Tag Archives: Thailand

Kupon Belanja Makanan di AIT

Kupon Belanja di AIT (1996).
Kupon Belanja di AIT (1996).

Tahun 1996, mondok beberapa hari di AIT (Asian Institute of Technology), yang berlokasi sekian kilometer dari Bangkok, Thailand. Salah satu yang asik adalah cara membeli makanannya.

Makanan Thai memang banyak yang enak, tapi nggak semua bisa dikonsumsi begitu saja. Demikian juga dilingkungan kampus AIT.

Di kampus ini disediakan tempat makan atau semacam “pujasera”. Beragam makanan ada disini. Terdapat juga “konter halal” yang menyediakan makanan dijamin halal. Setidaknya yang jualan adalah muslim dan memasang label halal di konternya.

Cara membeli makanan disini adalah menggunakan kupon belanja. Kita harus beli kupon dulu sebesar sekian bath. Dikupon terdapat angka-angka besaran tertentu yang menggambarkan besar nilai dalam bath.

Saat belanja makanan maka kita sodorkan saja kupon tersebut. Misalnya harga total adalah 6 bath maka angka 5 dan 1 pada kupon akan dicoret oleh si penjual.

Selain untuk belanja makanan di pujasera ini, kupon dapat juga dipakai untuk belanja di toko makanan kemasan. Misalnya untuk beli kudapan, mi instan atau minuman botol.

Sistem pembelian dengan kupon ini entahlah apakah masih berlaku saat ini. Mungkin sudah berubah pakai “uang plastik” atau yang lain.
)

Posted from Khlong Nung, Pathum Thani, Thailand.

Masjid Chakrabongse di Chana Songkhram, Bangkok

Suasana di dalam masjid Chakrabongse.
Suasana di dalam masjid Chakrabongse.

Masjid Chakrabongse, masjid indah di daerah Chana Songkhram, Phra Nakhon, Bangkok. Suasana penduduk yang menimati persiapan salah satu perayaan hari besar Islam ada pada koleksi foto dibawah.

Lokasi pada peta Google:

M : lokasi Masjid Chakrabongse. T : Temple Wat Chana Songkhram Rachawora Mahawiharn.

Foto-foto pada masjid dan aktivitas penduduknya dapat dilihat berikut ini:

Continue reading “Masjid Chakrabongse di Chana Songkhram, Bangkok” »

Posted from Bangkok, Krung Thep Maha Nakhon, Thailand.

Masjid Khon Kaen di Kota Khon Kaen Thailand

Masjid Khon Kaen (2009).
Masjid Khon Kaen (2009).

Masjid di kota Khon Kaen, di satu Provinsi di sebelah Utara Bangkok. Umat muslim adalah minoritas disini, tetapi persaudaraan sangat kuat.

Lokasi pada peta Google:

M : lokasi masjid Khon Kaen di Thailand.

Beberapa foto dapat dilihat berikut ini:

 

_

Posted from Khon Kaen, Khon Kaen, Thailand.

Menikmati Sajian Pasar Malam Ruen Rom

Sajian pasar malam
Sajian pasar malam

Makanan. Dimana ada makanan, di sana ada keramaian. Eh, dimana ada keramaian, di sana ada makanan… Entahlah yang mana yang benar.

Saat menikmati malam-malam yang dingin di berbagai jalan kota Khon Kaen, akhirnya didapat juga tempat teramai, yaitu tempat makan, yang terletak di jalan Ruen Rom.

Jalan Ruen Rom terpotong sebagian, tepatnya dari persilangan dengan Jalan Na Mueang sampai ujung pertigaan dengan jalan Klang Mueang. Sepenggal jalan ini sengaja ditutup sebagai tempat berjualan berbagai macam barang. Disini bisa kita temui dari buah-buahan segar hingga siput, eh, seafood maksudnya, dari sepatu hingga beragam tas, dari CD musik hingga pakaian dalam. Semua tertata rapi dan menarik, tidak ada keseragaman bentuk tenda ataupun gerobak, yang seragam cuma satu: rapi. Kerapian ini cukup “menakjubkan” karena ini adalah pasar. Pasar yang buka hanya pada malam hari. Pasar yang tidak ada polisi pengawas yang akan berteriak jika ada ketidakrapian. Semua berjalan dengan seperti biasa dan tetap rapi. Kerapian ini menjadi luar biasa saat diperhatikan… ternyata lingkungan sepanjang pasar malam ini juga: bersih..!

