Tag Archives: Sabang

Memburu Dren Tengku Chik

Durian Tengku Chik
Durian Tengku Chik

Akhir Juli 2008 dihiasi dengan warna merah pada satu hari kalender, yaitu pada tanggal 30 Juli yang bertepatan dengan 27 Rajab 1429 H, libur nasional dalam rangka isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW. Libur sehari kali ini dimanfaatkan untuk… cari duren..!!! Kebetulan kali ini di Sabang sedang musim duren. Selain impor dari daratan, banyak juga duren produk lokal yang bisa ditemui. Tapi rasanya gak ada yg berani jamin. Maklumlah, dimanapun ada jual durian, sulit untuk menemukan yg te-o-pe yang mana.

Untuk wilayah Sabang, atau Pulau Weh, ada satu duren unik yang, katanya, mempunyai rasa yang khas dan dijamin mutunya. Durian ini dikenal dengan sebutan Durian Tengku, dan hanya tumbuh di daerah “gunung” di Kelurahan Iboih, Pulau Weh bagian barat. Siang, sekitar jam 12an, segera berangkat menuju lokasi. Kali ini berangkat bareng bang Udi, Irwan, dan Fahmi. Kami naik tiga kereta, saya dan Udi sendiri sedangkan Irwan dengan Fahmi sekereta. Ini bukanlah “naik kereta api tut tut tut…”, tapi kereta yang berarti “sepeda motor”.

Continue reading “Memburu Dren Tengku Chik” »

Posted from Aceh, Indonesia.

Wisata Belerang Jaboi

Wisata JaboiPosisi Indonesia pada sabuk api dunia menjadikan kita, penduduknya, tidak asing lagi dengan pemandangan gunung, baik gunung yang masih aktif ataupun yang telah “mati”. Banyaknya gunung berapi menjadikan kita mempunyai banyak sekali tempat “wisata belerang”. Salah satu tempat wisata belerang yang menarik adalah di Jaboi. Jaboi adalah kota kecil yang telah terekam sejak lama pada peta “dunia barat”.

Pada saat alat penerima GPS mulai menyajikan map dalam layarnya beberapa tahun lalu, kota Jaboi hampir pasti sudah ada disana, disaat yang sama banyak kota lain di Indonesia, yang lebih besar dan ramai, belum terdapat pada peta dijital keluaran “perekam posisi” ini. Hal ini kemungkinan disebabkan karena Pulau Weh, dimana kota Jaboi berada, telah dikenal dunia pelayaran sejak jaman dulu, terutama saat Sabang menjadi salah satu pelabuhan laut terbesar dunia, yang dikuasai oleh Belanda. Jaboi sendiri terletak di bagian Selatan pulau Weh.

Continue reading “Wisata Belerang Jaboi” »

Posted from Aceh, Indonesia.

Pulau Weh dalam rekaman

Pulau Weh, terletak di “seberang” kota Banda Aceh, berkota Sabang, dan merupakan wilayah administrasi paling barat dan utara Indonesia… semua orang juga sudah tau… Beberapa rekan sudah berulangkali menginjakkan kaki di pulau ini, tetapi tentunya masih banyak yang belum pernah ke sana. Ada yang bertanya melalui email ataupun dalam obrolan mengenai bagaimana menuju ke sana, bagaimana dengan transportasinya, akomodasinya, de-el-el. Ada seratus macam pertanyaan, yang bisa dijawab dengan seribu macam jawaban… (lho…).

Kali ini saya ingin berbagi hasil pandangan berupa rekaman perjalanan. Rekaman ini tidak hanya dari satu perjalanan saja tetapi dari beberapa kali ke pulau ini, dan hanya dengan peralatan minimalis berupa kamera dijital Sony DSC-P73, yang mempunyai fasilitas MpegMovie. Untuk bisa menikmatinya, browser harus mempunyai plugin flashplayer.

Continue reading “Pulau Weh dalam rekaman” »

Posted from Sabang, Aceh, Indonesia.

