Tag Archives: The Prince’s Rainforests Project

Bertamu ke Rumah Pangeran

Clarence House (Wikipedia)
Clarence House (Wikipedia)

Rumah Pangeran itu mempunyai nama, dan namanya adalah Clarence House.

Ini adalah cerita saat mana memenuhi undangan dari The Prince’s Rainforest Project, pada bulan Oktober tahun 2008 lalu.

Pagi itu, Senin 20 Oktober 2008, setelah mandi pagi dan masih kacau dengan waktu akibat perbedaan sekitar 7 jam dengan waktu di kampung halaman, bersiaplah segera untuk keluar kamar dan menuju lobi Hotel Rubens, hotel berbintang empat yang cukup strategis di tengah kota London dan terletak berseberangan dengan kandang kuda istana Buckingham.

Pakai jas biru dongker oleh-oleh dari tim TISDA saat ke Amerika pertengahan 90-an, bersepatu sotik hitam Sin Lie Seng yang merupakan sepatu yang dipakai saat pernikahan (sayang sekali toko Sin Lie Seng di Pasar Baru Jakarta terbakar belum lama ini), dan berdasi rapi, duh jarang banget pake “seragam” kaya gini…

Di lobi telah menunggu banyak rekan yang mempunyai satu tujuan, yaitu menghadiri pertemuan yang bertajuk Remote sensing options for deforestation and degradation monitoring. Masing-masing peserta, yang sebagian sudah saling mengenal, siap dengan hal-hal yang telah diberitahukan “harus dibawa” yaitu undangan dan tanda pengenal diri (Passport). Sekitar jam 8:30 segera kami berangkat menuju lokasi pertemuan, dengan catatan: semua peserta yang berasal dari hotel ini belum pernah datang ke lokasi pertemuan, yaitu di St. James’s Palace, komplek perumahan keluarga istana Kerajaan Inggris.

Perjalanan melewati Buckingham Palace Road, lalu melintasi Victoria Memorial di depan Buckingham Palace, dan terus memutar ke arah Bridgewater House. Ada jalan yang lebih dekat ke Clarence House, tetapi tidak untuk umum, dan rombongan saya ternyata ternasuk kategori “umum” yang harus memutar dulu. Setelah melewati gang di sebelah Bridgewater House, kami berjejer kebelakang sambil lencang depan kemudian istirahat di tempat untuk diperiksa satu persatu oleh petugas keamanan istana. Pemeriksaan ini didampingi oleh panitia penyelenggara dan Nama pada daftar harus sama dengan nama pada Passport. Foto pun dilihat dengan teliti kemudian wajah dipindai oleh mata sang petugas yang badannya guede banget itu.

Lolos pemeriksaan, yang tanpa detektor logam, kami diarahkan menuju Clarence House. Satu persatu kami masuk disambut ramah oleh satu dua panitia, dan disatukan di ruang tamu yang sudah disiapkan penuh dengan buah-buahan daerah tropis kualitas top. Sebelum tuan rumah memulai acara, kami dipersilakan menghangatkan badan dulu dengan berbagai minuman yang memang panas semua, ada kopi panas dan teh panas. Menjadi satu-satunya orang dari Indonesia di tengah sekitar 50an ahli remote sensing dunia… jadi “terpaksa” kuminggris alias berbahasa Inggris-lah… lebih-lebih ternyata beberapa dari mereka adalah “teman lama”. Ada yang dari SPOT Image Perancis, ada yang dari GOFC-GOLD (Global Observation of Forest Cover and Land Cover Dynamics), Michigan State University Amerika, Leeds University Inggris, FAO, dan ada juga yang dari beberapa badan riset dunia yang sudah mengenal Indonesia dengan baik.

Pertemuan kemudian berlangsung menarik sekali, dan bla bla bla… capek. Dua hari yang melelahkan dimulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore dengan hanya jeda coffee break dan makan siang.

Selain pertemuan yang sangat produktif itu, ada banyak hal lain yang asik juga.

Ruang Utama saat memasuki Clarence House
Ruang Utama saat memasuki Clarence House

Lokasi pertemuan, Clarence House, ternyata adalah rumah kediaman Prince Charles (Prince of Wales), putera mahkota Kerajaan Inggris. Rumah ini dulu adalah rumah ibu suri, dan setelah wafat ditempati Pangeran Charles dan kedua putranya, Prince William dan Prince Harry. Saat berada di London maka mereka selalu menempati rumah ini. Sayang sekali saat pertemuan ini mereka sedang tidak berada di London.

