau Hawar Daun Bakteri atau penyakit kresek) dan BRS (Bacterial Red Stripe).

Lokasi perekaman adalah di Karawang (Kecamatan Cilamaya Wetan dan Tempuran) dan di Indramayu (Kecamatan Krangkeng). Cerita perjalanan dan hasil akan ditulis kemudian (semoga gak lupa… hehe…), sedangkan foto-foto di lapang, saat mengintip daun padi, dapat dilihat berikut ini:

Continue reading “Mengintip Daun Padi” »

Posted from West Java, Indonesia.

Matahari, Nggak Pake Awan

Indramayu 2008
Indramayu 2008

Tahun ini adalah tahun kunjungan ke sawah. Dari beberapa kegiatan di kantor, ada dua yang utama, dan keduanya adalah bermain di sawah. Salah satu dari kedua kegiatan ini mengambil lokasi di daerah persawahan Indramayu dan Subang, Jawa Barat.

Main di sawah saat kecil pada jaman dahulu kala adalah kesenangan. Dan setelah sekian (puluh) tahun gak pernah main di sawah, akhirnya “terpaksa” juga mengarungi sawah di bentang sawah nan luas dan… panas…!!!

Kali ini yang dilakukan adalah mencari padi yang mempunyai umur berbeda-beda. Perbedaan umur tentunya terjadi karena perbedaan waktu tanam. Dan untuk daerah lumbung padi seperti Indramayu dan Subang, pada beberapa daerah terdapat bentang sawah yang mempunyai keberagaman usia padi. Hal ini terjadi karena di daerah tersebut terdapat irigasi teknis yang airnya tersedia sepanjang tahun. Sehingga saat musim kemarau pun tetap dapat dialiri dengan baik. Padi masih dapat tumbuh sesuai harapan.

Apa yang dilakukan setelah rombongan padi yang dicari ditemukan? Yang kemudian dilakukan adalah merekam nilai spektralnya. Untuk keperluan ini, sebelum berangkat ke bentang sawah maka sudah disiapkan berbagai alat bantu rekam.

Continue reading “Matahari, Nggak Pake Awan” »

Posted from West Java, Indonesia.