Ke Ujung Barat lagi…

Bay SabangApril 2007, ada nasib yang sangat baik, ketika dilibatkan menjadi anggota tim penggembira dalam rangka pemaparan suatu kegiatan. Apa “nasib baik”-nya..? Tim akan ke tempat studi yang berlokasi di ujung barat Indonesia, Sabang, Pulau Weh…!

Selasa pagi, perjalanan dimulai dari CGK sekitar jam 6.30. Dengan diantar Lion dan sempat mampir ke Medan sejenak, akhirnya sampai di Sultan Iskandar Muda, bandara di Aceh, sekitar jam 11.00. Dijemput oleh pak Imran dengan taksi putihnya, sesiangan ini sempat mampir di beberapa tempat di Kota Banda Aceh, dimana rekan yang dicari, alhamdulillah, ketemu semua.

Jarak ke Pulau Weh masih jauh, untuk mencapainya, sore ini, digunakan Kapal Cepat dari pelabuhan Ulele (nulis nama pelabuhan ini sebenarnya bukan seperti itu, hanya untuk memudahkan membaca dan mengingat aja). Kapal Cepat Baruna Duta dari Ulele menuju ke pelabuhan Balohan (di Pulau Weh), berangkat jam 15.30. Tiket (masih) bertarif Rp. 75.000 untuk VIP (plus makanan ringan dan segelas air mineral yang dibagikan saat perjalanan dimulai). Continue reading “Ke Ujung Barat lagi…” »

Posted from Sabang, Aceh, Indonesia.

Pantai Iboih

Pantai IboihMembaca Kompas rubrik Sosok terbitan hari ini, tentang pak Dodent, jadi inget Pantai Iboih di Pulau Weh. Pantai yang terletak gak jauh dari Pantai Gapang, dan mempunyai keindahan plus, yaitu taman laut yang ruarrr biasa indahnya.

Pantai Iboih terletak pada posisi 5°52’33.42″ LU dan 95°15’22.55″ BT, berhadapan dengan Pulau Rubiah, pulau kecil tempat persinggahan jemaah haji nusantara sebelum dan setelah ke Mekah pada jaman dahulu, saat kendaraan utama ke tanah suci adalah kapal laut.

Kondisi sekitar pulau Rubiah dipenuhi oleh coral-reef yang beragam jenis, dan tentunya menjadi rumah bagi beragam ikan. Saat sebelum bencana tsunami pada 26 Desember 2004, keindahannya bisa dinikmati dengan kapal kecil yang mempunyai kaca dibagian bawah, sehingga kita bisa saksikan kehidupan laut dari atas kapal dengan nyaman. Tapi bagi penyinta selam atau senorkel, tentunya lebih asik lagi kalo langsung nyemplung kedalam air.

RubiahArus laut dan juga ombak di sisi “luar” pulau Rubiah agak besar, sedangkan di sisi “dalam” (yang menghadap lengsung ke pantai Iboih) sangat tenang. Cocok sekali untuk ber-senorkel-ria. Tapi asik juga bagi yang gak bisa berenang, dan menikmatinya dari atas perahu. Kejernihan air sangat menunjang dalam menikmati berlama-lama kehidupan bawah laut dari permukaan.

September 1997, saat tugas ke Sabang bareng rekan-rekan BPPT dalam rangka Jambore IPTEK di Pantai Gapang, sempat bermalam di rumah penginapan di lereng tebing pantai Iboih. Berbaur dengan turis mancanegara, dan menikmati kondisi alami yang ada. Lebatnya hutan disekitar pantai Iboih yang merupakan daerah tangkapan air, menyebabkan kayanya air tanah sehingga penetrasi air laut ke darat gak terlalu besar, terbukti sumur yang terletak di pantai airnya gak terasa payau, tapi terasa air tawar biasa.

Pantai IboihAwal Desember 2004, saat main ke Iboih dengan keluarga, sangat menyenangkan. Dengan naik kapal berkaca, anak-anak menikmati kehidupan laut dari kapal. Goyangan kapal akibat ombak gak terasa karena asiknya dengan pemandangan kehidupan yang ada dibawah sana… wow… Akibatnya jelas, tiap memasuki masa libur pasukan krucil selalu menuntut jalan ke Sabang lagiii… : )

Posted from Aceh, Indonesia.