Clarence House rumah yang terlihat sangat sederhana. Saat masuk dari arah pintu utama langsung ke ruang besar seperti lorong dengan hiasan dominan adalah lukisan dinding yang besar-besar. Semua perabot yang terlihat adalah perabot klasik, dan tidak terlihat “kecanggihan” jaman modern masuk di ruang ini.

Dari ruang utama ini ada beberapa ruang atau kamar yang dikhususkan untuk keluarga (tamu gak boleh ngintip). Untuk menuju ke ruang makan, ada lorong yang relatif sempit dengan lebar kurang dari 2 meter, yang juga dipenuhi dengan berbagai aksesoris. Bentuk dominan hiasan adalah kuda. Jadi selain lukisan kuda yang hampir memenuhi dinding sepanjang lorong, juga terdapat beberapa hiasan di atas bufet dengan obyek utama kuda. Kuda rupanya adalah hewan kesukaan dan kesayangan ibu suri. Dan setelah mangkatnya ibu suri, semua pernik yang ada tetap dipertahankan di lorong tersebut.

Ruang makan agak berbeda, disana terdapat beberapa lukisan juga, yang merupakan hasil lukis Pangeran Charles sendiri. Dan obyeknya bukanlah kuda. Sebagian lukisan berlatar warna putih. Sangat berbeda dengan berbagai lukisan di ruang utama tadi. Dari ruang makan terdapat banyak jendela besar ke arah taman yang berbatasan dengan The Mall, yaitu jalan utama dari Buckingham Palace ke Trafalgar Square.

Menjadi salah satu tamu di rumah Pangeran Charles, walau sang tuan rumah sedang tidak di rumah, menjadi pengalaman tersendiri yang menarik. Karena rumah ini tidak untuk wisata sehingga semakin terbataslah yang pernah masuk ke gedung bercat putih ini. Tetapi walau merasa istimewa, ada juga rasa yang kurang nyaman, karena setelah masuk tidak diperbolehkan keluar sampai acara selesai, karena alasan keamanan. Artinya sejak jam 9 pagi hingga jam 5 sore harus terus berada di dalam ruang. Sekalipun beberapa peserta minta ijin keluar untuk merokok, tetap tidak diperbolehkan… hehehe…

Satu hal yang “disayangkan” ialah tidak diperbolehkannya kamera beraksi di dalam rumah ini. Jadi semua yang dilihat hanya bisa direkam dalam ingatan. Mau curi-curi kesempatan motret? Bisa aja, tapi dengan risiko sangat tinggi, karena kamera pengawas tentunya ada dimana-mana… Foto-foto yang ada dihalaman web ini adalah dari berbagai foto di wikipedia.

Hari pertama ternyata harus diakhiri dengan rasa sakit. Yaitu sakit di telapak kaki karena memang tidak terbiasa pakai sepatu sotik yang “maha” keras itu. Akibatnya adalah perjalanan 20 menit dari Clarence House menuju hotel dilakukan dengan sedikit terpincang… (agak ditahan, sedikit jaim). Hal ini memberi pelajaran dimana hari kedua seragam yang dipakai adalah: (tanpa mengurangi rasa hormat pada tuan rumah) masih setia pakai jas biru dongker, dasi tidak dipakai lagi karena suasana sudah lebih santai, dan sepatu sotik ditinggalkan… pakai sepatu kets…

Daripada daripada, kan lebih baik lebih baik…

; )

*/ peta lokasi di Google Maps sila klik disini.
*/ foto-foto saat di London dapat dilihat dengan klik disini.

Posted from London, England, United Kingdom.

Hijrah ke London

Dikejar fajar
Dikejar fajar

Meminjam judul salah satu karya the Changcuters dalam album Mencoba Sukses Kembali, Hijrah ke London, cerita Kondangan di Perbatasan Dunia dilanjutkan. Ini karena cuplikan lagu tersebut disinggung oleh beberapa rekan dalam merespon di berbagai kesempatan terkait acara kondangan ini, baik di blog maupun di plurk

Boeing 747-400 dengan kode penerbangan MH002 yang tertunda keberangkatannya dari KLIA segera mengudara. Perjalanan berdurasi sekitar 13 jam pun dimulai. Kali ini terasa layanan “antarbangsa” yang (memang seharusnya) disuguhkan oleh awak kabin. Fasilitas pesawat juga ok. Tiap penumpang dapat menikmati layar kecil di depannya, yang berisi belasan film (dan juga games) dimana masing-masing film rerata mempunyai 4 bahasa yang berbeda disertai subtitle bahasa arab.