Tidak ada sampah berserakan dan tidak ada becek mengganggu sepatu.

Penjualan makanan, apalagi makanan yang diolah ditempat, selalu menghasilkan sampah yang gampang terlihat berserak dimana-mana. Tapi tidak disini. Entahlah, kemana si sampah itu bersembunyi.

Pengunjung makan dan makan
Pengunjung makan dan makan

Dengan penerangan listrik (yang juga teratur rapi untaian kabelnya), tenda dan gerobak yang ada di jalan Ruen Rom ini menjadi daya tarik yang luar biasa. Terangan lampu ini bagaikan sinar yang mengundang “serangga malam” berkumpul. Terbukti dengan selalu hadirnya pengunjung baik di malam libur maupun malam hari biasa. Tua – muda, besar – kecil, lokal maupun turis, semua menikmati sajian disini.

Terasa nyaman saat menikmati makanan atau saat memilah barang yang diminati, karena juga tidak ada gangguan pengamen ataupun pengemis.

Makanan apa saja yang ada..?

Wuah banyak banget macamnya. Dimulai dari kue-kue kecil yang lucu bentuknya. Warna-warni kue “basah” sangat menggiurkan. Sebagian ada yang dimakan dengan ampas kelapa. Soal nama, entahlah… Dengernya aja susah, gak bisa diulang lagi…

Menimbulkan selera
Menimbulkan selera

Ada juga beragam roti kering, dengan berbagai bentuk.

Sate telor dengan berbagai bentuk juga ada. Telur puyuh dalam bentuk mata sapi juga tersedia.

Martabak..? wow ada… tentunya bukan martabak Terang Bulan seperti yang ada di Balikpapan. Ini adalah martabak telor antik, karena susah menyebutkannya.

Toge goreng..? ada juga. Tidak seperti yang biasa dijual di Bogor, dimana si toge sudah menjadi lembut karena digoreng mateng. Toge goreng ala Khon Kaen adalah toge yang digoreng “ala kadarnya”, sehingga rasanya masih kres kres saat dikunyah di mulut.

Nasi kuning dengan daging berkuah..? ini top banget. Kalo nggak nambah namanya belom bisa menikmati…

Minuman dari kedelai dan tahu..? ada juga. Disruput saat panas, wuah, nikmatnya. Apalagi saat udara lagi dingin seperti saat saya disana. Menikmati minuman ini sangat nikmat.

Meracik Som Tam
Meracik Som Tam

Tapi… yang paling top dari yang top adalah Som Tam. Kali ini namanya wajib hapal karena rasanya ruarr biasa. Som tam adalah rujak pepaya yang puedesss. Selain pepaya, isinya juga ada mangga dan beberapa buah/sayur lain. Saat melihat si mbak membuat/meracik som tam dengan cara mirip membuat rujak bebek, air liur gak bisa tertahan. Dan saat som tam mampir ke mulut, hanya dalam hitungan detik, keringat segera muncul di ubun-ubun.

Som tam dimakan dengan nasi ketan, dan demi keselamatan perut, maka saat diracik jangan lupa segera pesan untuk mengurangi cabe yang dipakai…

Bagi penggemar makan yang kriuk-kriuk saat dikunyah di mulut, ada kok, jangan khawatir. Makanan yang kriuk-kriuk, sila lihat gambar di bawah ini:

Dijamin kriuk-kriuk
All you can eat. Dijamin kriuk-kriuk.

Suasana pasar malam yang mengasyikkan dapat dilihat sebagian pada film berikut ini:

 

Posted from Khon Kaen, Khon Kaen, Thailand.

Khon Kaen yang Menyenangkan

Kota Khon Kaen
Kota Khon Kaen

Khon Kaen, sebuah kota menyenangkan di region Timur Laut Thailand. Walau ketinggian lokasi dpl (di atas permukaan laut) hampir sama dengan Kota Bogor di Jawa Barat (yaitu sekitar 100 meter), musim dingin disini jauh lebih dingin. Ini kemungkinan karena kota Khon Kaen terletak pada lintang yang cukup besar dibandingkan Bogor, yaitu sekitar 16 derajat Utara (Bogor pada lintang 6,5 derajat Selatan). Saat mengunjungi kota ini pada pertengahan Januari 2009, suhu berkisar 12 – 18 Celcius. Kota Khon Kaen adalah juga sebagai ibukota Provinsi Khon Kaen dan juga Distrik Khon Kaen. Kota ini juga dikenal sebagai kota penting dalam perdagangan sutera Thailand.