Pulau Weh – 2

“mo ke Gapang thn baru?”, petikan sms yang gw terima tanggal 30 desember 2005, sekitar jam 18.00 dari Ali Taufik. Gapang? Dimana Gapang? Apa Gapang? Njawabnya jelas gapang-gapang susah… Gara-gara sms itu gw jadi nerusin cerita perjalanan di Pulau Weh.

Pulau KlahMasih tentang rentetan pantai indah di Pulau Weh, Gapang adalah salah satunya. Pantai Gapang lokasinya cuma sekitar 7 km dari kota Sabang, ini kalo mau ambil jalan terdekat yaitu lewat laut alias naik boat, dengan jalur lurus… Tapi kalo lewat darat sekitar 23 km, dengan jalan beraspal yang cukup nyaman dilalui. Perjalanan diawali dari Kota Atas ke arah Kota Bawah Timur (?), terus nelusuri jalan samping pantai, setelah melewati danau Aneuk Laot segera sampai ke tanjakan agak terjal. Pada posisi tanjakan ini, jika sempet, berenti sebentar, liat arah kanan. Wow, pulau Klah keliatan asik punya. Pulau Klah adalah pulau kecil di teluk Sabang. Dari titik ini juga bisa diliat Ujong Lho’ Me (tempat tangki milik Pertamina), dan pemandangan sebagian kota Sabang.

Terus ke arah Selatan, kita masuki wilayah Paya Seunara, daerah penghasil sayuran yang cukup subur. Dan sesampai di Lho Ba Jumpa, ada pertigaan, segera ambil arah ke Barat. Di Ujong Gurutong, daerah Seurui, ada juga pantai pasir putih, walaupun pasirnya tidak terlalu banyak. Di sini (katanya) ada air terjun. Sayang gw belom sempet main ke air terjun. Nah, perjalanan diteruskan, en jangan lupa beli pisang. Untuk makan di jalan? Ya, tapi bukan untuk makan kita, ini untuk makan monyet liar yang mulai ditemui setelah kita sampai di hutan bertanjakan terjal, gak jauh dari Ujong Gurutong tadi. Para kawanan monyet akan segera menyambut, tiap kali mereka denger ada mobil melintas. Dari salah satu tempat, tikungan tajam, ada titik pandang yang cukup indah. Dari titik ini bisa dinikmati salah satu teluk yang asik punya (sayang gw lupa namanya).

Gapang BeachSelepas dari hutan yang punya kanopi cukup lebat ini, segera ditemui beberapa rumah penduduk, dan gak jauh, di sebelah kanan, kita temui jalan masuk Pantai Gapang. Dengan tulisan yang cukup besar dan gerbang yang mencolok, Pantai Gapang menyambut kita. Bagian depan lokasi wisata ini terdapat beberapa bengunan dan juga dermaga kecil yang didirikan pada tahun 1997 saat di lokasi ini diselenggarakan Jambore IPTEK. Masuk lebih kedalam, pantai dengan pasir putih yang luas dan panjang segera ditemui. Pantai yang relatif landai, dengan dibentengi pepohonan sebagai peneduh jalan dan sekaligus sebagai tempat istirahat yang nyaman sambil memandang laut. Di sepanjang pantai ini juga terdapat beberapa rumah yang menawarkan jasa penginapan, dan juga tempat penyewaan peralatan diving dan snorkeling.

Pantai pasir putih yang indah, dan berbentuk seperti teluk, diapit oleh dermaga di sebelah barat dan bebatuan hitam di sebelah timur. Wow, sangat nyaman untuk menikmati suasana pagi, siang, sore, dan tentunya malam tahun baru… seperti ajakan Ali Taufik melalui sms… Sayang, gw gak bisa hadir dikeindahan pantai gapang dipergantian tahun kali ini…

Disalin ulang dari jalan.ID: Pulau Weh – 2 di 360.yahoo.com.

Posted from Aceh, Indonesia.