Yang menarik salah satunya adalah Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (sila lihat situsnya). Film produksi Lucas FIlm ini penuh dengan adegan mengasyikkan dari Harrison Ford sebagai Indiana Jones yang bertualang (dan bertemu) dengan anak dan istrinya di hutan Amazon…

Berbagai hidangan nikzat berkali-kali mampir sebelum akhirnya semua lampu dipadamkan untuk menggiring penumpang segera tidur. Penerbangan kali ini seolah melintas malam sekaligus dikejar fajar. Dari monitor lokasi terlihat bahwa saat pesawat mendekati LHR (bandara Heathrow, London) maka garis fajar pun tiba menyusul dari arah buritan pesawat.

Fajar menjelang
Fajar menjelang

Boeing berputar sejenak beberapa kali di atas London yang penghuninya mungkin masih terlelap. Dari jendela terlihat keindahan London dengan gemerlap lampu kotanya. Dan saat posisi pesawat berputar dari arah utara ke selatan, terlihat pemandangan yang luar biasa.

Kerlip lampu kota London, sungai Thames yang sudah terlihat semakin jelas, dibarengi dengan warna kemunculan fajar di horison. Subhanallah indahnya bumi Mu…

Boeing akhirnya mendarat di Heathrow pada jam 7:15 waktu setempat. Waktu London saat itu berbeda 6 jam lebih lambat dibandingkan dengan WIB. Suhu setempat adalah 9 derajat Celcius. Penumpang semua terlihat letih, walaupun sekitar 13 jam duduk, makan, makan, makan dan nonton film serta tidur. Tetep aja gak senyaman di rumah sendiri… hehe…

Dari garbarata, yang menghubungkan pesawat dengan bangunan bandara, segera menuju antrian imigrasi. Sambil mengisi “landing card”, maka antrilah di barisan yang melingkar hingga sepuluh lapis. Untunglah tidak terlihat ada pendatang yang bermasalah, sehingga antrian segera berlalu dengan relatif cepat. Dari sekian petugas (lebih dari 10 loket pemeriksaan imigrasi) terdapat juga beberapa petugas wanita dan ada yang berjilbab. Saat di depan petugas imigrasi, hanya ada satu pertanyaan yang dilontarkan: apa tujuan anda ke London. Dan cukup dijawab dengan singkat: workshop. Bereslah urusan…

Berikutnya adalah menemukan penjemput di pintu keluar. Charlotte sang panitia, melalui email, telah memberi tahu apa yang harus dilakukan setelah dari imigrasi, yaitu menuju pintu keluar dan temukan penjemput yang membawa nama, tertulis di kertas. Saat keluar pintu, wow, buanyak banget penjemput dengan nama di kertas, mungkin puluhan. Mereka semua berjejer rapi seperti berbaris, sehingga penumpang (yang dijemput) secara otomatis mencari sesuai dengan barisan mereka. Dibutuhkan waktu dua kali keliling sebelum menemukan penjemput dengan nama saya… wew…

Dasbor Prius
Dasbor Prius

Si penjemput saya adalah supir taksi sewaan. Segera ia ambil alih bawaan koper (saat itu hanya bawa satu koper sedang dan satu tas ransel gendong sedang) dan mengarahkan langkah menuju tempat parkir di lantai 3. Sesaat sebelum keluar ruang bandara pak supir antri sejenak di tempat pembayaran parkir otomatis, baru kemudian menuju ke mobil yang diparkir. Udara luar segera bersentuhan dengan kulit manusia dari daerah tropis. Duingine reeek…

Mobil taksi yang digunakan untuk menjemput ok juga. Mobil ini bertenaga hybrid bernama Prius dengan nomor polisi LR06 ACJ. Gile, canggih mobilnya… (kalo gak percaya sila klik disini). Saat berhenti maka mobil memakai tenaga batere, dan saat bergerak memakai tenaga mesin biasa. Pada dasbor terlihat panel yang menggambarkan kondisi distribusi tenaga saat ini.