Apa yang menarik dari kota ini..?

Selain sebagai pusat perdagangan sutera Thailand, Khon Kaen saat ini semakin dikenal dengan kota jasa, kota pendidikan dan juga “kota seminar”. Banyak sekali kegiatan pertemuan internasional “dialihkan” dari Bangkok ke Khon Kaen. Walau demikian, saat berjalan menjelajahi kota, tidak terlalu banyak orang asing (terutama dari Eropa) yang terlihat disini, dibandingkan dengan Bangkok tentunya.

Dalam salah satu situs tentang kota ini (khonkaen.com) disebutkan bahwa kota Khon Kaen adalah kota dengan kondisi kontras dimana kita bisa menyaksikan orang dengan dandanan gaya hidup masa kini berdampingan dengan biksu berpakaian orange, makanan tradisional dapat didapat didepan toko makanan siap saji pizza terkenal, ataupun kendaraan mewah yang berdampingan dengan binatang pertanian.

Suatu penggambaran yang tidak terlalu meleset dari yang bisa dilihat para pendatang. Di daerah pedesaan, jalan raya yang melintas dari Bangkok ke daerah Timur Laut dan mengarah ke Laos, dikenal dengan nama Mithraphap Highway (atau Friendship Highway atau Highway 2) dilengkapi dengan bahu jalan untuk keperluan kendaraan petani (sila klik untuk lihat foto). Para biksu juga banyak sekali kita temui di seluruh kota (sila klik untuk lihat foto).

Mengenai gaya berpakaian, terlihat jauh sekali dibandingkan Bangkok. Di kota ini jarang ditemui perempuan berpakaian “bupati” ataupun yang mengenakan pakaian “kurang bahan”. Mata lebih nyaman menikmati kehidupan dan pemandangan kota, karena jauh dari “gangguan” obyek vital… (boleh senyum…).

Dam Ubolratana
Dam Ubolratana

Region Timur Laut Thailand ini (yang dikenal dengan nama Region Isan) adalah daerah yang mempunyai kondisi tanah tidak terlalu baik. lapisan permukaan tanah (top soil) cenderung berpasir. Singkong yang ditanam baru layak dipanen saat berumur 9 – 12 bulan. Itupun tidak cocok untuk konsumsi manusia sehingga diekspor ke Eropa untuk keperluan lain (antara lain untuk pupuk). Kondisi alam yang tidak menguntungkan mampu diatasi dengan berbagai aksi, antara lain pembuatan tempat-tempat penampungan air (bentuknya seperti “embung” di Indonesia), selain ada juga Dam besar di daerah ini, yaitu Dam Ubolratana. Dam ini sebagian konstruksinya mirip dengan dam Jatiluhur, dimana konstruksi bangunan pembendung tidak terdiri dari beton tetapi hanya tumpukan bebatuan dam material lain saja. Di Dam ini juga didirikan PLTA sebagai salah satu sumber listrik Thailand.

Di sekitar kota Khon Kaen juga terdapat banyak “embung”. Dan relatif di tengah kota terdapat sebuah danau alami yang telah diperindah lingkungannya menjadikan danau ini tempat yang nyaman bagi penduduk dan pendatang dalam menikmati alam. Danau ini bernama Bung Kaen Nakhon. Di tepi barat danau ini terdapat kuil yang sangat terkenal yaitu Wat Nong Wang. Kuil ini (kalo gak salah) terdiri dari 9 lantai yang bisa dikunjungi oleh umum. Dari balkon masing-masing lantai bisa dinikmati pemandangan danau.

Sunset di Khon Kaen
Sunset di Khon Kaen

Pada saat tertentu, terutama saat matahari berada pada belahan bumi selatan, maka jika kita berada di sisi timur danau kita bisa menikmati saat matahari terbenam dengan latar depan adalah kuil Wat Nong Wang. Pendaran warna matahari dan juga bayangan kuil pada permukaan air danau sangat indah.