Pulau Weh – 1

Teluk SabangBulan Mei lalu, masih di 2005, gw kembali menginjakkan kaki di pelabuhan Balohan, pintu gerbang memasuki wilayah administrasi Kota Sabang. Wilayah ini, semua juga tau, adalah wilayah paling pojok barat negara Indonesia. Suasana masih serupa saat awal Desember 2004, saat gw juga kesini. Keluar dari Kapal Cepat, semua penumpang diwajibkan memperlihatkan tanda pengenal, dan jika bukan KTP Merah Putih maka akan banyak pertanyaan menyusul. KTP Merah Putih adalah KTP khusus yang saat itu berlaku di daerah Provinsi NAD, ukurannya dua kali KTP biasa, dengan warna merah-putih. Lepas dari para pengawal negeri berbaju hijau, gw mulai menikmati keindahan perjalanan dari Balohan menuju Sabang.

Balohan – Sabang, ini perjalanan kelima yang gw alami. Pertama, Agustus 1997 , saat itu bareng dengan Laju dan dijemput oleh rekan disini, bang Iwan dan bang Amin, pake Kijang kapsul. Kedua, tahun yang sama tapi dibulan September, dan kali ini (juga dengan Laju) naik kendaraan umum, Mitsubishi L300 dengan tempat penumpang di bak belakang. Ketiga, bulan Agustus 2004, juga dengan Laju dan dijemput oleh bang Taufik dan Azwardi (T-A). Keempat, awal Desember 2004, kali dengan Micky dan juga keluarga gw, dijemput bang T-A dengan Avanza dan sedan Toyota eks Singapur. Kali ini, Mei 2005, dijemput oleh bang T-A dan beberapa rekan dengan bis mini.

Perjalanan dari Balohan ke kota Sabang melalui jalan yang agak berliku dan penuh dengan tanjakan dan turunan. Di daerah Mata Ie, tanjakan sudah lebar dan di Cot Ba’u ada turunan tajam yang sudah dialihkan jadi sudah agak landai. Dibeberapa tempat masih cukup curam. Kanan kiri jalan relatif sepi dari rumah penduduk, karena kiri jalan relatif curam sedangkan kanan jalan sebagian adalah tebing. Jalan ini rupanya ada tepat di daerah fault/patahan . Memasuki kota Sabang, yang berada di bagian Utara Pulau Weh, keramaian langsung terasa.

Ingat Sabang, ingat Merauke, setidaknya itu adalah rangkaian kata dalam lagu Dari Sabang sampai Merauke , hasil karya R. Surarjo, yang sudah huapal banget sejak SD. Rangkaian kata ini juga masih marak dalam pidato, pengantar laporan, juga iklan-iklan.

Pulau Weh, pulau serba ada. Mau gunung api? Ada yang masih ngebul, bisa ditemui di daerah Jaboi. Mau Danau, ada juga, namanya Danau Aneuk Laot, yang merupakan salah satu sumber utama air tawar kota Sabang. Mau keindahan pantai ? Wah ini banyak banget.

Danau Aneuk Laot

Kunjungan ke pantai bisa dimulai dari kota Sabang ke arah Timur kemudian sisir ke Selatan. Ada Pantai Kasih (sayang sekali terkena dampak yang cukup parah dari Tsunami Desember 2004), ada Pantai Tapak Gajah dan Pantai Sumur Tiga dengan pasir putih nya. 3 kilometer ke Selatan ada Pantai Ujung Kareung, tempat mancing yang ideal, ikan buanyak dalam jarak 25 meter dari pantai dan dengan kejernihan airnya… Jauh ke Selatan lagi, ada pantai Anoi Itam, pasir disini telihat berwarna hitam. Sebelum sampai Anoi Itam, ada benteng Buvark di Ujong Meutigo. Benteng ini di pinggir pantai dan cukup tinggi dari permukaan laut, menghadap ke Timur. Masih ada meriam yang tertinggal. Pemandangan dari ketinggian ini sangat indah. Air laut yang jernih menyibak keindahan bebatuan didasarnya…

Disalin ulang dari jalan.ID: Pulau Weh – 1 di 360.yahoo.com.

Posted from Sabang, Aceh, Indonesia.