Keluar dari gedung parkir, segera masuk lorong agak panjang. Lorong ini adalah jalan keluar dari bandara Heathrow yang melewati kolong salah satu landas pacu bandara. Setelah itu mulailah memasuki jalan-jalan panjang menuju pusat kota.

Sang supir agak terlihat songong, dengan badan yang mirip Rafael Benitez (manajer dan pelatih Liverpool), tidak bersuara apapun. Asik dengan PDA yang terletak di dasbor kanan dan terkoneksi dengan GPS, yang menunjukkan jalur jalan yang harus dilalui. Masuk London pertama dalam hidup, jika diawali dengan “kesunyian” maka tidaklah elok. Maka segera ambil inisiatif pembicaraan.

Pertanyaan pertama adalah: “Pir, apakah anda suka sepakbola..?” (tentunya dalam bahasa setempat). Pertanyaan sederhana ini tanpa diduga dengan segera dapat mencairkan suasana. Segeralah meluncur obrolan seputar EPL (English Primer League, ini bukan berarti Liga Utama berbahasa Inggris, ehm…). Pertandingan semalam antara Liverpool dan Wigan, yang sempat nonton bareng di KLIA, segera meluncur. Lalu berlanjut dengan membahas beberapa posisi mengejutkan, antara lain prestasi tak terduga pendatang baru EPL, Hull City yang saat itu sedang nangkring di peringkat ketiga klasemen sementara, dibawah Chelsea dan Liverpool tetapi diatas Arsenal dan Manchester United. Juga dibicarakan tentang kemenangan Inggris atas Kazakhstan dalam kualifikasi Piala Dunia 2010.

Pak supir sempat bertanya juga apakah Indonesia mempunyai kesebelasan nasional, dan bagaimana dengan prestasi dalam kualifikasi Piala Dunia. Juga apakah Indonesia mempunyai liga dan seperti apa. Pertanyaan-pertanyaan yang mudah diucapkan tetapi sulit dijawab dengan penjelasan singkat… hiks…

Hotel Rubens
Hotel Rubens

Bahasa sepakbola adalah bahasa universal, saat mana terbukti bisa mencairkan suasana, dan kemudian, pak supir menjadi tourist guide dengan menunjukkan banyak tempat menarik selama dalam perjalanan menuju hotel. Antara lain beberapa museum terkemuka (gak apal namanya), lokasi penting yang sring disebut-sebut dalam pemberitaan ataupun film, juga pertokoan termahal di London, Harolds. Perjalanan yang ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit pun berakhir di depan hotel yang telah disediakan panitia.

Hotel Rubens terletak di jalan Buckingham Palace Road nomor 39. Pak supir segera menurunkan koper dari bagasi dan mengucap selamat menikmati London. Makasih Pak. Kaki segera melangkah masuk lobi hotel sembari kedinginan. Saat itu pukul 9:15, dan segeralah check-in di petugas reception. Alhamdulillah, nama sudah tersedia pada daftar booking. Dan semua pengurusan sangat gampang dan cepat. Panitianya memang mooi…

Tidak lama kemudian datanglah beberapa tamu lagi. Wow rupanya tampang mereka sudah kenal. Do Xuan Lan (dari Vietnam), Sithong Tongmanifong (dari Laos) dan Suvit Ongsomwang (dari Thailand). Suvit adalah yang paling senior di antara kami. Dia juga pernah tinggal di Yogya, dan bahasa Indonesia pun bisa. Mereka bertiga adalah rekan lama saat kami bersama dalam kegiatan Land Use and Land Cover Changes di Asia Tenggara, yang tergabung dalam SEARRIN (South East Asia Regional Research and Information Network, sila lihat situsnya dengan klik disini). Ramailah suasana… Rupanya mereka juga datang pada saat hampir bersamaan tetapi tentunya dengan pesawat yang berbeda.

Mmm… kemudian, ditengah kegembiraan bertemu dengan teman lama, kami segera menerima berita yang kurang (kalau tidak bisa dikatakan “sangat tidak”) nyaman dari petugas hotel:

“Bapak-bapak sekalian, waktu check-in adalah pukul 2 siang. Saat ini anda tidak dapat masuk ke kamar karena sebagian masih terisi atau belum siap. Silakan menunggu di lobi atau berjalan keluar hingga waktunya tiba…”

Well well well… menunggu jam 2 berarti empat jam duduk di lobi setelah 13 jam duduk di pesawat..? Gak mungkinlah. Dan akhirnya, sebagai tamu yang baik, maka patuhlah kami menerima saran kedua dari petugas. Kami segera menitipkan koper di petugas hotel, mengambil peta lokasi sekitar pada meja penerima tamu, dan segeralah melenggang keluar hotel.