Bagaimana dengan lalu lintas di Khon Kaen..? Relatif tidak ada macet, karena memang selain penduduknya tidak “sangat” padat, jalan utama pun dibangun dengan lebar yang cukup. Angkutan kota yang beroperasi selain tuktuk adalah mobil pickup yang diberi tutup dan kursi di bak nya (mengingatkan saya pada angkutan di kota Banda Aceh). Pada jam sibuk maka terlihat penumpukan penumpang yang lumayan pada mobil angkot ini.

Di kota ini juga terdapat Masjid, tempat berkumpul orang muslim dari berbagai daerah sekitar terutama pada hari Jumat. Menurut rekan setempat yang bertemu disana ba’da sholat Jumat, di kota Khon Kaen terdapat sekitar 2.000 orang muslim dari sekitar 140.000 ribu penduduk. Masjid hanya terdapat dua, dan yang saya “berhasil temukan” adalah yang terbesar.

Sebelum mencapai masjid ini, ada cerita menarik. Saat dari penginapan, dengan bantuan teman lokal, maka kami dikomunikasikan dengan abang pengemudi Tuktuk untuk mengantar dan menunggu kami (saya dan dua rekan) di Masjid. Dengan yakinnya si abang mengantar kami, bahkan melalui jalur tikus untuk menghemat waktu. Tiba-tiba Tuktuk masuk ke sebuah halaman luas dan seperti sebuah komplek kecil. Terlihat si abang agak ragu-ragu tetapi dia langsung turun dan mencari info dari orang sekitar. Saya dan teman seperjalanan tersenyum. Kenapa? Karena ternyata kami diantar ke sebuah Gereja. Setelah berbahas tarzan sejenak, akhirnya si abang kembali menjalankan Tuktuk memasuki beberapa jalan tikus, sampai akhirnya menemukan Masjid yang dimaksud. Leganya, karena sholat Jumat baru saja dimulai…

Masjid Khon Kaen
Masjid Khon Kaen

Selesai sholat, melihat ada beberapa “muka baru”, maka kami langsung ditanya berasal dari mana, dengan sangat ramah dan penuh persahabatan (dimanapun muslim adalah keluarga bukan?). Kami kemudian “dipaksa” mengikuti perhelatan makan siang bersama. Di sebuah ruang tanpa dinding yang terdiri dari beberapa meja terhidang nasi kuning dengan lauk daging. Sambil menyantap makanan yang (masya Allah) nikmat sekali, kami banyak berbincang dengan teman baru yang berasal dari berbagai daerah dan negara. Ada yang berasal dari Thailand Selatan, ada juga yang berasal dari Banglades dan juga dari Pakistan. Rupanya sudah menjadi kebiasaan mereka untuk berkumpul saat Jumat, dan makanan adalah hasil kelola komunitas muslim itu.

Suasana di kantin
Suasana di kantin

Selain kota perdagangan, Khon Kaen juga dikenal sebagai kota pendidikan, karena disini terdapat dua buah Universitas besar untuk wilayah region Isaan, yaitu Khon Kaen University dan Rajamangala University, dengan jumlah mahasiswa sekitar 20.000 orang. Di dalam kompleks kampus yang nyaman karena banyak ditumbuhi pepohonan dengan pengaturan bangunan dan fasum dan fasol yang apik terdapat juga beberapa pusat penelitian dan pengembangan kawasan seperti Mekong Institute (MI). MI merupakan organisasi antarpemerintah yang melibatkan Thailand, Laos, Myanmar, Kamboja, Vietnam, dan China (Provinsi Yunnan dan Guangxi).

Mahasiswa sedang sibuk mengisi KRS
Mahasiswa sedang sibuk mengisi KRS

Dalam beberapa kesempatan, saya merekam film dengan kamera dijital berupa kegiatan di jalan kota ini. Rekaman direkam dari dalam bis dan juga dari Tuktuk. Sila lihat berikut ini:

Beberapa taut menarik:

Banyak hal lain yang menarik, akan ditulis pada kesempatan berikutnya, yaitu tentang “kehidupan malam” di Khon Kaen…
)

Posted from Khon Kaen, Khon Kaen, Thailand.