Menembus suhu luar yang sudah menghangat, saat itu sekitar 11 derajat Celsius, berangin, agak gerimis, dengan perut lapar karena belum sarapan…
)

album foto perjalanan: sila klik disini,
cerita ini masih bersambung, sila ikuti disini

Posted from London, England, United Kingdom.

Kondangan di Perbatasan Dunia

Buckingham Palace
Buckingham Palace

Kondangan, kata yang saya pahami sebagai: menghadiri undangan. Terminologi gak umum ini sangat melekat didiri saya sejak tinggal dan besar di kampung nun di seberang laut sana. Dan tulisan kali ini tentang kondangan yang lokasinya juauh banget dari kampung Ciparigi, tempat tinggal saya saat ini.

Rangkaian ini dimulai saat di kantor ada workshop bertajuk Climate Change, Carbon and Mitigation Opportunities yang disampaikan oleh teman lama, Jay Samek, dari Michigan State University, USA. Pada pertemuan tersebut Jay mengharapkan kedatangan saya pada pertemuan teknis remote sensing untuk kegiatan pengamatan hutan hujan, yang akan berlangsung di London pada bulan Oktober 2008. Saya setuju dan mengambil sikap negatif alias hanya menunggu kabar saja, karena kegiatan ini bukanlah pihak MSU (dimana Jay berada) yang mengadakan. Jadi semua terpulang pada panitia.

Pada 22 September, malam Selasa, dapat email dari Miss Charlotte, undangan untuk menghadiri pertemuan London, yang akan dilaksanakan pada 20 dan 21 Oktober 2008. Kegiatan ini dilaksanakan oleh The Prince’s Rainforest Project, semacam yayasan milik Pangeran Charles. Segera setelah memberi tahu para petinggi di kantor, untuk mendapatkan ijin tentunya, langsung balas email ke Charlotte bahwa saya bisa hadir. Dan pengurusan seru pun terjadi, terutama terkait urusan administratif karena harus dapet ijin dari Sekretariat Negara untuk pemakaian Paspor Biru. Saat itu adalah minggu terakhir sebelum cuti bersama dalam rangka lebaran. Ini menjadikan urusan lebih mendebarkan, karena siapa yang bakal masuk saat seminggu cuti lebaran..? Untunglah Senin tanggal 13 Oktober surat dari Sekneg keluar dan hari Senin itu juga langsung mengurus Visa untuk UK ke pengurusan Visa untuk UK di Gedung ABDA Lantai 22, di Jl. Sudirman Jakarta Selatan, seberang Plasa Senayan. Mengurus Visa untuk UK memang gak bisa langsung ke Kedutaan Inggris, harus melalui jasa perantara resmi. Di lokasi pendaftaran Visa, banyak isian yang harus dipenuhi dan juga pas foto. Juga ada foto biometrik dan sidik jari. Mirip mbuat passport di Imigrasi aja.

Alhamdulillah, semua pengurusan Visa lancar sekali. Waktu pengurusan yang 3-4 hari normal dapat diselesaikan dalam 2 hari saja (prosedur normal) dan Rabu sudah selesai. Hasil bisa dicek melalui internet, dan akhirnya hari Kamis siang Visa saya ambil. Dan jadwal perjalanan adalah Sabtu sore, 18 Oktober, terbang dari CGK (Bandara Soekarno-Hatta) dengan berkendara Malaysia Airways.

Cengkareng dari udara
Cengkareng dari udara

Cengkareng, 18 Oktober, dengan diantar oleh pasukan lengkap, dimulailah perjalanan seperempat lingkar dunia. Check-in dan dapat dua boarding pass, satu untuk CGK – KUL (Kuala Lumpur International Airport, KLIA) dengan nomor penerbangan MH722 dan nomor bangku 22F sisi jendela; dan satu untuk KUL – LHR (Bandara Heathrow, London) dengan nomor penerbangan MH002 juga duduk sisi jendela. Pada boarding pass pertama, tercetak Gate keberangkatan adalah D5. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan menyerahkan kartu kepergian, langsung menuju ke terminal D. Sebelum masuk ruang tunggu D5 sempet nyoba akses wifi gratis yang disediakan Lintasarta. Saat akses harus login tapi ada opsi free trial, dan bisalah surfing dan plurking. Sayangnya saat masuk D5 gak ada lagi wifi.

Saat boarding jam 18:30, segera menempati kursi 22F, sisi paling kanan sisi jendela. Pesawat Boeing 737-400 ini punya formasi lajur kursi 3-3. Dan seiring perjalanan berdurasi 2 jam dimulai, semakin terasa terbang di penerbangan domestik aja. Fasilitas biasa aja, kondisi kursi juga biasa aja, gak keliatan kelas antarbangsa. Layanan “anak kapal” (maksudnya: awak kabin) juga standar domestik. Pesawat take-off jam 19:15 WIB dan ketinggian terbang adalah 32.000 feet (sekitar 9.753 meter). Apalagi musik yang terdengar sayup adalah gamelan sunda dan juga gak ketinggalan irama melayu, semakin terasa “dari desa ke desa”, hehe…

nonton bareng
nonton bareng

Mendarat di KLIA di terminal berapa, gak tau, lupa, yang jelas harus pindah terminal untuk penerbangan internasional. Pindah terminal harus menggunakan kereta, dan untunglah petunjuk gampang terlihat jadi dengan segera bisa menuju ke terminal yang dimaksud. Pada Boarding Pass tercetak Gate C17, sehingga itulah yang dicari pertama. Gate C17 terletak di ujung dan setelah ketemu dan tanya pada petugas dengan menunjukkan Boarding Pass, mereka meng-iya-kan bahwa itu adalah Gate yang dimaksud. Merasa pasti, trus santailah sedikit, menunggu waktu keberangkatan sekitar 23:40 waktu setempat. Ada waktu sekitar 2 jam menunggu. Langsung cari tempat duduk dan coba akses wifi gratis. Ada wifi gratis tapi koneksi gagal terus. Entah kenapa, gagal dan gagal terus, padahal sudah janjian bakal plurking bersama pasukan di Bogor. Sayang sekali gagal. Sambil nunggu sempet nonton bareng pertandingan EPL (English Premiere League) antara Liverpool vs Wigan Athletic.

Saat waktu masuk ruang tunggu tiba, segera antri di Gate C17. Saat itu pada monitor terlihat bahwa Gate C17 untuk jurusan Amsterdam (ups, kok Amsterdam..?). Karena sudah yakin dengan jawaban petugas sebelumnya mengenai Gate ini maka tenang saja. Tapi setelah berhasil masuk ruangan tunggu, jadi keder juga, dan balik tanya lagi. Ternyata sudah ada perubahan Gate untuk tujuan London. Gate diubah ke Gate C24. Kacau beliau jadinya…

Segera ambil potongan Boarding Pass dan ambil langkah seribu ke Gate C24, Gate yang letaknya berlawanan tempat dan juga diujung… Dengan bantuan pemercepat langkah plus lari maka sampailah di Gate C24 pas antrian akhir.

Ini kejadian kedua yang pernah dialami, setelah yang pertama sempat dialami saat perjalanan Amsterdam – Cengkareng via Frankfurt, dan terjadi di bandara Frankfurt pada tahun 2003. Gate yang tercantum pada Boarding Pass dan juga pada pengumuman gak sama dengan kenyataan.

Pesan moral: jangan pernah percaya dengan hasil cetakan di Boarding Pass dan juga jawaban petugas bandara, sebaiknya sesaat setelah masuk pesawat jangan lupa tanyakan pilot apakah pesawat yang anda naiki sesuai dengan tujuan anda… (ha..!)

Penerbangan dengan kode MH002 ini menggunakan Boeing 747-400, dengan formasi lajur kursi 3-4-3, bertingkat 2. Di penerbangan ini kebagian kursi nomor 32A bagian kiri dan sisi jendela. Sesaat setelah semua penumpang duduk dengan rapi, ada pengumuman dari kapten bahwa penebangan ditunda satu jam… hiks…

Dan semua penumpang (harus) menerima kondisi nongkrong sejam di dalam pesawat…
)

album foto perjalanan: sila klik disini,
bersambung, sila ikuti disini

Posted from London, England, United Kingdom.